Syafiq Hasyim: Proyek Dokumentasi Hadis MBS Ancam Wahabi?

MBS

Khilafah.id – Satu berita lagi soal gebrakan Visi 2030-nya Mohammad bin Salman yang sedang naik daun yakni proyek dokumentasi hadis. Pembicaraan masalah proyek ini sebenarnya sudah lama terjadi karena proyek ini adalah bagian dari Visi 2030-nya MBS sendiri yang di dalamnya termasuk soal reformasi Islam. Menurut Mohammad bin Salman, Saudi perlu melakukan dokumentasi hadis yang benar-benar otentik untuk memproteksi hadis dari penggunaannya ke arah ekstremisme dan terorisme.

Dalam sebuah interview dengan Majalah the Atlantic beberapa tahun lalu, MBS menyatakan: Kamu memiliki ribuan hadis. Dan kalian tahu, the massive majority (kebanyakan hadis) tidak terbuktikan validitasnya (kesahihannya) dan juga digunakan oleh banyak kalangan sebagai alat untuk menjustifikasi apa yang mereka lakukan. Misalnya, pengikut al-Qaedah, pengikut ISIS, mereka menggunakan yang lemah, tidak terbukti sebagai hadis yang benar, untuk memperjuangkan ideologi mereka.”

MBS mengatakan bahwa Tuhan dan al-Qur’an mengatakan kepada kita untuk mengikuti ajaran Nabi. Pada masa Nabi, para sahabat menuliskan al-Qur’an dan juga menuliskan ajaran Nabi. Nabi bahkan meminta agar ajaran (pernyataan) tidak dituliskan agar diyakini bahwa sumber Islam adalah al-Qur’an, karenanya jika kita kembali ke ajaran Rasulullah maka kita harus teliti dan hati-hati. Bahkan Salman berbicara banyak tentang tiga kategori hadis, pertama, hadis mutawatir, kedua, hadis ahad (individual) dan ketiga, hadis khabar.

Mohammad bin Salman mengatakan jika hadis Mutawatir ini adalah hadis yang super strong (sangat kuat) dan harus kita ikuti. Kita, umat Islam, harus mengikutinya, kata MBS. Namun jumlah hadis mutawatir hanya sekitar 100-an.

Hadis Ahad menurut Mohammad bin Salman adalah hadis yang didengar oleh seseorang dari Rasulullah dan kemudian disampaikan selanjutnya oleh seseorang dan dari satu orang ini sampai pada periwayat hadis.

Atau sekelompok kecil orang mendengar dari Rasulullah lalu sekelompok orang menyampaikan kepada sekelompok orang sampai pada periwayatnya. Menurut Mohammad bin Salman kita harus mempelajari hadis Ahad ini apakah itu benar, apakah itu sesuai dengan al-Qur’an, apakah itu sesuai dengan hadis Mutawatir dan atau ataukah sesuai dengan kepentingan orang itu tadi.

Lalu kategori khabar ini, menurut Salman, dari serangkaian periwayat ini ada garis yang tidak diketahui (unknown). Jumlah hadis dalam kategori ini menurut Salman ribuan dan untuk kepentingan sendiri boleh hadis ini dipakai atau hal yang terbaik dari hadis ini juga boleh dipakai.

Semua ini dinyatakan oleh Mohammad bin Salman dalam sebuah wawancara dengan
Mohammad bin Salman mengambil inisiatif projek ini karena dia mengerti bahwa banyak penggunaan hadis-hadis untuk dalil terorisme dan tindakan ekstrim lainnya baik itu yang terjadi di Saudi maupun di belahan dunia Islam lainnya.

MBS juga mengerti jika di kalangan masyarakat Saudi, proyek ini harus dilakukan agar tidak ada penggunaan hadis-hadis terutama yang masuk dalam kategori Akhbar yang menyulut social division atau polarisation di kalangan masyarakat Saudi.

Proyek hadis MBS lebih banyak mengena bahkan menggugat pada establishment Wahabi di Saudi. Sebenarnya, sudah lama, rezim Wahhabi di Saudi melakukan proyek penataan hadis yang sesuai dengan paham keagamaan mereka melalui salah satunya seorang ulama Albania, Nashiruddin al-Albani.

Ulama ini berkebangsaan Albania dan menata metodologi periwayatan hadis yang baru, bahkan cenderung berbeda dengan para tokoh-tokoh hadis seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dan perawi-pewari hadis lainnya yang selama ini kita kenal lewat kitab-kitab mereka yang Enam maupun Sembilan.

Pemikiran al-Albani ini menjadi semacam fondasi tentang hadis bagi kalangan Wahabi modern yang cenderung sangat keras dan strict dan yang oleh Mohammad bin Salman cenderung menciptakan social division.

Karenanya, jika proyek hadis MBS ini berhasil maka mereka yang pertama kali terkena akibat proyek ini adalah kalangan Wahabi di Saudi sendiri. Proyek Salman ini semacam proyek pensahihan hdis yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan modernitas, ilmu pengetahuan baru, dan bukti-bukti terbaru.

Proyek ini nampaknya memang diciptakan untuk menopang kemajuan ekonomi, teknologi dan karenanya bagi MBS yang dipentingkan adalah ajaran-ajaran pokok hadis yang terekam dalam hadis-hadis mutawatir.

Dengan demikian, prinsip reformasi dan pengembangan Islam bisa terjadi secara terbuka dan mendasar karena rujukannya adalah al-Quran dan hadis super strong atau hadis yang proven dalam kerangka yang disiapkan oleh tim MBS. MBS memang sangat menghendaki akan terjadi reformasi Islam. Dia mengusulkan agar me-review kembali sumber-sumber legislasi keagamaan.

Hal yang menarik lagi adalah MBS, dalam mengupayakan reformasi Islam, dia banyak segaris dengan ulama-ulama Islam yang selama ini dianggap oleh para ulama Wahabi sebagai bukan lagi ulama Islam. MBS dalam hal ini menempatkan diri dalam satu kubu pemikiran dengan pemikir-pemikir Arab modern seperti Mohammed Arkoun, Mohammed Shahrour, Farah Faoudah, Ahmed Abdo Maher dan lain sebagainya.

Ulama-ulama modern dan kritis ini lah yang sering mendapat persekusi dari kelompok Wahabi dan Salafi. Jelas bahwa cara berpikir seperti ini telah menempatkan MBS dalam hubungan perpecahan dengan kalangan Wahabi karena apa yang dipikirkan oleh MBS berbeda secara fundamental dengan kalangan ulama Wahabi.

Suatu saat MBS mengatakan jika sumber-sumber utama Islam, al-Qur’an dan hadis Mutawatir tidak mengemukakan soal hukuman-hukuman (penalties) dalam syariah. MBS mengatakan jika Syaikh Mohammad bin Abdul Wahhab masih hidup bersama kita dan dia mengetahui bahwa kita mengikutinya secara membabi buta pada teks-teks beliau dan menutup pemikiran kita sendiri untuk menafsirkan dan membuat hukum sendiri maka dia pasti akan keberatan.

Menurut kabar jika proyek ini rampung maka ini terobosan yang luar biasa bagi Saudi. Mungkin Saudi akan menjadi negeri Islam yang banyak melakukan reformasi keagamaan. Bahkan bisa jadi, Saudi menjadi negeri yang memimpim pembaharuan Islam di Timur Tengah di bawah kepemimpinan MBS ini.

Pembaharuan seperti ini memang terkadang harus melibatkan kekuatan politik karena kekuasaan agama juga seperti Wahabi juga menggunakan kekuatan politik untuk merengkuhnya.

Sebagai catatan perjalanan sebuah bangsa memang bisa berubah. Saudi adalah negara yang mengalami banyak perubahan dan perubahan itu diinisiasi oleh MBS, orang terkuat di Saudi saat ini.

Syafiq Hasyim, Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Siap Dipangil Ustaz, Harusnya Siap Hadapi Apa?

Kam Agu 3 , 2023
Khilafah.id – Di beberapa wilayah, khususnya di pedesaan, sebutan Ustaz tidak mudah disematkan kepada seseorang. Entah karena letak kesakralanya atau memang tidak familiar di telinga masyarakat sekitar. Misal di desa Beji (desa asal penulis), sebuah desa kecil di ujung timur kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini tidak sembarangan melabeli panggilan ustadz […]
ustaz