Chris Skellorn: Penghina Islam yang Akhirnya Jadi Mualaf

Chris

Khilafah.id – Hidayah Islam hadir kepada hamba yang Allah pilih dan atas kehendakNya seorang anak manusia dapat menjadi seorang muslim, karena hidayah menjadi hak preorgatif Allah maka tidak ada satu pun manusia yang dapat memberikan hidayah kecuali Allah. Banyak orang yang mulanya sangat membenci Islam, bahkan mengkampanyekan agar orang-orang membenci Islam, seperti yang dialami oleh seorang mualaf asal Inggris bernama Isa Chris Skellorn yang mulanya sangat membenci Islam dan mengajak melawan Islam dengan berbagai cara.

Seperti dilansir dari laman republika.co,id Sabtu, (12/11/22). Perasaan benci mewarnai perjumpaan awalIsa Chris Skellorn dengan Islam. Lelaki asal Leeds, Inggris, itu semula menganggap agama tersebut sebagai sesuatu yang asing (alien) bagi orang-orang Britania dan Eropa umumnya.

Waktu itu, ia memandang ajaran Nabi Muhammad SAW sangat mengancam eksistensi kebudayaan Barat. Untuk mengekspresikan kebenciannya, Chris Skellorn cukup aktif di internet. Melalui akun media sosialnya, ia menyebarkan hasutan-hasutan yang bernada Islamofobia. Tujuannya untuk meyakinkan orang-orang, Islam adalah virus yang menakutkan bagi kehidupan modern.

Di satu sisi, ketika belum menjadi seorang mualaf, Chris mudah terpengaruh pelbagai pemberitaan tentang terorisme yang acap kali disangkutpautkan dengan Islam.

Sebagai contoh, serangan teroris di London pada 7 Juli 2005. Peristiwa nahas itu menelan 52 korban jiwa dan mengakibatkan ratusan orang luka-luka. Oleh berbagai media massa, para pelaku bom bunuh diri itu dicap sebagai kelompok teroris Islamis.

Di sisi lain, Chris sendiri memiliki pengalaman buruk saat masih muda. Sebagai siswa SMA, ia termasuk korban perundungan (bullying). Dan, beberapa perundungnya adalah anakanak keturunan Pakistan yang satu sekolah dengannya. Berkali-kali, ia menerima hantaman dan pukulan dari mereka sehingga membuatnya trauma.

Begitu lulus dari SMA, cara pandang Chris terhadap dunia makin monokrom. Baginya, semua orang Islam adalah musuh yang mesti dienyahkan. Ajaran agama ini baginya hanyalah pendatang yang tidak pantas berada di Inggris, tanah airnya.

Di bangku kuliah, ia diajak seorang kawannya untuk bergabung dengan gerakan Liga Pertahanan Inggris (English Defence League/EDL). Organisasi yang didirikan lima tahun sesudah Peristiwa Bom London itu menganut paham politik sayap-kanan ekstrem. Ideologinya, antara lain, adalah Islamofobia.

Bagai gayung bersambut, Chris merasa sangat cocok dengan EDL. Sejak terdaftar sebagai anggota gerakan tersebut, ia pun aktif dalam berbagai unjuk rasa anti-Islam. Pemuda itu bertemu dengan banyak orang sebayanya yang juga menaruh antipati terhadap Muslimin.

“Awalnya, aku tidak tahu bahwa itu (EDL) adalah sebuah organisasi. Kupikir, aku hanya berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran denganku mengenai masalah besar yang dihadapi kita semua, yakni Islam,” ujar Isa Chris Skellorn kepada Leeds Live, seperti dikutip Republika.co.id beberapa waktu lalu.

Lingkaran pertemanannya di EDL mengubah pribadinya. Chris mulai menyukai minuman keras, bahkan menenggak khamar sampai mabuk. Ia pun tidak ragu-ragu untuk mengonsumsi narkoba. Komunikasinya dengan orang tua tidak lagi baik.

Chris menceritakan pengalaman pertamanya ikut demonstrasi EDL di Leeds. Sebelum turun ke jalan, ia ikut dengan kawan-kawannya untuk membicarakan isi orasi yang hendak disampaikan dalam aksi. Yang jelas, spanduk dan baliho yang akan dikibarkan mesti memuat pesan anti- Islam yang kuat. Rasanya waktu itu aku sangat antusias. Ikut demonstrasi seperti ikut menonton pertandingan sepak bola di stadion, katanya.

Dua tahun lamanya Chris menjadi anggota EDL Leeds. Belakangan, ia menyadari bahwa dalam masa itu dirinya hanya membebek para petinggi organisasi. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk mengenal atau mencari tahu sendiri segala hal tentang Islam.

Chris awalnya mengira, Islam adalah agama yang seharusnya dipeluk oleh orang-orang non- Eropa saja. Barulah sesudah lewat dua tahun aktif di EDL, ia mafhum bahwa Muslim bukanlah identik dengan kebangsaan tertentu. Katakanlah, Arab ternyata tidak sama dengan Islam. Bahkan, di dunia Arab pun ada banyak pemeluk Kristen, misalnya.

Pada faktanya, negara dengan jumlah Muslimin terbanyak justru bukan negeri mana pun di Timur Tengah, melainkan Indonesia sebuah republik di Asia Tenggara.

“Islam adalah agama yang mengatasi golongan etnis, kebangsaan, ras, atau warna kulit. Selama dua tahun di sana (EDL), aku hanya menerima dan menerima apa kata orang. Aku belum sampai pada kesadaran, sesungguhnya banyak yang tidak kupahami tentang Islam,” ucapnya.

Sampailah ia pada pengujung tahun ketiga sebagai seorang simpatisan gerakan Islamofobia itu. Chris mulai berani untuk mempertanyakan banyak hal tentang ideologi EDL. Pertama-tama, ia hendak menggali, sebenarnya adakah sesuatu sungguh-sungguh berasal dari ajaran Islam yang pantas dibenci oleh dirinya dan manusia pada umumnya?

Benih kesadaran

Chris Skellorn perlahan-lahan menjauh dari berbagai aktivitas EDL. Sebaliknya, ia kian aktif menjelajah internet guna menemukan sumbersumber pengetahuan tentang Islam.

Tidak puas dengan itu, penggemar olah raga sepak bola itu juga menyambangi beberapa toko buku di Leeds. Tujuannya adalah mendapatkan buku-buku tentang ajaran agama tauhid ini, termasuk mushaf Alquran plus terjemahan dan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW

Pada 2013 terjadi perpecahan di tataran pimpinan EDL. Salah seorang tokohnya, Tommy Robinson, memutuskan untuk keluar. Keputusan itu dipengaruhi kedekatannya dengan kelompok pemikir Muslim yang moderat, yakni The Quilliam. Think tank itu berdiri pada 2008. Beberapa inisiatornya adalah kalangan akademisi, seperti Ed Husain dan Maajid Nawaz.

Namanya merujuk pada sosok Abdullah Quilliam (1856-1932), seorang mualaf yang mendirikan masjid pertama di Inggris. Tokoh asal Liverpool itu lahir dengan nama lengkap Willian Henry Quilliam. Putra seorang bangsawan lokal itu menjadi Muslim usai mengunjungi Maroko pada 1887.

Hingga 2010, Chris memang tertarik untuk mempelajari Islam secara mandiri. Namun, dirinya masih mengidap kecanduan akan narkoba dan miras. Hal itu cenderung menghalanginya untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Bahkan, mulai 2015 dirinya sempat terperosok lagi pada paham Islamofobia. Pada 7 Januari di Paris, Prancis, terjadi penembakan terhadap sejumlah editor Charlie Hebdo. Kejadian itu dilatari kegusaran terhadap karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat media massa satir tersebut.

Siapa sangka, hidayah Allah menerangi hatinya dengan jalan berbeda. Pada suatu malam, Chris menemukan sebuah video di Youtube mengenai status Yesus (Nabi Isa). Tayangan itu menegaskan bahwa Nabi Isa adalah seorang utusan Tuhan, bukan anak Tuhan”.

Chris senang menyaksikan video itu karena sejak kecil dirinya pun dididik dengan pemahaman demikian. Semula, ia mengira tayangan itu dibuat oleh sebuah denominasi Nasrani. Keesokan harinya, dirinya bekerja seperti biasa dan pulang larut malam.

Chris pun memanggil taksi. Dalam perjalanan pulang, ia pun menuturkan video yang ditontonnya kemarin. Ternyata, sopir kendaraan ini adalah seorang Muslim. Menanggapi cerita Chris, pengemudi itu menyatakan bahwa Islam mengajarkan, Nabi Isa adalah utusan Allah. Dan, Tuhan tidak beranak, tidak pula diperanakkan.

“Begitu tahu dia (sopir taksi) adalah orang Islam, langsung aku katakan, ‘Kamu Muslim, kamu teroris!’ Tidak disangka, dia tersenyum saja mendengar perkataanku,” kenang Chris.

Sampai di depan rumahnya, Chris pun turun dari taksi. Sambil menerima bayaran, sopir tersebut dengan tenang berkata kepadanya, Coba Anda tonton hingga tuntas video itu. Beberapa hari berlalu. Karena kejadian di taksi itu, Chris berupaya untuk tidak lagi menonton video tersebut.

Namun, hatinya justru merasa terpanggil untuk menyimak hingga tuntas tayangan di Youtube itu. Seolah-olah hatiku berkata, aku harus mencari tahu kebenaran, ujarnya.

Masuk Islam

Beberapa pekan lamanya, Chris Skellorn meng ikuti kajian yang diadakan saluran Youtube itu. Ia pun makin yakin akan kebenaran risalah Islam.

Agama ini mengajarkan, Nabi Isa adalah salah satu dari sekian banyak orang mulia yang menjadi utusan Allah SWT di sepanjang sejarah. Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Risalah yang dibawa beliau berlaku hingga akhir zaman kepada seluruh umat manusia.

Inilah yang menjelaskan, Islam mengatasi segala identitas suku, bangsa, dan warna kulit. Akhirnya, Chris condong pada keyakinan agama ini. Suatu hari, ia merekam dirinya sendiri yang sedang berlatih melafalkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Ternyata, video itu kemudian disebarluaskan oleh seorang kawannya yang aktivis EDL ke khalayak luas.

Awalnya, Chris merasa malu untuk mengakui nya. Bahkan, ia beberapa kali menyatakan bahwa video itu hanya editan. Di berbagai platform medsos, ia menulis, “Saya bukan Muslim!”

Akan tetapi, lama kelamaan ia makin sering merenung. Sejak serius mempelajari Islam, dirinya tanpa disadari mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, semisal mabukmabukan atau mengonsumsi narkoba. Dengan penuh kesadaran, ia pun membulatkan tekad untuk menjadi Muslim.

Chris lalu memulai kontak dengan komunitas pemuda Masjid Raya Leeds. Mereka antusias sekali begitu mendengar ada yang hendak masuk Islam. Tidak lama kemudian, mantan aktivis Islamofobia ini mengucapkan, “Asyhaduan Laa Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.”

Resmilah dirinya menjadi Muslim. Ia pun memilih nama sapaan baru, yakni Isa. Aku sangat bahagia. “Sejak memeluk Islam, menjadi jelas bagiku tujuan dan makna kehidupan ini,” kata Isa Chris Skellorn yang kini berusia 31 tahun.

Fauzan Mukhlisin, Pengamat kajian politik dan keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menjauhi Politik Identitas, Belajar dari Penyesalan Sudan

Rab Nov 16 , 2022
Khilafah.id – Setelah lengsernya Tokoh Gerakan Islam Presiden Omer al-Bashir melalui aksi revolusi 2019, Sudan terjatuh dalam kubangan masa transisi hingga saat ini. Gerakan Islam yang memegang kekuasan lebih dari 30 tahun belum berhasil membangun nasionalisme generasi muda yang menjadi penentu revolusi. Ilmuwan, cendekiawan dan praktisi profesional tidak sedikit yang […]
Sudan