Memaksimalkan Peran Perempuan Menghadapi Ekstremisme

perempuan ekstremisme

Khilafah.id – Berbagai macam aksi radikalisme dan teorisme di Indonesia masih saja menjadi isu sekaligus problem yang masih gentayangan hingga saat ini, khususnya yang berkaitan dengan agama Islam. Sebenarnya, aksi terorisme dan radikalisme tidak identik dengan agama apa pun. Aksi-aksi terorisme dan radikalisme bisa saja dilakukan oleh suatu etnis, suku, ras, kelompok, ataupun ormas-ormas tertentu.

Namun, isu ini menjadi sebuah diskusi dan pembahasan yang intens oleh kalangan agamawan, politisi, akademisi, dan masyarakat umum karena menyangkut dengan sebuah agama; yang sebenarnya mengajarkan nilai-nilai kasih sayang dan perdamaian.

Peristiwa radikaslime dan terorisme sudah ada di Indonesia bahkan sejak masa Orde Lama, namun sampai saat ini masih belum tuntas tertangani bahkan semakin mewabah pasca reformasi. Kita tentu ingat peristiwa peledakan bom di gereja-geraja di 13 kota di Indonesia saat malam Natal tahun 2000.

Mulai dari Medan, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Mataram, dan kota lainnya yang menewaskan 16 orang dan mengakibatkan 96 orang luka-luka. Pengeboman ini dipimpin oleh Encep Nurjaman alias Ridwan Isamuddin alias Hambali. Ia adalah salah satu pimpinan Jamaah Islamiyah yang berafiliasi ke Al-Qaida di Asia Tenggara.

Dua tahun berikutnya, yakni 2022, rakyat dikagetkan dengan peristiwa bom Bali hingga menggemparkan masyarakat mancanegara karena korban-korbannya banyak dari warga asing. Sasaran pengeboman pertama yaitu di depan Diskotek Sari Club, Jl. Legian, Kuta. Tak menunggu waktu lama, ledakan kedua terjadi di Diskotek Paddy’s yang terletak di seberang Sari Club.

Tak berhenti di situ, para teroris juga melakukan aksi pengeboman di dekat Konsulat Amerika Serikat di wilayah Renon, Denpasar. Polisi kemudian menetapkan Amrozi, Imam Samudra alias Abdul Azis, Ali Ghufron, Ali Imron, Mubarok alias Utomo Pamungkas, dan Suranto Abdul Ghani sebagai tersangka. Tersangka lainnya, Dulmatin, ditemukan tewas saat penangkapan. Semua pelaku pengeboman merupakan anggota Jamaah Islamiyah (JI).

Aksi-aksi terorisme seakan tak pernah berhenti. Di tahun 2009, terjadi aksi pengeboman yang didalangi oleh Nurdin M Top di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan Jakarta yang menewaskan 9 orang dan lebih dari 40 orang luka-luka.

Perempuan Mulai Terlibat Aksi Terorisme dan Ekstremisme

Dari informasi di atas, kita jadi tau bahwa sejak tahun 2000 hingga 2009 hanya laki-laki lah yang secara dominan terlibat langsung dengan aksi terorisme. Namun di satu dasawarsa akhir ini, tak hanya laki-laki, para perempuan juga banyak terlibat dalam aksi terorisme ini. Pada tahun 2016, Umi Delima, istri Santoso; seorang pimpinan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MTI), ditahan karena membantu suaminya melakukan aksi teorisme.

Di tahun 2013, Nurul Azmi Tibyani juga divonis bersalah dan dihukum 4 tahun penjara sekaligus denda 200 juta subside 2 bulan penjara oleh PN Jakarta Selatan karena terbukti melakukan tindak podana teroris. Dan selanjutnya ada Putri Munawaroh sebagai istri Agus Susilo Adib, didakwa membantu dan menyembunyikan gembong terorisme paling dicari di Indonesia, Noordin M Top. Ia kemudian divonis 3 tahun penjara oleh PN Jakarta Selatan pada tahun 2010.

Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme secara langsung ini menjadi hal yang memprihatinkan dan tamparan keras bagi pihak yang berwajib menuntaskan aksi terorisme. Mengingat, mereka adalah madrasah ula (madrasah pertama) yang memegang peran utama dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter anak.

Kenapa Perempuan Bisa Terlibat dalam Kasus Radikalisme?

Terlibatnya perempuan secara langsung dalam aksi terorisme beranjak dari pemikiran dan analisa yang matang. Ada bebarapa alasan kenapa perempuan bisa terlibat dalam aksi terorisme, pertama perempuan bisa dijadikan pengikut yang sangat loyal dan patuh. Karena dalam budaya Indonesia yang cenderung memegang ajaran agama konservatif, perempuan dibentuk menjadi pribadi yang tunduk.

Kedua, sifat ibuisme serta kelemahlembutan sifat seorang perempuan dijadikan senjata siasat untuk mengelabuhi aparat penegak hukum. Sehingga, perempuan dimanfaatkan menjadi kurir atas pesan-pesan rahasia yang ditransmisikan antara pelaku teror. Ketiga, perempuan dengan tugas domestiknya dijadikan sebagai pendukung di bagian logistik.

Mereka menyediakan berbagai barang kebutuhan pelaku, termasuk bahan-bahan makanan. Musdah Mulia, feminis muslim asal Indonesia, juga memaparkan alasan dan tugas perempuan saat melakukan dan membantu aksi radikal atau teror, di antaranya; pendidik (educator), agen perubahan (agent of change), pendakwah (campaigner), pengumpul dana (fund raiser), perekrut (recruiter), penyedia logistik (logistik arranger), kurir, penghubung rahasia (mata-mata), hingga pengantin atau pelaku bom bunuh diri (suicide boombers).

Pentingnya Perempuan Terlibat dalam Menghadapi Ekstremisme

Perempuan, baik sebagai korban atau pelaku, perempuan menjadi salah satu pihak yang dirugikan oleh aksi-aksi terorisme ini. Saat sang istri mempunyai suami teroris aksi pengeboman bunuh diri, ia jadi satu-satunya pihak yang memikul tanggungjawab atas keberlangsung hidup keluarganya, baik secara sosial atau ekonomi.

Di ranah sosial, ia akan mendapat stigma buruk dari masyarakat sebagai istri teroris dan dijauhi oleh masyarakat. Dalam hal ekonomi, ia akan mengambil peran suaminya sebagai pihak pencari nafkah karena sumber penghasilan dari suaminya sudah terhenti. Bisa dikatakan, perempuan punya sumbangsih yang besar dalam isu radikalisme dan terorisme ini. Karenanya, melibatkan perempuan dalam penanganannya juga sama-sama pentingnya.

Bagaimanapaun, perempuan telah tercatat lama memberikan sumbangsih dalam upaya memperbaiki keadaan sosial masyarakat, khususnya bagi kaumnya sendiri. Untuk menanggulangi problem pencegahan ekstremisme dan radikalisme, beberapa organisasi perempuan Islam misal ‘Aisyiyah yang berafiliasi ke Muhammadiyah dan Muslimat yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU), telah aktif menyelenggarakan program-program pembendung radikalisme dan terorisme.

Hal ini secara terang direkam dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh INFID yang meneiti Peran Organisasi Perempuan Berbasis Keagamaan dalam Pencegahan Radikalisme dan Ekstremisme Berkekerasan. Salah satu hasil laporan dari penelitian tersebut berupa potret aktivitas beberapa organisasi perempuan dalam menanggulangi paham radikalisme.

Seperti yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah dan Muslimat Jawa Timur. Kedua organisasi itu berupaya untuk menyebarkan paham moderasi beragama dengan cara mengkadakan pengajian. Uniknya, mereka tak hanya mengundang peserta pengajian dari anggota mereka sendiri, akan tetapi juga mengundang peserta dari ormas agama lain.

Hal itu sebagai upaya konkrit dalam menanamkan spirit saling memahami perbedaan. Upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh kedua ormas perempuan ini harus kita apresiasi, teladani, dan tiru supaya angka terorisme menurun dan indeks toleransi umat beragama bisa naik. Sehingga kita bisa hidup tenang dan damai di negeri tercinta ini.

Yahya Fathur Rozy, Sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Peminat tema-tema keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KH. Hasyim Muzadi: Ulama yang Tegas Melawan Terorisme

Sel Agu 23 , 2022
Khilafah.id – Beberapa tahun lalu seluruh masyarakat sempat duka mendalam mengingat bangsa Indonesia, salah seorang ulama terbaik negeri ini telah dipanggil untuk ‘pulang’ oleh sang maha kuasa. Kepulangan KH. Hasyim Muzadi memang dirasa terlalu cepat, terutama karena sikap dan ilmunya masih sangat dibutuhkan negeri ini. Sebagai salah seorang ulama besar, […]
hasyim muzadi