Di Balik Pembubaran Jama’ah Islamiyah, Ada Apa?

islamiyah

Khilafah.id – Kita tahu, dalam beberapa tahun terakhir terutama 2023, pemberitaan dan penangkapan teroris di Indonesia diwarnai oleh satu kelompok bernama Jama’ah Islamiyah (JI). Kelompok ini adalah teroris paling keji dan paling cerdas dalam sejarah terorisme di Indonesia.

Salah satu ideolognya adalah Abu Bakar Ba’asyir. JI dibentuk oleh Abdullah Sungkar bersama Ba’asyir pada 1993. Mereka memiliki landasan ideologi dari gerakan Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan Kartosuwiryo. Dua-duanya bercita-cita mendirikan negara Islam di Asia Tenggara.

Aksi Jama’ah Islamiyah

Salah satu gebrakan terbesar dari JI ini adalah keberaniannya dengan cara mengebom. Meski para atasannya sudah mulai surut dalam aksi-aksi keras dan kampanye jihadnya, tapi di akar rumput anggota JI masih tetap semangat membara. Karena itulah, sejumlah aksi teror bom di Tanah Air pernah terjadi di mana-mana.

Sebut saja seperti aksi bom di gereja-gereja di 13 kota pada malam Natal tahun 2000, bom Bali I pada 12 Oktober 2002, teror bom Hotel JW Marriott di Mega Kuningan-Jakarta pada 5 Agustus 2003. Kemudian aksi teror bom Bali II pada 1 Oktober 2005, dan bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Mega Kuningan-Jakarta pada 17 Juli 2009. Setelah aksi ini para punggawa JI mulai kendor. Singkatnya, pada 30 Juni 2024, secara tiba-tiba malah membubarkan diri.

Tiga Faktor JI Bubar?

Apa yang melandasi Jama’ah Islamiyah membubarkan diri? Menurut Institute for Police Analysis of Conflict (IPAC), setidaknya ada tiga faktor. Pertama, pengaruh toko intelektual JI yang menginginkan perjuangan mendirikan negara Islam dengan jalan dakwah. Kedua, motif melindungi aset besar berupa sekolah dan pesantren. Ketiga, berhasilnya deradikalisasi Detesemen Khusus 88 Antiteror terhadap pentolan JI.

Hari ini Jama’ah Islamiyah digadang-gadang namanya akan berubah menjadi Jama’ah Dakwah wal Irsyad, Jama’ah Dakwah dan Pendidikan. Para Wijayanto menginginkan gerakan dakwah jihad kelompok ini ditempatkan di bawah visi dakwah. Dengan cara ini, menurut Wijayanto, akan bisa menarik simpati dan bisa merekrut ribuan pengikut baru dan bergabung dengannya.

Tapi yang menarik menurut saya dalam peristiwa pembubaran Jama’ah Islamiyah adalah harus dilihat dari kaca mata terbalik. Masih ingat bahwa JI sejak 2009 memang sudah menjadi organisasi terlarang dan karena itu negara beserta masyarakat terlarang merestui apalagi bergabung dengan mereka.

Kacatama Terbalik

Alasan lain yang harus dilihat adalah aset-aset kelompok JI ini. Dengan pernyataan membubarkan diri, maka aset-aset mereka selamat dari pembekuan dan obyek rampasan negara. Di sini cerdiknya mereka.

Selebihnya, soal visi dan misi bagi JI sudah selesai. Tegaknya negara Islam di Asia Tenggara adalah kewajiban yang harus ditepati. Bagi mereka, nama organisasi boleh bubar, tapi nyawa ideologi harus terus hidup dan menghidupi.

Bagaimana bisa memiliki taktik seperti ini? Jelas mereka sudah melihat kasus FPI dan HTI. Nama mereka bubar, tetapi anggota dan ideologi masih hidup sampai hari ini. FPI dan HTI masih eksis, setidaknya mereka masih bisa mencukupi semua biaya operasionalnya. Saya kira, anggota JI juga melihat keberhasilan kedua ormas itu.

Lalu bagaimana dengan ketidaksetujuan anggota JI di akar rumput? Akar rumput tetap potensi menjalankan segala apa yang telah mereka jalani dan inginkan sejak lama. Akar rumput tetap menjadi ancaman. Karena, sel-sel jihad, baik sel-sel kecil dan dan tak terlihat lebih sulit dideteksi. Mereka masih memiliki jiwa jihad yang membara. Bahkan para nggotanya di tingkat global masih banyak. Celakanya, mereka masih menganggap pemerintah sebagai thaghut dan kafir, dan karena itu Indonesia harus bersistem Islam.

Saya tidak yakin bahwa pentolan yang membubarkan diri tidak berkomunikasi dengan akar rumput dan pada tataran global. Jelas mereka sudah melakukan kalkulasi. Syarat utamanya adalah, yang terpenting bagi mereka adalah tujuan utama JI tersampaikan melalui jihad dakwah, pendidikan, membangun sumber daya manusia dan menyelamatkan aset dan ekonomi JI dari pemerintah Indonesia.

Bagi saya, JI tidak benar-benar usai. Mereka sementara hanya menepi. Dan sekali klik dalam sebuah intruksi atasannya, anggota JI bakal menguasai rumahnya kembali. Ingat, di JI tidak sembarangan orang bisa masuk. Karena itulah pemerintah wajib hukumnya tetap lebih waspada di balik dan akibat dari pembubaran JI ini.

 

Agus Wedi, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Mendesain Ulang Kontra-Terorisme Pasca-Bubarnya JI

Jum Jul 12 , 2024
Khilafah.id – Sebuah berita mengejutkan, namun menggembirakan datang di akhir bulan Juni lalu. Belasan tokoh Jamaah Islamiyyah, yang dipimpin Abu Rusydan membacakan deklarasi pembubaran organisasi tempat selama ini mereka bernaung. Deklarasi pembubaran JI itu memuat enam poin penting. Pertama, pembubaran organisasi Jamaah Islamiyyah dan komitmen kembali ke NKRI. Kedua, perubahan […]
JI

You May Like