Belajar dari Suriah tentang Bahaya Konflik Syiah-Sunni

suriah

Khilafah.id – Satu kaidah fikih mengatakan, “Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyat harus didasarkan atas kemaslahatan”. Hairuddin Habziz dalam Kaidah Fiqh menulis hikmah kaidah di atas bahwa, pokok tujuan kepemimpinan adalah mewujudkan kesejahteraan lahir batin yang dapat dirasakan oleh segenap rakyat. Jika tujuan itu tidak tercapai, sejatinya ia bukan seorang pemimpin.

Yana Mulyana, Walikota Bandung, sepertinya kurang apresiatif terhadap kaidah di atas disaat dirinya hadir dan meresmikan gedung dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang menuai kontroversi karena memberikan angin segar bagi kelompok intoleran. Tentunya, sebagai Walikota semestinya ia tidak melakukan tindakan yang merentankan potensi konflik.

Setiap kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin harus berorientasi terhadap kemaslahatan rakyat secara umum. Tidak tebang pilih membela satu kelompok dan meminggirkan kelompok lain. Dalam kasus ini, tentu Syiah menjadi kelompok yang dipinggirkan akibat kasus ANNAS.

Dalam konteks kebangsaan, ANNAS mengguncang Bhinneka Tunggal Ika yang kita pegang teguh melalui prinsip kebangsaan. Kehadiran ANNAS seperti duri dalam daging yang apabila tidak segera dilucuti akan semakin menancap dalam di tubuh bangsa ini. Ya, ANNAS menjadi persemaian benih toleransi yang pada gilirannya nanti membuahkan konflik antar anak bangsa.

Belajar dari Suriah

Kasus ANNAS harus segera dituntaskan. Kalau tidak, apa yang terjadi di Suriah beberapa tahun yang lalu akan terjadi di Indonesia. Sebagaimana telah terjadi, Suriah pernah dilanda peperangan yang dijustifikasi oleh sebagian kalangan sebagai “Konflik Sunni-Syiah”. Isu-isu begini juga sampai ke Indonesia dan diamini oleh segelintir umat Islam.

Padahal, yang terjadi saat itu bukan perang jihad, tetapi perang saudara, sesama muslim saling bunuh. Karena kalau jeli melihat, konflik di Suriah saat itu lebih didorong oleh motivasi politik ketimbang masalah teologi keagamaan (Islam). Suriah hancur akibat syahwat politik yang dibingkai dengan agama.

ANNAS berpotensi mendesain konflik seperti di Suriah terjadi di Indonesia. Gerakan ini seolah ingin mereplikasi konflik Suriah untuk diterapkan di Indonesia dengan mengadu sesama saudara muslim atas dasar perbedaan aliran. Anti Syiah sama saja mengatakan Syiah sesat, kafir dan harus dibunuh, lalu memunculkan kecamuk konflik.

Penulis meyakini akan ada narasi yang muncul sebagai kelanjutan dari ANNAS, narasi tentang Syiah lebih kafir daripada orang-orang musyrik dan dihalalkan jihad melawan mereka. Dasarnya pasti fatwa Ibnu Taimiyah yang populer dikalangan kaum Salafi; “Memutuskan bahwa Nusayris bahkan lebih kafir daripada orang-orang musyrik dan dihalalkan jihad melawan mereka”.

Nusayri atau Nushairiyah adalah salah satu sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada pendirinya Muhammad Ibn Nusayr dari Irak yang waktu itu dikutuk sebagai kafir. Disinyalir, sekte Nusayris merupakan sempalan Syiah Imamiyah, tapi keyakinannya sudah jauh dari Syi’ah arus utama. Kalau di Indonesia hampir sama dengan Islam Kejawen.

Terlepas dari semua itu, kelompok Syi’ah yang ada di Indonesia sekalipun mereka diduga sesat, kita tidak boleh melakukan tindakan kekerasan, peminggiran, apalagi pembunuhan. Hukum di negara ini melarang hal itu. Apakah agama Islam memperbolehkan persekusi terhadap Syi’ah?

Dalam agama Islam, siapapun dan apapun paham teologinya, selama masih mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad sebagai utusan-Nya, tidak boleh dituduh kafir. Hal ini membuktikan pengakuan Islam terhadap perbedaan paham; teologi, madhab dan pendapat.

Klaim kebenaran tunggal hanya milik aliran atau kelompok tertentu, sejatinya merupakan ketimpangan dalam memahami Islam sebagai agama yang penuh rahmat. Hal ini merupakan akibat dari seret atau sempitnya pemikiran atas teks agama yang ditampilkan secara statis. Terjadi penyempitan makna dan tafsir yang dengan sendirinya mereduksi nilai kekaffahan Islam.

Apa yang dilakukan oleh Yana Mulyana sama halnya merestui gerakan takfiri yang menjadi sebuah ancaman bagi kebhinekaan Indonesia, juga memicu anggapan negatif terhadap agama Islam yang dipandang mengajarkan peminggiran dan kekerasan. Tanpa sadar sebenarnya telah mengubah agama Islam dari sebuah agama menjadi ajaran ideologi.

Pada biasanya, hal semacam ini adalah politisasi Islam. Jargonnya memperjuangkan Islam padahal memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan Islam sebagai kemasannya. Gaya politik membodohi umat, membungkus kebatilan dengan kemasan agama.

Banyak negara gagal karena perang saudara antar sesama anak bangsa. Isu sekterian dimunculkan untuk mengoyak jalinan antar warga negara. Politik identitas dimainkan dan sentiment aliran diruncingkan. Pola ini berhasil di negara-negara Timur Tengah dengan dikotomi Syiah-Sunni. Akankah Indonesia akan direplikasi dalam konflik tersebut?

Abdul Hakim, Penulis keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Habib Ali al-Jufri: Konflik Semakin Parah karena Campur Tangan Militer

Sen Sep 12 , 2022
Khilafah.id – Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri mengingatkan kepada segenap militer Indonesia untuk tidak terjerumus arus konflik. Menurutnya, berdasarkan pengalamannya, konflik semakin parah karena campur tangan militer. “Ketika berbicara tentang militer, kita berbicara tentang institusi tidak terkait dengan rezim pemerintahan, yang bisa datang dan pergi. Dan saya ingatkan, apa yang […]
militer