Siap Dipangil Ustaz, Harusnya Siap Hadapi Apa?

ustaz

Khilafah.id – Di beberapa wilayah, khususnya di pedesaan, sebutan Ustaz tidak mudah disematkan kepada seseorang. Entah karena letak kesakralanya atau memang tidak familiar di telinga masyarakat sekitar.

Misal di desa Beji (desa asal penulis), sebuah desa kecil di ujung timur kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini tidak sembarangan melabeli panggilan ustadz walaupun kesehariannya mengajar ngaji bahkan mengisi ceramah di masjid dan majelis taklim.

Meski bacaan kitab kuning sudah di luar kepala dan ilmu agamanya sudah mumpuni, namun masyarakat tetap saja memanggil dengan sebutan “Mbah” bagi yang sudah sepuh. atau disapa dengan panggilan “Lek” atau “Mas/Mbak” bagi yang masih muda.

Di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa ustadz bukanlah sekedar guru agama atau penceramah agama. Namun juga memiliki kelebihan lainnya semisal bisa “suwuk”, mengusir setan, mencari jodoh, konsultasi hari baik buat hajatan, serta hal-hal yang di luar nalar lainnya.

Hal itu memang tidak salah, karena beberapa ustaz memang memiliki keahlian tersebut. Contoh Ustaz Ujang Bustomi asal Cilacap yang gemar melawan para dukun santet atau Ustaz Faizar yang sering menyembuhkan orang yang kesurupan.

Dengan adanya konten-kontennya yang viral di YouTube, tak ayal menimbulkan persepsi di tengah masyarakat bahwa setiap ustaz pasti bisa melakukan hal yang sama. Dalam kata lain, di mata masyarakat ustaz itu seperti orang yang serba bisa, bukan orang yang biasa-biasa saja.

Berbeda halnya dengan memandang “Ustaz” dari persepsi kultur timur tengah, seperti Mesir. Gelar Ustaz sangat tinggi kedudukannya, setaraf dengan profesor yang mengajar di Universitas. Jika mengacu hal ini maka seorang ustaz merupakan tokoh yang terpelajar, bukan asal-asalan. Seorang ustaz minimal mampu menguasai 12 sampai 18 cabang ilmu seperti Nahwu, Sorof, Bayan, Badi, Ma’ani, Adab, Mantiq, Kalam, Akhlaq, Ushul Fiqih, Tafsir dan Hadits.

Tugas-tugas ‘Berat’ orang-orang yang Bergelar ‘Ustadz’

Dikehendaki atau tidak, mendapat gelar Ustaz di tengah masyarakat memang menjadi privilege tersendiri. Minimal menjadi tokoh yang dihormati dan dimuliakan. Namun demikian jangan lantas berbangga diri. Karna ke depan akan banyak tantangan yang menghampiri, apa saja?

Pertama, harus siap dalam segala kondisi yang serba dadakan. Semisal jadi penceramah dadakan, khotib dadakan, imam dadakan behkan penghulu dadakan. Tapi untuk kasus penghulu dadakan tidak disarankan terutama menikahkan siri, karena urusan menikah sebaiknya melalui KUA.

Kedua, harus siap menjadi penengah dalam setiap problematika masyarakat. Semisal menjadi penengah dalam urusan pembagian hak waris, mengakurkan pasutri yang hendak bercerai, mendamaikan keluarga yang sedang tidak akur dan lain sebagainya. Tugas ustaz memang tidak jauh beda seperti tugas pejabat, yaitu melayani masyarakat.

Ketiga, harus siap menjadi manusia setengah dewa. Mengingat bahwa menjadi ustaz sama saja menjadi public figure yang dituntut memberikan teladan bagi umat berupa akhlakuk karimah. Harus pandai-pandai jaga emosi dan kewibawaan apalagi saat mendapat kritikan, atau bahkan makian, cacian dan hinaan. Ustaz harus sabar ya!

Keempat, harus siap menerima keluhan warga yang tidak logis seperti menangani kasus kesurupan, mengobati orang sakit, hingga minta amalan-amalan untuk pelaris dagangan, mendapat jodoh dan lain sebagainya.

Maka mendapat gelar Ustaz sebenarnya adalah sebuah peringatan dari Allah SWT agar kita terus memperdalam ilmu agama bukan untuk gaya-gayaan semata. Jika niatnya sudah tulus ikhlas, bertawakal kepada Allah SWT dan menolong sesama, maka Allah SWT akan senantiasa memberikan jalan kemudahan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Bukan begitu pak Ustaz?

Muhammad Muhlisin, Penulis lepas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Apa Saja Dilema Muslim Diaspora?

Jum Agu 4 , 2023
Khilafah.id – Dilema bagi Muslim di diaspora merupakan persoalan kompleks yang dihadapi oleh banyak individu umat Islam yang tinggal di luar negara asal mereka. Migrasi dan globalisasi telah membawa sejumlah besar umat ke negara-negara diaspora, yang berarti negara-negara di mana mayoritas penduduknya berbeda dalam agama, budaya, dan bahasa. Dalam situasi […]
diaspora