Perjalanan Ideologis Eks Jubir HTI Ismail Yusanto Menuju Hijrah

Ismail Yusanto

Khilafah.id – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang sudah lama dibubarkan pada pemerintahan Jokowi beberapa tahun silam. Pembubaran ini memang diakui secara legal-formal. Tapi, secara ideologis HTI sejatinya belum bubar. Eksisnya HTI sampai sekarang dapat dibuktikan dengan Ismail Yusanto yang masih mengakui dirinya sebagai jubir HTI. Semestinya, Yusanto sudah melupakan organisasi terlarang tersebut. Karena, organisasi ini dilarang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Bicara soal pelarangan HTI, tentu sudah dipertimbangkan dengan akal sehat. HTI dilarang karena ideologi yang dibangun bertentangan dengan ideologi Indonesia. Indonesia menganut ideologi majemuk dengan dasar Bhineka Tunggal Ika. Maksudnya, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan.

HTI mengampanyekan berdirinya Daulah Islamiyah (Negara Islam) dengan sistem Khilafah. Khilafah dengan tujuannya memusatkan pada satu pemimpin tidak sejalan dengan sistem demokrasi di Indonesia. Sederhananya, memaksakan sistem Khilafah bekerja dengan bebas di Indonesia akan sangat merugikan.

Indonesia dengan sistem demokrasinya bukan lantas dipahami tidak syar’i atau islami. Indonesia justru sudah islami, tanpa menyebut dirinya dengan Negara Islam. Karena, standar keislaman itu tidak sebatas dilihat di kulitnya saja, tapi dari esensinya. Indonesia sudah islami karena negara ini didirikan oleh mayoritas tokoh muslim.

Kehadiran HTI dengan membawa isu Khilafah dan Daulah Islamiyah hanyalah politis. Saya sebut begitu, karena jika kelompok HTI tidak melawan arus, maka tidak akan mendapatkan tempat atau perhatian publik. Jadi, bagi saya, itu hanyalah sesuatu yang biasa dan klasik.

Mungkin sebagian orang risih mendengar kampanye pendirian Negara Islam selalu didendangkan tiada henti. Hampir di beberapa tempat, bahkan di media sosial ditemukan banyak orang atau kelompok yang masih menyuarakan berdirinya Negara Islam dengan penuh optimis.

Maka, sebagai orang yang menolak gagasan HTI dan lebih cinta NKRI tidak perlu berkecil hati dan takut dengan isu yang dibesar-besarkan oleh HTI. Anggap isu itu sebagai tema diskusi untuk mengolah akal pikiran. Karena, pendirian Negara Islam adalah sesuatu yang mustahil terjadi.

Ismail Yusanto sampai detik ini masih membanggakan HTI yang sudah lama dibekukan oleh pemerintah. Ya, tidak masalah. Mungkin, yang paling penting Yusanto diajak diskusi di forum terbuka alis tabayun. Mungkin tabayun ini akan membuka pikiran Yusanto lebih mencintai NKRI.

Mencintai NKRI adalah harga mati. Begitu kata sebagai banyak orang Indonesia. Saya membenarkan pengakuan mereka. Terus bagaimana dengan Yusanto? Apakah dia sepemikiran dengan mayoritas orang Indonesia? Selama Yusanto masih bersikukuh dengan ideologi HTI jelas belum terbuka mata hatinya untuk mencintai Negara Indonesia.

Harapan besar saya dan mungkin juga banyak orang, Yusanto memilih hijrah dari ideologi HTI menuju ideologi demokratis Indonesia. Harapan ini jelas serupa dengan apa yang didoakan Nabi Muhammad kepada Umar. Dan, doa Nabi terkabul. Umar jadi pembela Nabi. Semoga Ismail Yusanto begitu. Jadi pembela NKRI. Karena, Yusanto orang yang cerdas.

Sebagai penutup, kita tidak perlu menghujat Ismail Yusanto yang masih belum hijrah dari HTI. Karena, perjalanan hidup seseorang tidak dapat ditebak. Bisa jadi, seseorang itu mendapatkan hidayah seketika. Bisa jadi hidayah itu datang kemudian. Maka, solusi yang ditawarkan dalam surah al-Ashr adalah saling menasehati.

Khalilullah, Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kadrun Khilafahers: Membela yang Bayar?

Rab Des 1 , 2021
Khilafah.id – Pada bulan Maret, tahun 1993, Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk masa jabatan yang keenam. Ia kemudian bersekutu dan memberi bantuan pada kaum militan Islam, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Salah satu tokohnya yang terkenal pada saat itu adalah Sri Bintang Pamungkas. Melalui ICMI, Presiden Soeharto berhasil […]
Kadrun