Saatnya Kita Menendang Balik Khilafah

Khilafah Indonesia

Khilafah.id – Mengerikan dan menakutkan bahkan sontak menimbulkan kontroversi berminggu-minggu. Itulah ketika istilah khilafah diungkap kembali dan didiskusikan. Kenapa menjadi sangat menakutkan dan selalu membuat heboh?

Rasanya ketika saya duduk di bangku sekolah istilah khilafah biasa diajarkan sebagai bagian dari sejarah peradaban Islam. Tidak ada sedikit pun ketakutan dan kengerian untuk mempelajari sejarah khilafah dalam konteks pembelajaran di madrasah.

Khilafah adalah bagian dari sejarah Islam dan pemikiran Islam. Memang tidak ada penegasan bahwa khilafah dari ajaran Islam. Pada prakteknya sistem ini menjadi sangat berubah sesuai konteks para sahabat dan tabiin bergelut dengan sejarah. Karena istilah khilafah sebagai sistem kepemimpinan pun lahir setelah Rasulullah wafat.

Mempelajari khilafah sebagai bagian dari sejarah Islam dan pemikiran Islam-sekali lagi pemikiran bukan ajaran-harus mendapatkan porsi dalam pengajaran peradaban Islam. Khilafah harus dipelajari sebagai bagian dari mempelajari sejarah dan mengambil hikmah dari proses sejarah tersebut.

Mengembalikan khilafah sebagai bagian dari sejarah menjadi sangat penting agar umat Islam mampu belajar dari sejarah. Menyikapi sejarah pun harus jujur. Pengalaman sejarah khilafah penuh dengan kebanggaan, prestasi, dan zaman keemasan. Namun, sejarah khilafah juga penuh duka dan tetesan darah dan perebutan kekuasaan. Terutama perang sesama muslim. Bukahkan hanya khalifah Abu Bakar yang hanya wafat tanpa ada tetesan darah.

Menyikapi khilafah sebagai produk sejarah dan pemikiran akan memberikan pelajaran penting bagi umat Islam. Namun, ketika khilafah dijadikan ideologi pemikiran politik yang harus diusung kembali akan menimbulkan kericuhan dan perdebatan. Barangkali kengerian dan ketakutan itu muncul ketika mendudukan khilafah sebagai sistem dan konsep pemerintahan yang ingin diperjuangkan di tengah negara yang sudah ada.

Kenapa menimbulkan perdebatan? Sistem khilafah adalah konsepsi kepemimpinan pengganti Rasulullah yang selalu dinamis dan berubah sesuai kondisi. Tidak ada panduan dan pedoman baku dalam membangun sistem khilafah pada masanya. Karena itulah, khilafah sebagai sistem politik pun berubah dan berakhir ketika masa empat khulafaturrasyadin. Setelah ini muncul kerajaan dan dinasti yang itupun tidak tunggal seperti masa empat sahabat tersebut.

Kenapa khilafah menimbulkan ketakutan? Sistem khilafah yang tidak baku dan tunggal itu pun sudah kehilangan masanya. Tetapi subtansi kepemimpinan yang diajarkan Rasulullah akan terus tertanam dalam pemikiran dan warisan pemerintah Islam. Ketakutan muncul ketika khilafah diangkat menggantikan dasar negara di negara yang sudah ada. Maka, negara-negara muslim pun di Timur Tengah dengan tegas menolak propaganda khilafah dan bahkan melarang organisasi pengusungnya.

Kenapa khilafah menimbulkan perpecahan? Khilafah dalam propagandanya adalah menyatukan tetapi justru menimbulkan perpecahan. Tentu saja karena umat Islam tidak memiliki legacy yang baku dari Rasulullah dan para sahabat dalam menerapkan sistem yang diusung oleh organisasi pengusung khilafah. Rasul memberikan tipe dan karakteristik kepemimpinan dan para sahabat pun memiliki tafsir berbeda dalam membangun dan pergantian kepemimpinan. Itulah fakta sejarah dan bagian dari pemikiran Islam.

Sistem kepemimpinan yang dicetuskan oleh Rasulullah adalah suatu model dan teladan yang sangat baik untuk dipelajari. Rasulullah membangun komunitas negara Madinah dengan prinsip persaudaraan dan kesetaraan. Banyak sarjana Barat yang mengagumi prinsip siyasah yang dibangun pada masa ini. Sistem ini diteruskan oleh para sahabat sehingga dikenal khilafatul rasul atau pengganti Nabi.

Sebagai sebuah sistem kepemimpinan dan pemerintahan, khilafah juga tidak tunggal. Banyak perbedaan pola pemilihan kepemimpinan dan sistem pemerintahan yang dianut oleh penerus Nabi. Tidak jarang pula perebutan untuk menjadi khalifah juga penuh dengan darah dan peperangan antar umat Islam sendiri.

Nah, sampai di sini sebenarnya bisa dipahami sebenarnya khilafah sebagai fakta sejarah adalah lumrah dipelajari dan tidak menakutkan sebagaimana mempelajari perang dunia. Ia bagian dari sejarah dan produk pemikiran dalam Islam. Yang menjadi menakutkan adalah gerakan propaganda khilafah yang ingin merubah kondisi negara yang ada.

ISIS pernah membawa isu khilafah untuk merekrut umat Islam datang ke Irak dan Suriah bergabung memperkuat negara hasil konflik dalam negeri. Bahkan mereka mendeklarasikan diri telah membai’at khalifah. Apakah semua orang terpedaya? Justru banyak umat Islam menolak. HizbuT tahrir juga memperjuangkan berdirinya khilafah, tetapi juga beberapa negara Timur Tengah termasuk Indonesia menolaknya.

Karena itulah, agar tidak selalu menakutkan saat ini penting mengembalikan khilafah sebagai bagian dari sejarah Islam dan produk pemikiran Islam. Ia bagian yang sudah pernah melekat dalam peradaban Islam dan tidak perlu ditakutkan. Yang perlu ditakutkan jika ada gerakan politik membawa sistem khilafah untuk diterapkan di tengah negara yang sudah selesai merumuskan konsep negaranya. Tentu akan menimbulkan keributan.

Saat ini, negara muslim dan mayoritas muslim telah melahirkan produk pemikiran baru untuk menjadi negara bangsa yang tetap mengikuti Syariah Islam. Bahkan beberapa negara muslim di Timur Tengah justru saat ini memilih menjadi negara sekuler seperti Turki dan Sudan. Bukankah itu bagian dari sejarah khilafah yang terus berjalan dalam sejarah muslim.

Farhah Salihah, penulis tema-tema keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Meruntuhkan Wacana Khilafah di Hadapan Milenial

Sab Okt 9 , 2021
Khilafah.id – Wacana khilafah seakan tak pernah mati, meski kelompok pengusungnya sudah dibubarkan secara resmi. Pasalnya, individu-individu yang terlibat masih terus aktif mengampanyekan apa yang mereka yakini. Padahal, jelas-jelas pemahaman tersebut bertentangan dengan NKRI, mengingat pemahaman tersebut berupaya untuk mengubah sistem kenegaraan yang sudah disepakati para pendiri negeri. Berbagai usulan […]
Milenial