77 Tahun NKRI; Merdeka Seutuhnya dari Intolerasi dan Radikalisme

HUT RI

Khilafah.id – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-77 terasa di kota sampai desa. Di sepanjang jalan, bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. Ditambah beragam umbul-umbul dan hiasan yang kian menyemarakkan suasana. Beragam lomba dan kegiatan pun digelar untuk meramaikan tujuhbelasan. Hal ini wajar mengingat tahun ini untuk pertama kalinya kita memperingati HUT Kemerdekaan RI setelah dilanda pandemi Covid-19 selama dua tahun lamanya.

Maka, tema hari kemerdekaan tahun 2022 ini ialah “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Dalam tafsiran yang spesifik, tema itu merujuk pada kondisi Indonesia pasca pandemi Covid-19. Diharapkan kita bisa memulihkan kondisi kesehatan, ekonomi, dan sosial secara lebih cepat serta bangkit untuk tumbuh menjadi bangsa yang lebih kuat.

Sedangkan dalam tafsiran yang lebih luas, tema itu juga bisa dimaknai sebagai ajakan untuk pulih dan bangkit menghadapi tantangan global. Dalam tafsiran ini, kemerdekaan kiranya tidak hanya sekadar dimaknai sebagai bebas dari penjajahan fisik, namun juga bebas dari penjajahan non-fisik seperti nalar kebencian, praktik intoleransi, sampai ideologi radikal.

Jika melihat realitas kekinian, intoleransi dan radikalisme bisa jadi merupakan bentuk penjajahan gaya baru yang tidak kalah berbahayanya dengan kolonialisme klasik. Jika kolonialisme klasik mengekang kebebasan fisik dan merendahkan harkat-martabat kebangsaan, maka penjajahan gaya baru yang mewujud pada intoleransi dan radikalisme ini berpotensi merusak tatanan bangsa dari dalam.

Dalam beberapa tahun belakangan, kita menyaksikan sendiri bagaimana virus intoleransi dan radikalisme telah melatari beragam problem sosial-kebangsaan. Mulai dari perpecahan antar-anak bangsa, diskriminasi berbasis SARA hingga yang paling parah ialah maraknya kekerasan dan teror atas nama agama. Sederet persoalan itu tidak pelak telah menyebabkan masyarakat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Secara psikologis, masyarakat yang masih hidup dalam perasaan cemas dan takut ialah masyarakat yang belum merdeka seutuhnya.

Pentingnya Edukasi dan Moderasi

Tan Malaka dulu pernah menggaungkan slogan “Merdeka 100 Persen” yang bermakna kedaulatan penuh bangsa Indonesia terhadap sumber daya alam dan kekayaan yang ada di bumi Indonesia. Di era sekarang, relevan kiranya kita menggaungkan slogan “Merdeka Seutuhnya” yang merujuk pada kondisi ketika masyarakat telah lepas dari virus intoleransi dan radikalisme.

Belajar dari sejarah, kemerdekaan Indonesia dari penjajahan asing bisa diraih dengan dua jalur, yakni konfrontasi dan negosiasi. Konfrontasi artinya berperang secara langsung dengan mengangkat senjata melawan penjajah. Sedangkan negosisasi artinya memperjuangkan kemerdekaan bangsa melalui jalur perundingan dengan penjajah dan diplomasi ke negara-negara lain. Dalam praktiknya, kedua strategi ini saling melengkapi.

Di masa sekarang, kita bisa merdeka seutuhnya dari virus intoleransi dan radikalisme dengan setidaknya dua strategi, yakni edukasi dan moderasi. Edukasi ialah pendidikan dalam cakupan yang luas, meliputi pendidikan kenegaraan dan kebangsaan. Selama ini, harus diakui bahwa pendidikan kita cenderung bersifat formalistik alias hanya berorientasi pada capaian akademik. Di saat yang sama, pendidikan kita kerap abai pada nilai-nilai etika dan moral kebangsaan.

Maka, menjadi tidak mengherankan jika belakangan ini intoleransi dan radikalisme justru tumbuh subur di dunia pendidikan. Ke depan, kita memerlukan semacam gerakan reformasi edukasi agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan insan yang tidak hanya pintar secara akademik, namun juga memiliki sikap yang terbuka pada perbedaan, cinta tanah air, dan berkomitmen menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Sedangkan moderasi ialah cara pandang yang tidak berlebihan dalam merespons segala sesuatu. Dalam konteks intoleransi dan radikalisme, moderasi diperlukan untuk mencegah masyarakat bersikap eksklusif dan fanatik, baik terhadap identitas SARA maupun afiliasi politik. Selama ini, virus intoleransi dan radikalisme tumbuh subur karena masyarakat terjebak dalam nalar fanatisme politik dan konservatisme agama. Dua nalar itulah yang membuat masyarakat kerap menimbulkan gesekan bahkan perpecahan.

Agenda moderasi, terutama dalam lingkup beragama harus terus digalakkan. Tersebab, hanya melalui agenda moderasi itulah kita bisa mewujudkan kehidupan berbangsa yang toleran, harmonis, dan damai. Moderasi ialah benteng untuk menangkal segala jenis ideologi ektremisme, baik yang dilandasi ajaran agama (ekstrem kanan) atau yang dilandasi motif politik (ekstrem kiri).

Siti Nurul Hidayah, Pegiat kajian keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

HUT RI 77: Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Semakin Kuat Melawan Radikalisme

Kam Agu 18 , 2022
Khilafah.id – Saya rasa, hijrahnya Abu Bakar Ba’asyir di dalam menerima Pancasila itu bagian dari “kado spesial” menjelang HUT RI ke-77 ini. Karena, sangat selaras dengan tema peringatan kemerdekaan RI tahun 2022 ini. Di mana, pemerintah mengambi tema “Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Semakin kuat”. Karena, kelompok radikal saat ini […]
HUT RI 77