Gawat Hama Perusak NKRI! Wahabi Semakin Populer di Media Sosial

Wahabi

Khilafah.id – Belakangan, platform X cukup ramai dengan sebuah cuitan seorang netizen ketika berkomentar soal tahlil. Menurutnya, keluarga yang sedang berduka, karena itu sedang dirasakan olehnya yang dalam kondisi sedih, sangat ironis ketika masih harus mengupas bawang untuk menyiapkan masakan untuk acara tahlil.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam cuitan tersebut, sebab itu curhatan yang dialaminya. Namun karena ramainya cuitan tersebut, ada banyak sekali komentar dari netizen dengan berbagai perspektif. Menariknya, ketika ada seorang netizen yang berkomentar bahwa dalam Islam tahlil tidak wajib, menciptakan diskusi yang cukup luas.

Komentar tersebut mengakibatkan banyak sekali spekulasi di media sosial, termasuk diskusi tentang Islam tidak memberatkan umatnya. Namun hanya karena tradisi berkembang pada suatu masyarakat, maka masyarakat beranggapan bahwa hal itu wajib.

Persoalan tahlil, sebenarnya kalau kita pahami pada dasarnya tidak ada anjurannya dalam Islam. Meski begitu, Islam tidak melarang adanya tahlil karena ritual yang dilakukan tidak bertentangan dengan Islam. Dalam tahlil, terdapat kegiatan mendoakan kepada orang yang sudah meninggal.

Namun, tradisi tersebut tidak hanya sekadar berdoa semata. Akan tetapi juga terdapat sedekah makanan kepada orang yang datang tahlil. Dalam konteks tersebut, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan secara ekonomi untuk menyiapkan makanan.

Namun, karena tradisi tahlil sudah mendarah-daging pada sebagian kelompok masyarakat, tidak heran curhatan salah satu netizen yang ramai di media sosial turut dirasakan oleh banyak orang.

Menanggapi hal itu, sebenarnya, dalam konteks personal, kita cukup mempraktikkan bahwa, apabila merasa tahlil tidak ada dalam ajaran Islam atau memiliki kesulitan secara ekonomi, maka cukup memilih untuk tidak melaksanakan tahlil apabila ada salah satu dari keluarga/diri kita sendiri yang meninggal.

Akan tetapi, lagi-lagi pilihan ini tidak bisa cukup tegas diambil oleh kita, sebagai orang yang tinggal di tengah-tengah masyarakat. Utamanya masyarakat perkampungan, yang memiliki nilai kebersamaan cukup tinggi dibandingkan dengan masyarakat perkotaan.

Sebagai makhluk sosial yang memiliki ikatan erat dengan budaya, tradisi ataupun dengan masyarakat, kegelisahan semacam ini pasti dirasakan oleh sebagian masyarakat. Oleh karena itu, maka tidak heran ketika ustaz-ustaz Wahabi hadir di media sosial memberikan fatwa bahwa tahlil adalah bid’ah dengan sangat tegas, memberikan jawaban bagi sebagian masyarakat yang memiliki kegelisahan seperti di atas.

Kegelisahan tersebut juga menjadi alasan mengapa belakangan ini, ceramah ustaz-ustaz Wahabi semakin banyak diminati oleh masyarakat, karena sebagian kelompok masyarakat merasa direpotkan dengan tradisi-tradisi keagamaan yang sudah ada. Artinya, mindset membumikan tradisi yang berkembang di suatu wilayah, sudah mulai tergerus. Salah satu faktornya juga karena banyaknya ceramah ustaz-ustaz Wahabi yang bertebaran di media sosial.

Misalnya dalam konteks masyarakat Madura. Salah satu ceramah yang belakangan sering sekali didengar oleh penulis adalah ceramah KH. Sinwan Adra’i. Dengan durasi yang berjam-jam dan banyak sekali konten ceramahnya, berkali-kali kiai tersebut mengatakan bahwa tahlil adalah bid’ah dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Praktik tahlil menyimpang dari Al-Qur’an dan hadis karena tidak dianjurkan oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Berkali-kali pula dalam ceramah tersebut, menantang jamaah agar ketika ada kerabat yang meninggal tidak perlu menggelar tahlil karena tidak ada tuntunan dalam Al-Qur’an dan hadis. Artinya, penegasan dengan ketiadaan dalil (Al-Qur’an dan hadis), menjadi alasan yang lain, mengapa ceramah dari kiai-kiai Wahabi, banyak diminati oleh masyarakat.

Segala praktik/tradisi yang berkembang di masyarakat, jika tidak ada dalil maka dianggap bid’ah bahkan haram. Era baru menguatnya konservatisme, didukung oleh media sosial disertai dengan kurang menguatnya kesadaran arti pentingnya nilai/tradisi keagamaan yang selama ini berkembang di masyarakat.

Masalahnya juga terletak pada konten ceramah yang menciptakan kebencian dan merasa paling benar melaksanakan ajaran Islam karena menerapkan sesuai Al-Qur’an dan hadis. Ceramah tersebut menimbulkan kebencian terhadap kelompok yang berbeda, terutama kelompok yang senantiasa merawat tradisi ataupun budaya yang sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat.

Dengan adanya media sosial dan arus informasi keagamaan yang semakin besar, peta keislaman di Indonesia tidak bisa direpresentasikan oleh NU ataupun Muhammadiyah (sebagai organisasi besar di Indonesia). Bisa jadi, di masa yang akan datang, Wahabi adalah kelompok keagamaan yang banyak diminati oleh masyarakat karena ceramahnya yang populer di tengah-tengah masyarakat.

Ketika Wahabi telah menjadi peta keislaman yang cukup besar pada masyarakat Indonesia, tidak ada lagi pengibaran bendera atau nyanyian lagu Indonesia Raya. Tidak ada lagi perayaan maulid ataupun tahlil, sebab semuanya dianggap bid’ah dan tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadis. Na’udzubillah.

Darwiesy Syauqi, Penulis lepas.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menelaah Pancasila dalam Kungkungan Begundal Khilafah

Rab Jun 19 , 2024
Khilafah.id – Para aktivis khilafah, sampai hari ini yang masih terus hidup dan berapi-api dalam memperjuangkan ideologinya agar tegak Indonesia. Mereka memiliki banyak kontradiksi atas narasi yang sudah diperjuangkan mati-matian. Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang beberapa waktu tahun lalu sudah dibubarkan. Nyatanya, masih menjadi momok yang menakutkan dengan gerakan […]
Pancasila

You May Like