Khilafahers Mereproduksi Isu Komunisme untuk Mendeskreditkan Pemerintah

isu komunisme

Khilafah.id – Peristiwa G30S pada tahun 1965 tidak diragukan ialah sebuah fakta sejarah. Ihwal siapa aktor utama di balik kejadian itu sampai sekarang memang masih kabur. Analisis sejarah yang mainstream menyebutkan bahwa adanya persaingan antara PKI (Partai Komunis Indonesia) dan militer dalam berebut pengaruh di pemerintahan Soekarno memercik api konflik sehingga pecah tragedi malam berdarah itu.

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, komunisme dan segala hal yang berkaitan dengannya diposisikan layaknya hantu yang menakutkan. Di era Orde Baru, komunisme telah menjadi alat politik untuk membungkam golongan oposisi yang kritis pada pemerintah. Di era itu, cap komunis kerap dilabelkan pada kelompok yang secara terbuka melawan kekuasaa otoriter Orde Baru.

Pasca Orde Baru, kondisi kebebasan kian membaik. Isu komunisme seolah tidak lagi tabu untuk dibicarakan. Terutama di ruang-ruang akademik, seperti kampus. Buku-buku tentang ideologi kiri pun beredar luas di masyarakat. Diskusi-diskusi tentang isu 65-66 menjadi lebih terbuka. Namun, belakangan ada upaya untuk membangkitkan kembali ketakutan terhadap hantu komunisme atau PKI.

Upaya itu dilakukan oleh segelintir umat Islam pendukung gerakan khilafah. Mereka berusaha mendaur-ulang atau mereproduksi ketakutan terhadap kebangkitan PKI dengan maksud dan tujuan tertentu. Pertama, membangun persepsi bahwa PKI dan komunisme masih ada dan akan segera bangkit untuk menguasai Indonesia. Kedua, menggiring opini publik bahwa pemerintah mendukung kebangkitan PKI dan komunisme, bahkan beberapa institusinya telah disusupi agen komunis.

Ketiga, tudingan bahwa pemerintah mendukung kebangkitan PKI bahkan telah disusupi komunisme itu dimaksudkan untuk mengadu-domba rakyat dan pemerintah. Provokasi itu dimaksudkan agar masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemerintahnya. Dengan begitu, seruan untuk membangkang akan lebih mudah diterima.

Situasi yang demikian ini sungguh pelik. Di satu sisi, kita harus mengakui bahwa ancaman ekstremisme kiri yang mewujud pada komunisme itu memang tidak bisa dinafikan. Bagaimana pun juga, ideologi baik berhaluan kanan maupun kiri bukanlah hal yang mudah begitu saja mati. Apalagi, dalam konteks komunisme bangsa Indonesia pernah mengalami peristiwa kelam. Sejarah pemerontakan komunisme menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat.

Tiga Alasan Menolak Reproduksi Isu Komunisme Kaum Khilafaher

Pendek kata, kata komunisme dan PKI telah menjadi hal yang sensitif bagi masyarakat Indonesia. Namun demikian, reproduksi ketakutan terhadap PKI dan komunisme yang dilakukan para pengasong ideologi khilafah juga tidak dapat dibenarkan. Setidaknya ada tiga alasan mengapa daur-ulang isu komunisme oleh kelompok radikal Islam itu harus kita lawan.

Pertama, pada dasarnya tidak ada perbedaan signifikan antara komunisme (PKI) dan khilafahisme. Keduanya sama-sama anti-Pancasila. Keduaya beragenda merebut kekuasaan dari pemerintahan yang sah. Keduanya berhasrat mengganti dasar dan falsafah bangsa. Bahkan, keduanya sama-sama menghalkan cara kekerasa untuk mewujudkan cita-citanya.

Kedua, anggapan bahwa pemerintah memberikan ruang kebangkitan PKI bahkan sengaja memberikan celah untuk simpatisan PKI menyusup ke pemerintah adalah narasi menyesatkan. Pemerintah telah melarang gerakan komunisme dan segala turunannya serta melarang penggunakan simbol-simbol PKI di ruang publik. Hal itu membuktikan bahwa pemerintah serius mencegah kebangkitan PKI dan komunisme.

Ketiga, kebangkitan PKI dan komunisme di Indonesia sebagaimana didengungkan kaum pengasong khilafah pada dasarnya tidak lebih dari bualan belaka. Secara gerakan, PKI dan komunisme secara umum telah mengalami kebangkrutan sejak runtuhnya Uni Soviet di awal dekade 70-an. Jadi, anggapan bahwa kebangkitan PKI sudah di depan mata seperti didengungkan kaum radikal merupakan provokasi.

Ancaman paling nyata saat ini justru kebangkitan politik Islam yang menghendaki perubahan radikal di Indonesia, yakni dari negara republik-demokratis menjadi negara Islam berbasis khilafah. Gerakan inilah yang nyata-nyata bangkit di Indonesia. Simpatisan dan para anggotanya telah menyusup dan tersebar ke nyaris seluruh kelompok sosial.

Mulai dari kaum intelektual kampus (dosen, mahasiswa), pegawai pemerintah, karyawan swasta, selebritas, seniman, pengusaha, seniman, dan masyarakat umum lainnya. Gerakan khilafah juga telah memiliki bermacam infrastruktur dan sumber daya yang mendukung agendanya mengubah dasar dan bentuk negara.

Dari segi kelembagaan, mereka cenderung solid dan rapi serta lihai berkamuflase. Setiap kali organisasi mereka dibubarkan pemerintah, mereka segera membentuk organ-organ baru. Sisi pendanaan pun demikian. Aksi filantropi yang menjual isu-isu kemanusiaan selama ini efektif dalam menarik donasi umat. Pendek kata, ketimbang komunisme, khilafahisme jelas lebih menujukkan kesiapan untuk bangkit.

Di titik inilah, umat Islam dan masyarakat umum harus waspada pada setiap upaya reproduksi atawa daur-ulang isu komunisme oleh kelompok pengusung gerakan khilafah. Sebagai bangsa, kita wajib mengidentifikasi setiap gejala kembalinya ekstrem kiri di negeri ini. Namun, sebagai umat Islam, kita tidak boleh mudah diprovokasi oleh isu komunisme yang disuarakan kaum pengusung khilafah.

Umat Islam harus memiliki nalar kritis untuk memilah mana gejala kebangkitan komunisme yang sesungguhnya dengan mana yang hanya sekadar hantu-hantu komunisme yang sengaja direproduksi kaum khilafaher. Di pengujung bulan September ini biasanya menjadi momen ketika para khilafaher sibuk membanjiri ruang publik dengan narasi kebangkitan komunisme dan PKI.

Sebagai umat Islam yang cerdas dan kritis, kita seharusnya tidak termakan pada provokasi dan propaganda itu. Waspada kebangkitan PKI dan komunisme tentu wajib. Namun, hanyut dalam arus propaganda khilafaher yang berusaha mendeskreditka pemerintah melalui isu kebangkitan PKI tentu harus dicegah.

Sivana Khamdi Syukria, Penulis keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dari Sepak Bola Hingga Radikalisme, Apa Hubungannya?

Rab Okt 5 , 2022
Khilafah.id – Sepak bola di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah pelik. Kemarin pada pertandingan klub Sepak bola Arema melawan Persebaya menghadirkan duka bersama. Sekitar 150 orang yang hadir pada pertandingan itu menjadi korban karena beberapa faktor, terutama tembakan gas air mata. Jatuhnya korban sebanyak itu tentu menjadi image negatif dalam […]
sepak bola