Penceramah, Da’i Radikal dan Problematikanya

Da'i Radikal

Khilafah.id – Melihat situasi saat ini dengan isu Da’i radikal terdengar sangat jelas di setiap telinga masyarakat tanah air. Ancaman radikalisme yang menyasar kepada anak-anak, pemuda dengan doktrin pahala jihad. Ancaman radikalisme inilah yang sangat berbahaya karena terlihat dengan jelas melalui aksi-aksi radikalisme yang ada.

Sudah menjadi pola yang terukur dan teratur yang dijadikan sebagai alat untuk menyerang kelompok minoritas bahkan sesama mayoritas yang dianggap bertentangan dengan kelompok golongan orang-orang yang mengatasnamakan jihad adalah perbuatan yang sangat mulia menurutnya.

Kelompok-kelompok radikal yang menggunakan dalih dan dalil jihad sebagai alat untuk mempengaruhi pengikutnya agar mempunyai semangat (ghirah) melakukan tindakan radikalisme seperti bom bunuh diri, peperangan, pemberontakan kepada Negara dan seorang pemimpin. Aksi-aksi radikalisme memang sudah terorganisir dan dikendalikan oleh kelompok-kelompok atau organisasi dengan basis bersumber dari luar negeri. Kelompok radikal ini menggunakan jaringan yang sudah tersebar di beberapa Negara yang mampu mendoktrin golongan anak-anak, pemuda agar mau mengikutinya.

Pelaku radikal yang membawa agama sebagai alasan untuk berdakwah dengan mengatasnamakan jihad tentu perlu dipahami bahwa makna jihad seperti apa? Yang sesuai adalah dengan pedoman Al Quran dan Sunnah Nabi Saw serta ulama salaf dan ulama-ulama yang berpaham moderat. Karena pada dasarnya jika tidak memahami makna dan tujuan jihad maka yang timbul adalah kerusakan akal yang mengakibatkan gagal paham.

Golongan orang-orang yang mengatasnamakan jihad menganggap bahwa “jihad” adalah perbuatan mulia dengan imbalan “bidadari” dan pasti surga. Mereka menganggap dengan membela Islam—versi mereka— dirasa paling benar dan golongan lain salah ini merupakan pengertian yang keliru.

Sehingga di era modern sekarang dengan perkembangan digital, media dan beberapa alat komunikasi seringkali digunakan sebagai kendaraan untuk mendoktrin setiap orang yang belum memahami jihad secara tekstual dan kontekstual. Kemudian bahaya dari adanya doktrin inilah akan menyebabkan pertikaian antar golongan dengan dalih “jihad” atas nama agama.

Pada umumnya, pelaku-pelaku itu mendoktrin jihad melalui media ceramah. Media ceramah dan pidato di setiap kegiatan ataupun pengajian dengan tujuan untuk memahamkan jihad untuk mendapatkan kenikmatan di akhirat, serta membenci Negara termasuk pemimpin yang sah adalah misi utama dari apa yang disampaikan oleh Da’i radikal ini.

Melalui mimbar yang seharusnya diisi dengan ceramah-ceramah yang ramah, santun, dan damai, kini ketika ada seorang yang radikal tentu berubah menjadi konflik apabila tidak disikapi dengan bijak. Strategi gerakan Da’i radikal tidak langsung menyampaikan tentang pahala jihad, membenci agama lain selain agamanya sendiri, membenci negeri tempatnya tinggal serta membenci ulama dan pemerintah yang tidak sepaham dengan mereka. Pada awalnya golongan kelompok radikal membawa narasi ceramah tentang hijrah.

Kemudian setelah menerangkan tentang hijrah, para Da’i radikal ini mulai mendoktrin para remaja dengan mencontohkan pahala-pahala surga. Apabila mau bergabung untuk melakukan perbuatan jihad seperti pelibatan remaja dan anak-anak dalam aksi terorisme semakin nyata setelah adanya bom bunuh diri di gereja Surabaya yang melibatkan satu keluarga. Kondisi remaja yang masih labil menjadi faktor utama yang sangat mudah untuk dipengaruhi.

Berbicara fenomena Da’i radikal saat ini yang sedang trending, sudah seharusnya sebagai masyarakat yang cinta kepada Negara dan agama, agar bersama-sama menjaga kedamaian serta berusaha untuk semakin mencintai sesama meskipun berbeda agama, suku, dan budaya. Karena potensi Da’i radikal memang kuat sehingga mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga harus dibekali dengan pemahaman-pemahaman agama yang rahmah, moderat, tasamuh, tawasuth dan toleran.

Ciri-ciri Da’i radikal dapat terlihat dari fashion, cara berbicara, dan cara berinteraksi. Terlihat sangat jelas fashion atau busana yang dikenakan oleh kelompok radikal seperti berjenggot dan berjubah, cara berbicara dengan intonasi yang keras dan kontra dalam beropini, bahasa yang dibawakan penuh dengan arahan-arahan yang menjerumuskan kepada kebencian, interaksi dengan bahasa-bahasa yang menyudutkan pemerintah dan ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran yang dibawanya. Upaya mereka para kelompok radikal menggunakan mimbar-mimbar masjid untuk melakukan ujaran kebencian, fitnah, dan upaya-upaya yang mengarah kepada dalil tekstual tanpa melihat kontekstual yang ada.

Maka, untuk memfilter adanya penceramah-penceramah radikal di zaman modern ini harus diimbangi dengan budaya masyarakat yang mencintai agama tanpa melihat perbedaan. Selanjutnya melakukan sosialisasi tentang bahaya dan dampak yang ditimbulkan dari adanya doktrin dan ucapan penceramah radikal sehingga dengan ini setiap masyarakat agama akan bisa hidup damai berdampingan, mencintai Negara dan patuh kepada pemimpin yang sah sebagai bentuk perbuatan yang damai.

Handika Naufal Husni, Pegiat keislaman dan keindonesiaan.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PNS Teroris dan Kemelut Terorisme di Aparatur Sipil Negara

Rab Mar 23 , 2022
Khilafah.id – Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pegawai negeri sipil (PNS) berinisial TO di Perumahan Samawa Village, Kabupaten Tangerang, Banten. TO disebut bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah di Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (tirto/15/3/2022). TO adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang. Dia bagian staf analisis […]
PNS

You May Like