Khalifah-Khalifahan Jumlahnya Banyak (Unlimited)

khalifah

Khilafah.id – Dalam upayanya melegalisasi khilafah-khilafahan pasca khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, para penggila khilafah berpendapat, bahwa, jika khilafah 30 tahun dengan 4 orang khalifah, maka bertentangan dengan hadis yang mengatakan khalifah jumlahnya banyak. Menurut mereka 4 orang belum terbilang banyak.

Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan ada pertentangan antar hadis, yaitu hadis tentang khilafah 30 tahun dengan hadis

( كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ )

Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap Nabi meninggal maka akan digantikan oleh Nabi yang lain sesudahnya. Dan sungguh, tidak akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah yang berjumlah banyak.” (HR. Muslim).

Menurut Ibnu Taimiyah, hadis ini dalil bagi adanya khalifah yang jumlahnya banyak selain khulafaur rasyidin. Pada masa khalifah yang banyak ini, ada beberapa khalifah yang dibai’at pada kurun yang sama secara pararel di tempat yang berbeda-beda. Ini yang membedakannya dengan khulafaur rasyidin. Hal ini terkait  hadis Beliau saw, penuhilah baiat siapa yang paling pertama diangkat (Majmû’ Al-Fatâwâ (KSA: Majma’ Al-Malik Fahd) 35/20).

Hadis di atas adalah satu kesatuan narasi, dari kepemimpinan para Nabi Bani Israil sampai para khalifah yang banyak. Kepemimpinan yang dimaksud adalah kepengurusan, bimbingan dan pemberi petunjuk.

Jika kita baca al-Quran, Nabi Bani Israil yang menjadi pemimpin politik formal sebagai kepala negara dan pemerintahan, adalah Nabi Daud as dan Sulaiman as. Adapun Nabi Yusuf as menjadi aparat pembantu kepala negara.

Nabi Musa as dan Nabi Isa as yang membawa kitab suci bagi Bani Israil, menjadi pemimpin informal yang berada di pihak oposisi. Kedua Nabi as ini bukan pemimpin negara dan pemerintahan.

Pada masa Nabi-nabi Bani Israil, terdapat beberapa Nabi yang hidup di satu kurun. Ada yang saling bertemu. Misalnya Nabi Ya’kub as dan Nabi Yusuf as. Nabi Musa as, Harun dan Syuaib as. Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman. Nabi Ilyas as dan Ilyasa as. Nabi Zakaris as, Yahya as dan Isa as.

Dari para Nabi Bani Israil diperoleh dua simpulan,

1) Bahwa mayoritas dari mereka bukan pemimpin politik struktural sebagai  penguasa yang menduduki jabatan kepala negara dan pemerintahan. Mayoritas dari mereka adalah pemimpin-pemimpin non formal/kultural.

2) Bahwa, ada beberapa Nabi as yang hidup bersama-sama memimpin umat di satu zaman secara bersama-sama maupun pararel.

Realitas para Nabi Bani Israil tadi, membantah persepsi para penggila khilafah, bahwa, makna khalifah yang jumlahnya

banyak, harus berwujud pemimpin politik yang menjabat sebagai kepala negara dan pemerintahan dalam sistem tertentu. Juga membantah persepsi mereka, bahwa, wajib ada satu khalifah yang mengurus umat dalam satu kurun.

Hadis tentang khilafah 30 tahun dan hadis tentang khalifah yang banyak, tidak bertentangan jika dipahami secara benar. Khalifah dalam artian seseorang yang mengurus umat, secara formal dan non formal, terus menerus ada sampai detik ini. Mereka jumlahnya banyak, tersebar di seluruh dunia.

Mereka akan selalu ada, dan tidak berhenti keberadaannya setelah runtuhnya Turki Usmani 1924. Jika seandainya khalifah yang banyak jumlahnya tadi berhenti karena Turki Usmani runtuh, tentu menyalahi hadis di atas.

Khalifah yang banyak itu, khalifah fungsional, bukan khalifah spiritual dan politik yang ideal dan sempurna layaknya khulafaur rasyidin. Di zaman sekarang, mereka berwujud ulama, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dll.

Dari perspektif hadis tentang khulafaur rasyidin, jika mereka hendak kita sebut khalifah, maka, mereka adalah khalifah-khalifahan yang jumlahnya banyak, bahkan unlimited.

Ayik Heriansyah, Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Perspektif Lain Mengenai Pendirian Negara Islam Indonesia

Sel Jan 25 , 2022
Khilafah.id – Selama ini, kita mengenal gerakan DI/TII yang melakukan pendirian Negara Islam Indonesia (NII) sebagai gerakan pemberontakan atau bughat yang mengancam kedaulatan Republik Indonesia (RI). Mereka melancarkan aksinya di berbagai tempat, seperti Jawa Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Usaha pemerintah RI untuk memadamkan “pemberontakan” ini seakan sering mengalami kebuntuan. […]
Negara Islam Indonesia