Mun’im Sirry: Kurang Bergaul dengan Non-Muslim Memicu Radikalisme

Mun'im

Khilafah.id – Assistant Professor of Theology Universtiy of Notre Dame, Mun’im Sirry, mengatakan perlu berhati-hati dalam memahami fenomena radikalisme, sebab karakter radikalisme sangat beragam.

Hal itu dia sampaikan saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk “International Talks: Pendidikan dalam Bayang-bayang Radikalisme” yang digelar UPT Pengembangan Kepribadian Mahasiswa Universitas Brawijaya (PKM UB) melalui Center for Character and Diversity Studies (CCDS) Universitas Brawijaya.

Bahkan, kata Mun’im, saking beragamnya kita tidak akan mungkin mampu mendefinisikan istilah radikalisme atau radikal secara tuntas. Dia mengatakan sikap radikal dalam fenomenal riil sehari-hari juga muncul karena faktor ketidaktahuan yang disebabkan minimnya interaksi dengan orang lain yang memiliki identitas berbeda.

“Meskipun Indonesia dikenal dengan negara yang plural, banyak yang tidak pernah bertemu atau berteman dengan yang berbeda keyakinan. Ketidaktahuan kita adalah sumber kecurigaan,” kata Mun’im dikutip dari laman prasetya.ub.ac.id, Selasa, 18 Juni 2024.

Dia menuturkan semakin kita tertutup, kecurigaan akan semakin besar. Sedangkan, orang yang semakin sering berinteraksi dengan orang yang berbeda, rasa toleran atau keterbukaannya semakin tinggi.

“Di sinilah interaksi itu penting. Kecurigaan itu tidak berkembang ketika kita tumbuh berinteraksi,” ujar dia.

Mun’im juga menyinggung tulisannya di buku Pendidikan dan Radikalisme: Data dan Teori Memahami Intoleransi Beragama di Indonesia. Dalam buku itu, dia mengatakan tidak memperbolehkan umat muslim mengucapkan selamat Natal termasuk perbuatan intoleran.

Menurutnya, ada pandangan di kalangan muslim bahwa toleransi terkait akidah adalah haram. Mengucapkan Natal dianggap bagian dari mengafirmasi akidah Kristen yang oleh sebagian orang Islam lekat dengan syirik.

Padahal, kata Mun’im, Natal bukan hal penting dari teologi Kristen. “Yesus itu tidak lahir pada 25 Desember namun bulan Maret, sehingga Natal bukan bagian dari akidah Kristen. Orang-orang itu tidak paham apa yang menjadi akidahnya agama lain akibat ketidaktahuan mereka,” kata Mun’im.

Mun’im mengatakan buku yang ia tulis merupakan upaya untuk menghadirkan diskursus teoritik mengenai fenomena radikalisme dan intoleransi di sekolah tingkat menengah atas dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Hal itu karena banyak data yang tersedia terkait radikalisme di Indonesia.

Namun, sedikit sekali akademisi Tanah Air yang mampu memaparkan dengan kerangka konseptual yang memadai. “Patut disayangkan banyak hal baru di Indonesia yang orang-orang Barat perlu tahu seperti soal radikalisme, namun hasil penelitian yang bersifat lokal itu hanya bisa dibaca di Indonesia, tidak diletakkan dalam kerangka yang lebih luas,” kata Mun’im.

***

Mun’im Sirry, seorang pemikir Muslim progresif, dalam beberapa kesempatan menyoroti bagaimana kurangnya interaksi dengan non-Muslim dapat memicu radikalisme dalam masyarakat Muslim. Pernyataan ini, meskipun tampak sederhana, mengandung implikasi mendalam tentang dinamika sosial, keagamaan, dan bagaimana kita memahami serta merespons ancaman ekstremisme. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, pandangan Mun’im Sirry ini menjadi sangat relevan dan layak untuk dianalisis lebih lanjut.

Perspektif Mun’im Sirry tentang Radikalisme

Mun’im Sirry berpendapat bahwa kurangnya interaksi dengan non-Muslim bisa menjadi salah satu penyebab utama berkembangnya radikalisme di kalangan umat Islam. Menurutnya, isolasi sosial dari kelompok-kelompok yang berbeda dapat menciptakan persepsi negatif dan memperkuat stereotip yang salah, yang kemudian dapat menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ekstremisme.

Kurangnya interaksi sosial dengan non-Muslim dapat membuat individu atau kelompok terjebak dalam lingkungan homogen yang hanya memperkuat pandangan mereka sendiri. Tanpa kontak langsung dengan “yang lain,” mereka mungkin lebih mudah menerima narasi eksklusif dan menyederhanakan kompleksitas hubungan antaragama. Ini bisa menciptakan lingkungan yang mendukung radikalisme, karena ketidaktahuan atau ketidakpahaman terhadap kelompok lain sering kali memicu rasa ketidakpercayaan dan kebencian.

Sebagai contoh, seorang Muslim yang tidak pernah berinteraksi dengan umat agama lain mungkin memiliki pandangan yang sangat sempit tentang mereka, yang didasarkan pada prasangka atau informasi yang salah. Ketika ini terjadi dalam skala besar, komunitas dapat terpolarisasi, memperkuat narasi “kita vs. mereka” yang sering dieksploitasi oleh kelompok radikal.

Interaksi sosial yang sehat dan dialog antaragama adalah kunci untuk memecahkan siklus isolasi ini. Ketika orang-orang dari berbagai latar belakang bertemu dan berbicara, mereka lebih mungkin memahami dan menghargai perbedaan satu sama lain. Ini tidak hanya membantu mengurangi prasangka dan stereotip, tetapi juga mempromosikan toleransi dan kerukunan sosial.

Di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang juga terdiri dari beragam agama dan etnis, pentingnya dialog antaragama menjadi sangat jelas. Sejarah menunjukkan bahwa masa-masa damai dan harmoni di Indonesia sering kali berakar pada interaksi sosial yang positif dan inklusif di antara berbagai kelompok.

Menghadapi Kaum Radikal

Kurangnya interaksi dengan non-Muslim juga dapat membuat komunitas Muslim lebih rentan terhadap narasi radikal yang mempromosikan isolasi dan kekerasan sebagai solusi untuk perbedaan sosial atau agama. Kelompok-kelompok ekstremis sering kali memanfaatkan ketidaktahuan dan ketakutan terhadap “yang lain” untuk menyebarkan ideologi mereka dan merekrut anggota baru.

Narasi radikal ini dapat dilawan dengan mempromosikan pendidikan yang menekankan nilai-nilai inklusivitas, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Ini juga berarti mendorong umat Muslim untuk lebih aktif dalam berinteraksi dengan komunitas lain, baik melalui dialog formal maupun melalui kehidupan sehari-hari.

Pendidikan memiliki peran krusial dalam mengurangi radikalisme. Kurikulum yang mencakup pemahaman lintas budaya dan agama dapat membantu anak-anak memahami dan menghargai keragaman sejak usia dini. Di sisi lain, keluarga juga memainkan peran penting dalam membentuk sikap anak-anak terhadap orang lain. Orang tua yang mendorong anak-anak mereka untuk bersahabat dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda memberikan dasar yang kuat untuk membangun masyarakat yang inklusif dan damai.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan kebijakan yang mendorong kerukunan sosial dan mengurangi isolasi komunitas. Ini termasuk mendukung program-program dialog antaragama, memperkenalkan inisiatif pendidikan yang mengajarkan toleransi, dan menghilangkan kebijakan diskriminatif yang mungkin memperburuk segregasi sosial.

Misalnya, program-program pertukaran budaya dan pendidikan yang melibatkan anak-anak dari berbagai agama dan latar belakang etnis dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik dan mengurangi prasangka. Pemerintah juga dapat memfasilitasi kegiatan komunitas yang mendorong interaksi positif di antara kelompok-kelompok yang berbeda.

Pernyataan Mun’im Sirry tentang kurangnya interaksi dengan non-Muslim sebagai pemicu radikalisme membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana isolasi sosial dapat mempengaruhi pandangan dan tindakan kita. Dalam masyarakat yang semakin global dan beragam, penting untuk mendorong inklusivitas dan dialog sebagai sarana untuk mengurangi ketegangan dan mencegah ekstremisme.

Masa depan Indonesia yang damai dan harmonis bergantung pada kemampuan kita untuk membangun jembatan antara berbagai komunitas. Ini berarti tidak hanya membuka pintu untuk interaksi sosial, tetapi juga secara aktif mendorong dialog dan pemahaman lintas budaya dan agama. Dengan cara ini, kita dapat menciptakan masyarakat yang tidak hanya menolak radikalisme, tetapi juga merayakan keragaman dan perbedaan sebagai kekuatan kolektif kita.

Ahmad Fuady H, Alumni UIN Maliki Malang.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

#AllEyesOnPapua: Mari Menjaga Papua Tanpa Khilafah

Kam Jun 20 , 2024
Khilafah.id – Kasus Papua baru-baru ini kembali mencuat. Kasus ini bukan persoalan KKB, melainkan tentang kasus hutan yang akan merampas tanah milik warga Papua dan menjadi lokasi sawit perusahan ternama milik negara asing. “Kalau hutan adat hilang, mau ke mana lagi kami pergi?”, sebut warga Papua penuh kegetiran. Sudah Luka […]
papua

You May Like