Lakum Dinukum Wa Liyadin Dalil Bersikap Eksklusif?

Lakum Dinukum

Khilafah.id – Menarik sekali kritik salah satu pejabat teras MUI, Amirsyah Tambunan ketika mengomentari salah satu poin ciri penceramah radikal yang disampaikan oleh BNPT terkait : mereka yang memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungan ataupun perubahan serta intoleransi terhadap perbedaan maupun keragaman. Menanggapi ini Amirsyah lalu mengatakan “Secara proporsional sikap ini tidak ada masalah terkait ibadah, umat Islam memang eksklusif, karena Islam tidak mau mencampuri ibadah agama lain (lakum dinukum wa liyadin)”.

Saya menjadi tergelitik dalil lakum dinukum wa liyadin yang disampaikan untuk melawan ciri sikap eksklusif tergadap lingkungan dan intoleran terhadap perbedaan. Memang yang dimaksudkannya bukan ekslusif, tetapi tidak ada kompromi persoalan keyakinan dan ibadah. Tidak campur baur antara keyakinan dan peribadatan. Namun, tidak tepat jika menjadikan dalil ini untuk bersikap ekslusif atau menegaskan Islam memang ekslusif. Khawatir ini menjadi pembenaran sikap ekslusif terhadap lingkungan dan intoleran terhadap perbedaan sebagaimana dimaksudkan BNPT.

Secara tegas disampaikan bahwa Islam tidak menganjurkan sikap eksklusif. Nabi mencontohkan pergaulan lintas agama dalam interaksi sosial. Bahkan Nabi pun dalam hal keagamaan sering berdialog dengan para pendeta dan rabi di Madinah. Menjadikan dalil lakum dinukum wa liyadin untuk bersikap ekslusif sebagaimana kriteria BNPT jelas sangat salah. Namun, jika dimaksudkan dalil ini tidak ada kompromi dan campur baur dalam keyakinan dan ibadah itu baru benar.

Sebagaimana asbabun nuzul ayat ini Quraish Shihab dalam tafsirnya menceritakan ada beberapa kaum musyrikin dari Mekkah seperti al-Walid Ibn al-Mughirah, Aswad Ibn Abdul Muthalib, Umayah Ibn Khalaf, mendatangi nabi untuk berengosiasi perihal kepercayaan. Mereka mengusulkan agar Nabi Muhammad beserta pengikutnya menyembah apa yang mereka sembah begitu pula sebaliknya. Nabi menolak kompromi dan negosiasi itu. Dalam hal keyakinan dan ibadah tidak ada kompromi dan campur baur.

Barangkali ini yang dimaksudkan oleh Amirsyah tetapi tidak tepat jika menggunakan kata ekslusif, apalagi istilah ekslusif yang digunakan oleh BNPT dalam mengurai ciri tersebut. Sikap ekslusif cenderung menarik diri dari pergaulan sosial yang memandang perbedaan sebagai ancaman. Ekslusif lahir dari pandangan intoleran.

Bagaimana pun toleransi dan sikap terbuka terhadap perbedaan adalah anjuran Islam. Dalil lakum dinukum wa liyadin sebagai pegangan untuk tidak kompromi dalam bidang keyakinan dan ibadah, bukan dalil untuk bersikap eksklusif dalam pergaulan sosial.

Bagaimana pun toleransi hidup berdampingan dengan agama lain adalah ajaran Islam sebagaimana merujuk pada ayat al-Quran Surat Al-Baqoroh:256 Dan Al-Ghosiyyah:21-22. Begitu pula toleransi dalam bermasyarakat juga merupakan ajaran Islam berlandaskan ayat al-Quran Surat Al-Maidah:2 Dan Al-Mumtahanah:8-9.

Jika menjadikan dalil lakum dinukum wa liyadin untuk membenarkan sikap eksklusif tentu salah. Namun, jadikan dalil ini untuk tidak ada kompromi, negosiasi dan campur baur dalam akidah dan ibadah. Itupun para ulama menjadikan dalil ini sebagai dalil toleransi sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dikhawatirkan dalil ini justru dijadikan dalil masyarakat untuk bersikap ekslusif dalam pergaulan sosial.

Pesan pribadi saya yang kurang berilmu untuk kita semua jangan asal menyomot dalil dalam konteks yang tidak tepat untuk berargumen berbeda dengan orang lain. Jika merasa dalil itu sebagai argument yang tidak tepat untuk menghantam orang lain jangan dipaksakan untuk digunakan. Nasihat yang baik juga dilakukan dengan argumen yang baik.

Fadel Mahmud, Ph.D, Doktoral IIUM Malaysia.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Yusuf Adirima: Mantan Teroris yang Kini Menjadi Pebisnis Sukses

Sel Mar 22 , 2022
Khilafah.id – Terorisme bukanlah ideologi yang baru-baru ini muncul di permukaan. Sudah lama, semenjak Nabi Muhammad masih hidup biang terorisme terlihat dari sikap egois Dzul Khuwaisirah yang menyesatkan Nabi. Kemudian, paham ini berkembang dan membentuk sebuah kelompok Khawarij (Oposisi) pada pemerintahan Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib. Akhir-akhir ini terorisme membentuk […]
Yusuf Adirima