Format Negara yang Dibangun Nabi, Seperti Apa?

Nabi

Khilafah.id – Merayakan Maulid Nabi berarti membaca kembali sejarah manusia agung; membaca kisah lahirnya dan kisah teladan yang diwariskan. Tidak sekadar diketahui tapi untuk dicontoh supaya kita menjadi umat pilihan sesuai dengan harapan Nabi.

Satu diantara teladan Nabi Muhammad yang diwariskan kepada umatnya adalah relasi antar manusia dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah umat Islam Mekkah hijrah ke Madinah, pertama yang dilakukan oleh Nabi adalah mengikat persaudaraan (muakhah) antara imigran muslim dari Mekkah (Muhajirin) dengan penduduk muslim lokal (Anshar).

Nabi berkata kepada kepada mereka, “Hendaklah kalian mengikat persaudaraan dalam (agama) Allah dua orang dua orang”. Kemudian beliau mengarahkan 100 orang untuk mengikat persaudaraan, 50 orang dari kelompok Anshar dan 50 orang dari golongan Muhajirin. Rajutan persaudaraan ini telah memulihkan kondisi kejiwaan Muhajirin setelah harta, rumah dan seluruh aset kekayaan mereka tinggalkan begitu saja di Makkah demi untuk hijrah bersama Nabi.

Baru setelah itu Nabi menyusun langkah strategis membuat kesepakatan damai dengan seluruh penduduk Madinah yang heterogen. Mencari pola hubungan strategis sebagai upaya terciptanya perdamaian dalam alam masyarakat Madinah yang multi agama, ras dan etnis. Sebagi upaya membangun relasi muslim-non muslim, terutama dengan Yahudi dan orang-orang yang belum mau menerima kebenaran Islam.

Kesepakatan damai tersebut dituangkan dalam perjanjian tertulis yang populer dengan istilah Shahifah al Madinah atau Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah. Sebuah kesepakatan bersama seluruh penduduk Madinah untuk hidup berdampingan secara damai dan bersepakat untuk berjuang bersama demi kehormatan, kedamaian dan ketentraman negara Madinah. Inilah yang disebut “Daulah Mua’hadah Wathaniyah”.

Secara literal daulah bermakna negara, mua’ahadah bermakna ikatan perjanjian luhur dan wathaniyah bermakna kebangsaan/nasionalisme. Maka, daulah mua’ahadah wathaniyah berarti kesepakatan untuk hidup berdampingan secara damai dalam sebuah negara.

Konsep ini sejatinya merupakan prinsip ajaran al Qur’an yang diterjemahkan oleh Baginda Nabi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Teladan beliau tersebut adalah, dalam sebuah negara muslim-non muslim selayaknya untuk hidup berdampingan secara damai, berjuang bersama untuk mempertahankan kehormatan tanah air, melawan ketidakadilan, pengkhianatan, kejahatan dan permusuhan.

Syaikh Abdul Aziz al ‘Iwadly dalam al Qawaid al Kubra li al Ta’ayusy al Silmi min Khilal al Qawaid al Kulliyah menyatakan, Islam adalah agama yang ajarannya berorientasi terhadap kedamaian, mengatur kehidupan yang damai antar anak bangsa. Islam sangat menekankan pentingnya menghormati kehormatan manusia dan bekerjasama di antara mereka.

Apabila ditelusuri lebih jauh, pandangan al Iwadly di atas merupakan interpretasi dan penegasan dari sabda Nabi “Manusia semuanya adalah keturunan Nabi Adam, dan Adam diciptakan dari debu”. (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Sekalipun dibedakan oleh agama, ras, suku dan golongan pada hakikatnya semua manusia bersaudara. Perbedaan yang melingkupi manusia itu semata karena kodrat Tuhan. Tentang agama Islam sebagai kebenaran hakiki itu tergantung hidayah Tuhan sampai manusia menerima kebenaran tersebut.

Untuk meneladani cara bernegara Nabi Muhammad, beliau dan muslim di Madinah bisa hidup berdampingan secara damai untuk suatu cita-cita berdirinya negara yang tenang, tidak terjadi konflik, tidak ada aura permusuhan dan sejahtera.

Lihat bagaimana Nabi Muhammad rela merubah draf redaksi Piagam Madinah karena sebagian perumus tidak setuju dengan redaksi “Muhammad Rasulullah” karena dalam agama Yahudi Muhammad bukan utusan yang harus diimani. Beliau tidak keberatan diganti dengan “Muhammad Ibn Abdillah”.

Artinya, untuk persatuan, kekuatan dan kedamaian negara Nabi Muhammad bisa memposisikan dirinya secara baik. Disatu sisi, sebagai utusan Tuhan Nabi berkewajiban menyampaikan risalah yang dibawa, namun sebagai kepala negara beliau harus bersikap adil kepada seluruh masyarakat, termasuk soal pilihan mereka terhadap agama dan keyakinan.

Hari ini apa yang diteladankan oleh beliau semakin menipis. Dari hari ke hari umat Islam tidak mampu bersikap proporsional menempatkan hubungan agama dan negara. Kegaduhan-kegaduhan yang terjadi hari ini akibat kesalahan meneladani bernegara Rasulullah.

Oleh karenanya, momentum maulid Nabi seharusnya dijadikan pijakan bangkit meneladani cara bernegara Rasulullah secara benar. Maulid bukan semata perayaan seremonial dan bukti kecintaan kepada Nabi, lebih dari itu kita semua harus berusaha menjadi pribadi muslim yang dalam diri kita terejawantah nilai-nilai luhur tentang kehidupan bernegara sebagaimana tradisi bernegara Nabi.

Faizatul Ummah, Penulis Lepas.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Maulid Nabi, Momentum Anti-Radikalisme, dan Tuduhan Keji Kaum Ekstremis

Jum Okt 7 , 2022
Khilafah.id – Malam ini, 12 Rabi’ul Awal, sebagian besar umat Islam di seluruh dunia akan memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dikatakan sebagian besar karena bagi sebagian kecil Muslim, peringatan Maulid adalah sesuatu yang menyimpang. Tuduhannya sangat radikal: ‘tak diajarkan syariat’. Mereka yang menuduh demikian jelas bukan orang baru, dan bahkan […]
Maulid Nabi