Ustaz Ismail Yusanto, Sang Ideolog Khilafah

Khilafah.id – Meskipun Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah dibubarkan oleh pemerintah beberapa tahun silam, ajaran-ajaran HTI seakan kata pepatah “Mati satu, tumbuh seribu”. Maksudnya, dibubarkannya HTI bukan menghilangkan ajaran esktremis ini, malahan semakin membangkitkan orang-orang HTI sendiri melakukan tindakan politik underground, bawah tanah yang secara kasat mata sudah lenyap tersapu angin, tapi tiba-tiba bangkit kembali dengan pasukan yang amat banyak di luar dugaan akal sehat. Ismail Yusanto adalah tokoh sentral dalam organisasi politik berjubah agama dan memprovokasi umat untuk melawan negara yang sah dan konstitusional.

Bukti masih eksisnya ajaran HTI di Indonesia secara sederhana adalah adanya kampanye penggantian sistem negara dari republik demokratis kepada sistem khilafah Islamiah yang dilakukan oleh orang-orang HTI. Banyak tokoh-tokoh HTI yang masih mempercayai, bahkan mengampanyekan sistem khilafah ini di tengah-tengah publik. Salah satunya, juru bicara HTI sendiri Ismail Yusanto yang menduduki jabatan sebagai juru bicara semenjak 1987.

Ismail Yusanto dikenal sebagai pribadi yang sangat lugas dan terbuka dalam menyosialisasikan visi dan misi HTI, temasuk agenda dari HTI sendiri. Ia bahkan menyerukan bersatunya umat Islam dengan “iming-iming” tegaknya khilafah Islamiah untuk mengembalikan kehidupan umat Islam bernuansa kehidupan Islam tak ubahnya masa Nabi Muhammad Saw. tempo dulu. Iming-iming ini persis dengan cara orang-orang ISIS di Suriah merekrut anggota. ISIS menawarkan iming-iming yang menggiurkan. Salah satunya, menghadirkan kehidupan yang menenteramkan ala kehidupan Nabi Saw.

Secara pendidikan, Ismail Yusanto lulusan kampus terkemuka, bahkan terbuka terhadap perbedaan. Ia pernah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Yogyakarta pada tahun 1988. Setelah lulus, ia melakukan pengembaraan intelektualnya di Pesantren Ulil Albab di daerah Bogor hingga tahun 1991. Melihat pendidikan yang ia tempuh di sebuah kampus yang sangat terbuka, tidak menutup kemungkinan paham HTI mampu mencuci otak Ismail Yusanto, sampai ia rela melupakan jejak kampus UGM yang sangat terbuka terhadap perbedaan, bahkan dapat dibilang sangat anti terhadap paham-paham radikal.

Ajaran-ajaran HTI telah menutup akal sehat Ismail Yusanto berpikir dengan logis. Ia menggunakan akalnya demi kepentingan pribadi, sedangkan ia sendiri melupakan kepentingan orang lain yang dibingkai dengan demokrasi. Tidak heran, ia pernah membalikkan logika berpikir para penganut demokrasi dengan menganggap hajatan demokrasi sebagai “pesta” yang penuh dengan paradoks. Sebab, pemilu itu dapat menentukan benar dan salah, tapi ditentukan oleh jumlah suara yang diperoleh. Sehingga, sangat mungkin terjadinya kesalahan memilih pemimpin.

Ketertutupan mindset Ismail Yusanto selalu membuatnya berprasangka buruk terhadap lawan politiknya. Ia meyakini kebenaran itu hanya diperoleh dari hasil keputusan HTI sebagai partai oposisi pemerintah. Sedangkan, partai selain HTI itu sangat mungkin dipengaruhi oleh partai sekuler yang lebih mengukur kebenaran dari hasil suara terbanyak. Cara berpikir Ismail Yusanto ini tidak melihat kebenaran dari keputusan mayoritas, tapi keputusan pribadi dan tertutup. Pemikiran semacam ini sungguh sangat berbahaya diterapkan di Indonesia yang menganut asas kebhinekaan atau kemajmukan untuk merangkul perbedaan yang terbentang luas di negara merah putih ini.

Kampanye HTI yang dilakukan Ismail Yusanto tentunya dilakukan dengan cara-cara yang jitu untuk menarik publik. Ia pura-pura mengakui eksistensi Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia. Bahkan, ia sendiri tampak dengan sikap yang sangat demokratis di depan publik. Tapi, di balik semua itu ia melakukannya penuh kemunafikan. Ia telah membohongi rakyat dengan instrumen Islam. Kebohongan Ismail Yusanto pernah dilaporkan oleh Forum Umat Islam Revolusioner (FUIR) ke Bareskrim Polri terkait tuduhan penyebaran hoaks. Laporan itu terkait ucapan Ismail Yusanto bahwa HTI tidak punya bendera.

Ismail Yusanto menyebarkan berita hoaks itu melalui akun twitternya sehingga kemudian pesan itu dikutip oleh beberapa media. Ia bersikukuh bahwa HTI yang dibubarkan pemerintah itu tidak punya bendera. Padahal, bendera HTI itu adalah, yang oleh orang-orang HTI disebut dengan, bendera tauhid. Bendera tauhid tersebut berbentuk bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid berwarna putih. Bendera ini dibela oleh orang-orang HTI sebagai panji Nabi Muhammad di Indonesia, tapi dianggap merujuk pada gerakan ekstremis di Arab Saudi. Lebih dari itu, bendera tersebut juga dipakai ISIS di Suriah.

Sebagai penutup, Ismail Yusanto memang manusia yang berpotensi melakukan kesalahan. Tapi, ia belum pernah menyesali kesalahan yang sama dilakukan secara berulang-ulang di masa depan. Ia tidak henti-hentinya menyebarkan ideologi khilafah di Indonesia yang jelas sudah punya ideologi sendiri, yaitu Pancasila. Karena itu, bagaimanapun Ismail Yusanto berbicara, kita tidak perlu mendengarkan, apalagi sampai dijadikan sebuah hujah yang benar. Putuskan saja, bahwa setiap yang Ismail Yusanto katakan adalah bentuk dari kemunafikan dan kebohongan yang pernah dilakukan Musailamah al-Kadzdzab pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Wallahu a’lam.

*Artikel ini ditulis oleh Khalilullah yang dimuat di Harakatuna.com.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Abdul Qadim Zallum, Sang Sutradara HTI

Kam Sep 23 , 2021
Khilafah.id – Bagi saya keunikan Hizbut Tahrir bukan terletak pada analisa politik, pendapat fiqih dan sistem organisasinya, karena ketiga hal tersebut juga dimiliki oleh harakah Islam yang lain. Siapa pun bisa membuat analisa politik, mengeluarkan pendapat fiqih dan merancang sistem organisasi, asal mampu dan punya kapasitas. Jadi, pada aspek ini […]
abdul qadim zallum