Khilafahers; Menggunakan Agama Seenak Jidatnya

Agama

Khilafah.id – Politik identitas bukanlah sesuatu yang baru terdengar di benak banyak orang. Politik model seperti ini banyak dilakukan oleh siapapun yang menjadikan agama sebagai jalan untuk berpolitik. Pertanyaannya, bolehkah melibatkan agama dalam politik praktis?

Pertanyaan ini mengingatkan saya banyak hal: Pertama, Lawan politik Partai Golkar yang pernah menyerang dengan ayat Al-Qur’an: Wala taqraba hadzihi al-sajarah fatakuna min al-zhalimin. Jangan dekati pohon ini, maka kamu akan menjadi orang yang zalim.

Ayat tadi terdapat kata syajarah/pohon yang oleh lawan politik Partai Golkar ditafsirkan dengan Golkar. Sehingga, dapat dipahami, bahwa Golkar adalah partai yang dilarang didekati dalam kehidupan ini. Pemahaman seperti ini jelas tidak benar. Alias menyesatkan.

Kedua, Kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menafsirkan Khilafah sebagai sistem suatu negara yang disyariatkan dalam Islam. Negara yang menggunakan sistem ini, mendeklarasikan suatu negara menjadi Negara Islam (Daulah Islam).

Rencana kelompok HTI mendirikan Negara Islam tidak lain dan tidak bukan hanyalah motif politik. Mereka ingin mengganti negara demokratis menjadi negara berbasis syariat. Padahal, tidak penting suatu negara itu berbasis Islam atau bukan. Yang terpenting negara itu menganut asas kesetaraan dan perdamaian.

Ketiga, Klaim ”kafir” yang dilayangkan oleh kelompok Khawarij pada masa kepemerintahan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib tempo dulu. Klaim kafir ini didasarkan atas tafsir parsial kelompok garis keras ini yang memahami ayat Al-Qur’an bahwa siapapun, termasuk Ali dan pengikutnya, yang memutuskan hukum bukan menggunakan hukum Allah Swt. maka mereka terjabak dalam kekufuran.

Klaim semacam ini lagi-lagi bukan murni soal agama. Kelompok Khawarij melontarkan klaim kafir itu hanyalah motif politik. Mereka tidak setuju dengan keputusan Ali yang berdamai dengan Muawiyah Ibn Abi Sofyan. Mereka menggunakan agama untuk melawan Ali. Bahkan, mereka tak segan menghalalkan darah Ali dan pengikutnya untuk dibunuh.

Tiga hal di atas merupakan bukti bahwa agama dipakai untuk kepentingan politik praktis mereka. Hal ini jelas tidak dapat dibenarkan. Seharusnya, agama dipakai untuk mengarahkan manusia berpolitik yang baik dan benar. Politik yang benar adalah politik yang demokratis dan manusiawi. Bukan klaim ini-itu. Bukan pula pakai tafsir seenak jidatnya.

Khalilullah, Penulis dan pengarang buku-buku keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Refleksi 94 Tahun Sumpah Pemuda: Menjadi Nasionalis Bukan Apatis

Jum Okt 28 , 2022
Khilafah.id – Nasionalisme seseorang dapat diukur dari seberapa besar perhatiannya terhadap permasalahan kebangsaan. Apabila seseorang terbukti tidak memiliki perhatian khusus tentang masalah kebangsaan, sudah dipastikan dirinya menjadi generasi apatis. A sentiment or conciousness of be longing to the nation, menjadi gambaran betapa pentingnya nasionalisme menurut Anthony D. Smith. Historitas nasionalisme […]
Sumpah Pemuda