Mencari Circle Pertemanan: Jangan Berteman dengan Khilafahers!

circle pertemanan

Khilafah.id – Dulu masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada slogan diplomasi politik luar negeri yang cukup populer; a million friends, zero enemies. Sederhananya adalah banyak kawan, tidak satupun ada musuh. Memang kawan itu sangat berharga dan pentingnya menghindari adanya musuh.

Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai insting dan fitrah selalu tergantung kepada orang lain. Karena itulah, persahabatan penting untuk menjalin hubungan sosial yang baik. Mereka yang memiliki karakter yang ekstrovert lebih mudah memiliki banyak teman daripada karakter yang introvert. Namun, apa memang banyak teman itu harus? Atau justru sedikit tetapi berkualitas?

Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa pertemanan atau persahabatan akan mempengaruhi sifat dan sikap seseorang. Artinya jika kita memiliki lingkungan persahabatan yang baik maka akan banyak ilmu, hikmah serta manfaat yang bisa kita rasakan. Namun jika memiliki jalinan persahabatan yang salah, maka kita tidak akan merasakan hikmah dalam pertemanan tersebut.

Di sinilah sejatinya pentingnya mempertimbangkan circle pertemanan bukan hanya persoalan memperbanyak pertemanan. Teman adalah faktor sosial yang berpengaruh terhadap jati diri, sikap, pandangan dan perilaku seseorang.

Rasulullah juga sudah mengumpakan pentingnya memilih circle pertemanan ini. Circle pertemanan adalah satu ikatan yang terbatas tetapi memiliki tujuan yang sama. Circle pertemanan juga perlu memperhatikan kualitas, bukan sekedar kuantitas.

Tertulis dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari Muslim)

Hadist di atas mengungkapkan bahwa ada dua kemungkinan yang akan kita dapati jika berada dalam circle pertemanan. Jika berada dalam circle pertemanan yang baik, kita akan mendapat hikmah dari jalinan pertemanan tersebut untuk menjadi manusia yang lebih baik. Namun jika kita berada dalam circle pertemanan yang buruk justru akan menjadi racun ikatan (toxic relationship) yang mempengaruhi keburukan kepada diri kita.

Di sini bisa kita lihat yang terpenting dalam sebuah jalinan pertemanan bukan banyaknya teman yang kita miliki, namun Islam lebih menekankan kepada kualitas teman yang kita miliki. Daripada memikirkan banyaknya teman yang kita miliki, lebih penting adalah bagaimana cara kita untuk menjaga kualitas pertemanan yang kita miliki.

Karena percuma jika memiliki teman yang banyak, namun tidak memiliki dampak positif bagi kehidupan kita. Lebih baik teman dalam jumlah sedikit namun mampu mendorong kita dalam hal kebaikan dan menjadikan kita manusia yang lebih baik lagi. Namun, memiliki sedikit teman juga tidak akan ada artinya apabila kita tetap tidak bisa membuka diri dan berkembang dengan baik.

Itulah alasannya mengapa kita perlu selektif dalam memilih teman. Karena memilih teman yang baik di dunia menjadi salah satu langkah dan ikhtiar yang seharusnya dilakukan dalam rangka mempersiapkan kehidupan di akhirat kelak.

Semoga dalam perjalanan kehidupan kita Allah senantiasa memberikan kesempatan kita untuk berteman, berinteraksi, dan menjalani hidup bersama dengan golongan orang-orang baik. Agar dalam sebuah jalinan pertemaman kita bisa saling mendukung dan memotivasi dalam hal kebaikan serta saling menjaga agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan dilarang oleh Allah.

Rasulullah berpesan, “setiap orang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai” (HR Bukhari-Muslim). Maka, sudah sepatutnya kita merawat persahabatan yang kita jalin dengan orang-orang yang baik, karena nantinya jalinan persahabatan tersebut akan berfaedah kelak di hari akhir.

Rufi Tauritsia, Pegiat literasi kebangsaan.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Fatimah an-Naisaburiah: Wali Perempuan dan Guru Para Ulama Hebat

Ming Sep 18 , 2022
Khilafah.id – Nama Fatimah al-Naisaburiah mungkin tidak se-masyhur sufi perempuan Rabi’ah al-‘Adawiyah. Namun, siapa sangka bahwa sufi besar seperti Dzun Nun Al-Misri ternyata mengakui bahwa Fatimah adalah salah seorang gurunya? Sebagaimana namanya, Fatimah an-Naisaburiah lahir di Naisabur, salah satu kota besar di wilayah Khurasan. Dalam beberapa kitab biografi utama seperti […]
fatimah naisabur