Menguatkan Keamanan NKRI, Membenahi Negeri dari Khilafahisme

Khilafah

Khilafah.id – Kembali viral seorang perempuan berpistol hendak menerobos Istana. Ia sempat menodongkan senjata ke anggota Pasukan Pengamanan Presiden atau (Paspampres) yang berjaga di depan Istana Merdeka. Namun aksi itu berhasil digagalkan oleh petugas Paspampres dan kemudian diserahkan ke kepolisian. Menurut Ahmad Nurwakhid, Direktur Pencegahan BNPT, perempuan itu bernama Siti Elina, simpatisan salah satu ormas yang telah dilarang pemerintah: Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Apakah keamanan NKRI mengkhawatirkan?

Selain diketahui sering memposting propaganda khilafah melalui akun media sosialnya, kejadian teror yang melibatkan perempuan di Indonesia bukan peristiwa baru. Tahun lalu, terjadi preseden serupa yang membuat diskursus kontra-radikalisme dan terorisme di Indonesia menghadapi tantangan baru, yakni lonewolf terrorism. Dalam rangka menguatkan keamanan NKRI dan memutus rantainya, maka radikalisme dan terorisme tersebut mesti segera dibenahi.

Benah adalah sebuah upaya memberantas, sedangkan benih adalah regenerasi paham radikal, atau awal dari radikalisme. Setiap langkah deradikalisasi selalu terjalin berkelindan dalam keduanya, sehingga kegagalan pembenahan paham radikal bernuansa seakan menjadi kegiatan tambal-sulam belaka. Penting diutarakan, segala taktis agresif pemerintah dalam penanganan radikalisme adalah respons terhadap ancaman teroris itu sendiri.

Eskalasi paham radikal, serta bagaimana kita menakar keakutannya, tidak diukur hanya dari seberapa banyak jumlah bom bunuh diri terjadi. Tidak. Jika demikian, betapa sempit tolok ukur yang dipakai, sedangkan jumlah tragedi bom bunuh diri hanya hitungan jari.

Yang dapat digunakan untuk mengetahui eskalasi tersebut terutama ialah semakin tingginya pertentangan terhadap moderasi Islam. Itulah alasan mendasar, kenapa mereka yang terpapar radikalisme lebih memilih hal baru dan berbeda yang seolah-olah mengajarkan kemurnian Islam. Dalam taraf ini, ideologi salafi-wahabi menemukan panggungnya. Itu yang terpenting.

Selain itu, eskalasi radikalisme hingga jadi akut seperti sekarang dapat kita lihat pula melalui menurunnya humanisme, kemanusiaan. Bom bunuh diri include di dalamnya. Dua pintu masuk radikalisme ini; stigmatisasi moderasi Islam atau Islam yang ideal, dan kedok purifikasi ajaran Islam, menjadi tolok ukur seberapa akutnya paham radikal menggerogoti bangsa ini. Juga, sekaligus menjadi indikator seberapa besar deradikalisasi akan berhasil.

Bayangan Ancaman Radikalisme

Kalau soal apakah ancaman terhadap NKRI teramat besar atau tidak, jawabannya adalah relatif. Dilihat dari persentase, penganut paham radikal masih kategori sedikit. Tetapi, dilihat dari taktis radikalisasinya, tentu ini tidak biasa dibiarkan. Benang kusut antara Al-Qaeda, ISIS, dan kemungkinan terburuk lahirnya organisasi sejenis ke depan, ialah tentang radikalisme. Jadi kalau tidak segera dimusnahkan sekarang, kapan lagi? Semua elemen bangsa mengemban tugas besar ini.

Radikal sebagai sebuah ideologi tidak akan sirna, kendati segala kulit luar (casing) dikoyak sedemikian rupa. AS boleh bangga, menganggap tewasnya al-Baghdadi sebagai pencapaian terbesar kedua, setelah sebelumnya berhasil menyergap-tewas Osama bin Laden. Ini juga bisa kita lihat, bagaimana ideologi HTI justru semakin masif, kendati ormasnya dihanguskan.

Osama baru, al-Baghdadi, al-Zawahiri baru, tidak menutup kemungkinan juga akan segera lahir. Tidak ada yang tahu waktunya, tidak ada yang tahu pula nama organisasinya. Kita pun hanya bisa mendeteksi mereka melalui linearitas ideologi. Juga dapat menghabiskan mereka melalui pemusnahan ideologi itu sendiri.

Sebagaimana yang sudah-sudah, tentu ini menjadi PR bersama, bahwa radikalisme harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. ISIS boleh saja sudah dilemahkan, kalau tidak mau bilang dilenyapkan, kekuatannya. HTI juga demikian, sepertinya tak lagi ada ancaman signifikan. Namun apakah benar demikian? Belum tentu. Bayangan ancaman radikalisme datang tanpa bisa ditebak alurnya, seperti di Istana Merdeka kemarin. Hal yang harus segera dipikirkan adalah, apa langkah secepatnya?

Kewaspadaan Tingkat Tinggi

Bahwa Indonesia tetap harus waspada adalah sesuatu yang benar adanya. Di negeri ini, para radikalis dan teroris menganut dan mengooptasi ideologi paten bagi pengikutnya. Sehingga penganut paham radikal akan senantiasa merongrong eksistensi NKRI. Untuk itu diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi untuk mengamankan NKRI dan membenahi radikalisme dan terorisme yang terus mengancam. Tak ada tawar menawar, semua tenaga harus dikerahkan untuk itu.

Agenda bersama kita ialah meredam sekuat mungkin merebaknya radikalisme, seperti apa pun ia menjelma. Salah satu warning kelompok radikalis bahwa mereka tidak bisa diremehkaan keberaniannya, ialah tragedi nahas penusukan eks-Menko Polhukam Wiranto, beberapa waktu yang lalu, oleh salah seorang anggota Jama’ah Anshar al-Daulah (JAD). Andai saja kemarin tidak berhasil dihadang, mungkin Presiden Jokowi juga sudah jadi sasaran penembakan.

Pemberantasan radikalisme memerlukan saling pangku tangan semua elemen masyarakat, dari ormas apa pun, di dalam atau di luar pemerintahan. Perlu juga memberantasnya dari semua sisi; ideologi serta sepak terjangnya. Langkah taktis kelompok radikalis barangkali bisa diserahkan kepada militer, tetapi pemberantasan ideologi mereka menjadi tugas pemangku keagamaan dan ormas. Tak hanya wacana, tetapi aksi nyata, nyata untuk membenahi negara ini dari ancaman yang menakutkan.

Preseden demi preseden terjadi. Radikalisme dan terorisme terus membayangi tanpa henti. Di luar sendiri banyak nyinyiran bahwa pemerintah tidak tegas sehingga radikalisme masih marak, juga cemoohan yang menuduh pemerintah berada di balik kasus-kasus seperti yang terjadi kemarin di Istana. Untuk menyudahi semua itu, tak ada cara lagi selain mengerahkan seluruh tenaga membenahi secara total radikalisme untuk mengoptimalisasi keamanan NKRI. NKRI yang tanpa ancaman teroris.

Ahmad Khoiri, Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Khilafahers; Menggunakan Agama Seenak Jidatnya

Kam Okt 27 , 2022
Khilafah.id – Politik identitas bukanlah sesuatu yang baru terdengar di benak banyak orang. Politik model seperti ini banyak dilakukan oleh siapapun yang menjadikan agama sebagai jalan untuk berpolitik. Pertanyaannya, bolehkah melibatkan agama dalam politik praktis? Pertanyaan ini mengingatkan saya banyak hal: Pertama, Lawan politik Partai Golkar yang pernah menyerang dengan […]
Agama