Masa Depan Indonesia Dilihat dari Hubungan Antarumat

Islam

Khilafah.id – Potret perayaan Hari Raya Waisak tahun 2024 yang berlangsung pada Kamis (23/05/2024) ramai di media sosial. Salah satu momen yang cukup menyita perhatian netizen di media sosial adalah video rombongan Biksu Thudong yang beristirahat sejenak di Masjid Baiturrohmah Bengkal, Kec. Kranggan, Kab. Temanggung sebelum meneruskan perjalanan ke Candi Borobudur. Banyak sekali komentar yang datang dari berbagai pihak dengan menyebut bahwa masyarakat Indonesia sangat menghargai keberagaman yang ada.

Tentu, kita masih ingat ketika pelaksanaan salat Id pada Hari Raya Idulfitri. Di Malang, umat Muslim justru melaksanakan salat Id di depan gereja, yang dilaksanakanaan setiap tahun karena jarak antara masjid dengan gereja berdekatan. Lain halnya dengan praktik keagamaan tersebut, di media sosial juga sempat ramai sebuah pengakuan dari salah satu pengguna media sosial, seorang mahasiswa yang sedang merantau dan seorang kristiani.

Dalam sebuah komentarnya, ia berterima kasih kepada pengurus masjid, di mana pada saat bulan Ramadhan, ketika dirinya tidak memiliki uang, mereka disuguhkan makan agar tidak kelaparan. Pengalaman itu membuatnya tidak lupa untuk menyisihkan sebagian uangnya di kotak amal masjid ketika sudah bekerja.

Berangkat dari pengalaman personal yang dimiliki oleh masing-masing umat beragama, seseorang akan benar-benar menjadikan toleransi sebagai fondasi kehidupan. Potret keharmonisan dalam kehidupan umat beragama di Indonesia, barangkali sudah menjadi lazim karena memang pada dasarnya harus begitu. Artinya, ketika kita melihat potret kerukunan antarumat beragama, seharusnya kita memaknai sesuatu yang biasa, karena pada dasarnya harus tercipta seperti itu.

Kita boleh menjadikan fenomena itu sebagai kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebab hal tersebut merupakan upaya memupuk masa depan bangsa Indonesia untuk terus lebih baik. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama yang satu dengan yang lain. Akan tetapi, melihat perbedaan dalam konteks sosial dan tidak membedakan orang lain hanya karena latar agama yang berbeda.

Dalam konteks fenomena di atas, penulis menyimpulkan bahwa hal itu adalah praktik toleransi yang harus kita sadari sebagai manusia, khususnya sebagai umat Muslim yang memiliki kewajiban untuk terus memupuk persaudaraan, selaku kelompok mayoritas yang tinggal di Indonesia. Sikap yang harus ditunjukkan pula tidak boleh semena-mena hanya karena, menjadi mayoritas dan merasa super power di antara yang lain.

Meski begitu, nilai toleransi tidak muncul begitu saja. Ia harus terus dipupuk dengan beberapa upaya, seperti melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan para pemeluk agama yang berbeda. Mengubah orientasi pendidikan agama yang menekankan aspek fiqhiyah menjadi pendidikan agama yang berorientasi pada pengembangan aspek universal rabbaniyah. Meningkatkan pembinaan individu untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.

Bagaimana Hubungan Intra-Agama?

Kita sudah melihat banyak sekali praktik sosial-keagamaan yang sangat baik dari hubungan antar umat beragama, baik secara personal ataupun secara kolektif. Dari fenomena tersebut sebenarnya, kita bisa menyimpulkan bahwa masa depan bangsa Indonesia, jika dilihat dari hubungan manusia antar umat beragama semakin baik, dengan catatan bahwa sikap toleransi harus terus dipupuk kepada setiap generasi.

Namun, tantangan lain yang muncul adalah hubungan intra-agama, khususnya sesama umat Muslim yang berbeda pandangan. Mengapa umat Muslim yang harus disorot? Sebab umat Muslim adalah kelompok mayoritas pada masyarakat Indonesia.

Jika melihat banyaknya paham keagamaan yang berkembang di Indonesia, kita akan sampai pada pemahaman bahwa, selagi suatu paham keagamaan tidak mengharamkan Pancasila dan tidak memecah-belah bangsa, maka hukumnya sangat boleh berkembang di Indonesia.

Masalahnya justru terdapat pada kelompok-kelompok yang tidak sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Jika kelompok ini terus berkembang di Indonesia, masa depan Indonesia dihancurkan oleh mereka dengan kondisi yang tercerai-berai. Semua praktik dan tradisi yang sudah berkembang di Indonesia menjadi haram. Kita tidak kenal lagi Indonesia dan sejarah karena semua sudah haram. Maukah kita dihancurkan oleh kelompok-kelompok semacam itu?

Muallifah, Aktivis perempuan.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gus Dur: Negara Islam Itu Tidak Wajib Bahkan Haram di Indonesia!

Kam Mei 30 , 2024
Khilafah.id – Isu pembentukan negara Islam (daulah Islamiyyah) mengusik tatanan negara di penjuru dunia, tak terkecuali Negara Indonesia. Tak sedikit kelompok yang menyuarakan isu amatiran ini. Salah satunya, Islamic State of Irak and Suriah (ISIS) atau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pembentukan negara Islam sesungguhnya bukan perintah syariat, melainkan hanyalah motif […]

You May Like