Inayah Wahid: Festival Film Madani Wajah Keberislaman yang Berbeda

Inayah

Khilafah.id – Anggota Board of Madani International Film Festival (MIFF) 2022, Inayah Wulandari Wahid, menjelaskan bahwa Festival Film Madani hadir sebagai ruang untuk menyampaikan keberagaman pengalaman umat muslim di seluruh dunia. Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers Madani International Film Festival 2022 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Rabu (5/10).

“Jadi, yang sebenarnya ingin dibawa oleh Madani (MIFF) itu adalah nafas yang sedikit berbeda. Bahwa Islam itu bukan satu narasi aja lho, bukan tafsir aja lho, ada begitu banyak bentuk lain dan berbagai bentuk narasi yang berbeda. Itu yang ingin kami sampaikan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pengalaman berkeislaman seseorang dalam kehidupan itulah yang akhirnya memunculkan perbedaan narasi, penafsiran, hingga ekspresi keagamaan yang ditampilkan. Sayangnya, seringkali perbedaan tersebut tidak tersampaikan ke banyak kalangan. Pada akhirnya, yang terjadi adalah kesalahpahaman dalam menilai fenomena keberislaman yang berbeda.

MIFF tahun ini sendiri mengusung tema “Ufuk”. Menurut putri bungsu dari Gus Dur ini, tema yang diusung pada tiap tahunnya memiliki kesinambungan.

“Sebenarnya tema (yang diusung) Madani dari tahun kemarin hingga tahun ini berkesinambungan. Selama pandemi, tema yang kami munculkan adalah “Recover”, karena tentu saja bahwa semangat melalui film itu kemudian bisa membawa kita pada recovery (pemulihan). Kemudian, tahun lalu itu “Lite”, yang dimaksud ringan. Sesuatu yang sebenarnya membahagiakan, meringankan hati, juga kemudian membawa cahaya. Dan cahaya itu kami percaya membawa kita kepada “Ufuk”,” ulasnya.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Inay ini juga menegaskan bahwa Festival Film Madani bukanlah festival film agama ataupun festival film Islam.

“Jadi, memang kami ini bukan festival Islam, ini buka festival agama. Kami tidak memutarkan film Islam, tapi film dengan pengalaman keislaman dari berbagai negara dan latar belakang. Itu sebenernya yang ingin dibawa, bahwa ada nafas (keberislaman) yang lain,” tuturnya.

Gelaran Madani International Film Festival tahun ini sendiri merupakan gelaran offline yang pertama kali pasca pandemi. Pada tahun ini juga MIFF menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari Kementerian, media, hingga komunitas.

Satu hal lain yang menjadi pembeda gelaran MIFF tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, sebagaimana diungkapkan oleh Inayah Wahid, adalah hadirnya beberapa section baru, seperti section perempuan, anak, dan lainnya. Dari banyaknya section itu, diharapkan semakin banyak section lain yang muncul di sini.

“Kalau nanti teman-teman nonton, mungkin nggak akan langsung bisa bilang ‘ini bukan film islam, itu masih’. Tapi, tentu saja, pada akhirnya bukankah nilai-nilai kemanusiaan adalah nilai-nilai Islam? Itulah yang ingin dibawa oleh Madani,” pungkasnya.

Madani International Film Festival 2022 akan digelar pada 8-15 Oktober mendatang. Kegiatannya berlokasi di beberapa tempat yang tersebar di wilayah DKI Jakarta. Antara lain, Epicentrum XXI (Kuningan, Jaksel), Metropole XXI (Menteng, Jakpus), dan Taman Ismail Marzuki (Cikini, Jakpus).

Naufal Hisyam, Mahasiswa Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Musyawarah ke Monarki: Politik Khilafah Muawiyah

Sab Okt 8 , 2022
Khilafah.id – Dalam banyak literatur, ahli-ahli sejarah Islam seolah bersepakat bahwa Muawiyah melakukan berbagai intrik politik yang licik untuk merebut kursi khilafah dari Ali bin Abi Thalib. Peristiwa Tahkim, yang terjadi antara pasukan Ali dan Muawiyah di perang siffin, menjadi salah satu indikator “tipu daya” Muawiyah untuk merongrong rezim khilafah […]
Muawiyah