Hasan: Mantan Teroris yang Mendapat Hidayah ketika Berada di Penjara

Hasan

Khilafah.id – Radikalisme termasuk paham yang sangat membahayakan, bukan hanya kepada orang lain melainkan kepada si pelaku sendiri. Banyak pelaku radikalisme yang hilang masa depannya karena terpapar paham menyesatkan ini.

Radikalisme memiliki ragam bentuk. Mulai yang paling ringan hingga yang paling parah. Paham ini bagai penyakit. Radikalisme yang ringan berupa cara pikir yang eksklusif (tertutup) dalam melihat perbedaan.

Sedangkan, radikalisme yang paling parah berupa aksi-aksi terorisme yang membunuh banyak jiwa yang semestinya dijaga. Ada banyak warga negara Indonesia yang terpapar radikalisme sampai pada tahap parah ini. Salah satunya, Agus Martin alias Hasan.

Hasan yang sudah berusia tiga puluh delapan tahun adalah bagian dari pelaku bom di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, pada bulan Januari 2016 yang menjatuhkan puluhan korban tewas dan luka-luka. Korbannya meliputi office boy dan masyarakat umum.

Hasan pada saat kejadian sudah memiliki tiga anak. Ia tidak berpikir banyak menyangkut nama baik diri sendiri dan keluarga. Ia pada waktu itu merasa dirinya paling benar, sedangkan orang lain tidak kafir. Akibat ketertutupan ini ia nekat melakukan bom di Thamrin.

Sebelum kejadian itu, tepatnya bulan Agustus 2013 Hasan pernah ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri di Desa Tenggulun, Lamongan, karena menyuplai senjata untuk jaringan teroris di Ambon, Poso, Bekasi, dan Solo.

Kemudian, selepas kejadian aksi teror di Thamrin Hasan ditangkap lagi oleh Densus 88. Di balik jeruji besi inilah Hasan banyak memikirkan aksi radikal yang ditempuhnya. Muncul dalam benaknya, jihad tidak harus menggunakan kekerasan dan menjatuhkan banyak korban.

Jihad yang sebenarnya harus dilakukan dengan cara yang lemah lembut. Dan, inilah jihad yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. Jihad yang lemah lembut ini akan sangat mudah menggugah hati dibanding jihad yang dilakukan dengan kekerasan.

Hasan mulai mengkritik jihad kelompok teroris. Salah satunya, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Jihad dalam jalan kekerasan tidak lagi sejalan dengan jihad yang dimaksud Hasan. Jihad yang diinginkan diupayakan menebar rahmat bagi semesta alam.

Sebagai penutup, kisah Hasan merupakan bagian dari beberapa perjalanan hijrah mantan napi teroris. Mereka mulanya dibutakan dengan paham menyesatkan dan berakhir dengan kesadaran karena mendapatkan hidayah.

Khalilullah, Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ramadan: Bulan Jihad Da’i Mempersatukan Umat Beragama

Sab Apr 9 , 2022
Khilafah.id – Sudah hari ketiga kita menjalani ibadah puasa di bulan yang mulia, Ramadan. Dalam konteks Indonesia, bulan Ramadan bisa disebut sebagai bulan para da’i. Mengapa? Karena di bulan ini para da’i kerap diundang dan sibuk mengisi kuliah tujuh menit (kultum) di berbagai tempat. Meski demikian, perlu dicatat bahwa esensi […]
ramadan