Terorisme Kontemporer; Perempuan Jadi Aktor Teror?

Terorisme Perempuan

Khilafah.id – Terorisme telah menjadi ancaman global yang kompleks dan terus berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, peran perempuan sebagai penggerak kelompok-kelompok teroris, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ISIS, di Indonesia maupun luar negeri, telah menarik perhatian dunia. Para ekstremis dengan sadar menggunakan perempuan sebagai tameng dan strategi gerakan mereka untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang ekstrem.

Peran perempuan dalam gerakan terorisme telah berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Mereka tidak lagi hanya menjadi anggota pasif atau sekadar pengiring dari pria yang terlibat dalam kegiatan teroris. Sebaliknya, perempuan kini telah menjadi elemen aktif yang berperan sebagai penggerak utama dalam misi kelompok-kelompok teroris yang ingin mendirikan negara khilafah atau daulat islamiah.

Salah satu contoh nyata adalah peran perempuan dalam gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi ini telah menjadi bagian dari upaya global untuk mengembangkan konsep negara khilafah dengan mengedepankan visi ekstrem dan menolak sistem demokrasi.

Perempuan dalam HTI diberdayakan untuk berperan dalam aktivitas dakwah alias penyebaran Islam, propaganda, dan pembinaan generasi muda agar terlibat dalam tujuan-tujuan mereka. Peran perempuan dalam HTI tidak lagi terbatas pada peran domestik, namun telah berkembang menjadi pemimpin dan penentu dalam organisasi ini.

Di sisi lain, kelompok teror ISIS juga menggunakan perempuan sebagai salah satu strategi gerakan mereka. Para perempuan di ISIS direkrut untuk berperan dalam mendukung perang dan membangun negara khilafah. Mereka terlibat dalam menyebarkan propaganda, merekrut anggota baru, dan bahkan terlibat aksi teror. Beberapa di antara mereka bahkan melakukan aksi bunuh diri—bentuk militan terhadap kelompok teror itu sendiri.

Itulah terorisme kontemporer. Fenomena ini menyoroti pentingnya melihat peran perempuan dalam konteks gerakan terorisme secara holistik. Tidak boleh diabaikan bahwa radikalisasi dan perekrutan perempuan menjadi elemen kunci dalam upaya kelompok teroris untuk memperluas jaringan mereka dan mendapatkan dukungan lebih luas dari masyarakat. Gender dalam terorisme, dengan demikian, mengalami peleburan (fusion).

Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemerintah dan masyarakat mesti bersatu untuk menentang dan memerangi upaya-upaya ekstremis yang memanipulasi perempuan untuk mencapai tujuan-tujuan terorisme mereka. Pendidikan dan kesadaran yang tepat harus disebarkan untuk mengidentifikasi tanda radikalisasi dan melindungi perempuan dari perekrutan teroris.

Penting juga bagi masyarakat untuk memberikan peran lebih besar bagi perempuan dalam menjaga lingkungan yang inklusif dan membuka ruang bagi aspirasi perempuan untuk berkontribusi secara positif dalam pembangunan masyarakat. Dengan memberdayakan perempuan secara positif, kita dapat mengurangi daya tarik ekstremisme dan memastikan masa depan yang lebih aman dan harmonis.

Peran perempuan sebagai penggerak dalam gerakan terorisme adalah fenomena yang harus ditanggapi dengan serius. Langkah-langkah yang efektif dan berkelanjutan perlu diambil untuk mencegah ekstremisme dan memastikan peran perempuan dalam membentuk masyarakat yang damai dan inklusif. Jika tidak, peran mereka sebagai penggerak propaganda daulat islamiah akan semakin mangancam umat dan negara.

Menangani propaganda daulat islamiah atau kelompok terorisme lainnya memerlukan pendekatan yang holistik dan terkoordinasi dari berbagai pihak. Peningkatan pendidikan dan kesadaran tentang bahaya terorisme adalah bekal utama. Edukasi yang tepat dapat membantu masyarakat, terutama perempuan, memahami sifat ideologi ekstremis ini dan mengidentifikasi narasi yang salah.

Perempuan juga bisa melakukan kolaborasi internasional, melalui eskalasi kerja sama antarnegara menghadapi ancaman terorisme. Ini mencakup pertukaran informasi, strategi, dan sumber daya dalam menghadapi propaganda khilafah dan seperangkat terorismenya.

Bagaimana dengan kampanye anti-propaganda? Ini juga perlu, demi membuat kampanye kreatif melawan propaganda, dengan menyajikan pesan yang positif dan inklusif tentang perdamaian, harmoni, dan keragaman di Indonesia.

Dan yang paling penting dari semuanya ialah pemberdayaan perempuan. Ini karena terorisme kontemporer menjadikan mereka sebagai senjata propaganda. Memberdayakan perempuan untuk berperan aktif dalam mencegah terorisme dan propaganda, serta mempromosikan perdamaian dan keadilan sosial. Penguatan literasi dan penguatan nilai-nilai toleransi dan perdamaian juga sama pentingnya.

Secara keseluruhan, tidak ada pendekatan tunggal untuk menangani propaganda daulat islamiah, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagai gantinya, upaya yang terintegrasi, didukung oleh partisipasi aktif dari berbagai pihak, akan menciptakan perbedaan yang signifikan dalam menghadapi ancaman propaganda dan terorisme yang dihasilkan oleh kelompok-kelompok teroris.

*Repost Editorial Harakatuna

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Antisipasi Paham Radikal Melalui Keadilan

Sab Agu 5 , 2023
Khilafah.id – Konsep kehidupan umat manusia pada dasarnya bertumpu pada pemahaman bahwa semua umat manusia adalah bersaudara dan sama. Bila seseorang menzalimi sesamanya, maka sesungguhnya ia telah melakukan penzaliman kepada seluruh umat manusia. Begitu juga sebaliknya. Dari itu, kita tahu dan itu menjadi keniscayaan bahwa setiap manusia harus diperlakukan secara […]
radikal keadilan