Menimbang untuk Memindahnegarakan Ustaz Felix Siauw ke Suriah

Ustaz Felix Siauw

Khilafah.id – Dakwah yang halus adalah cara yang paling menjur memengaruhi seseorang. Cara-cara kekerasan tidak akan membuahkan hasil maksimal. Tetapi dakwah itu sendiri bermata dua: benar dan salah, dan aturan tadi berlaku untuk keduanya. Dakwah kebenaran yang disampaikan dengan halus, hasilnya maksimal. Dakwah kebatilan yang disampaikan dengan halus, juga demikian. Di Twitter, Felix Siauw, dedengkot khilafah, ahli memakai trik tersebut. Karenanya, membuang Felix ke Suriah itu wajib.

Kenapa harus dibuang dan kenapa harus ke Suriah? Karena ia lihai melakukan provokasi demi membangkang pada pemerintah yang sah, dan Suriah adalah tempat yang pas baginya. Biarkan Felix bersatu dengan manusia-manusia sejenis yang sama-sama pembangkang dan tukang penghancur negara. Indonesia bukan tempat yang layak bagi seorang provokator. Di Suriah, ia akan punya teman satu misi: mendirikan khilafah, dan Indonesia kembali steril dari manusia sampah.

Ini tidaklah dalam rangka menghina, tetapi dari kacamata kontra-narasi, kelakuan Felix di negeri ini sudah tidak bisa ditoleransi. Ia paham betul bahwa indoktrinasi dengan cara yang halus itu sangat efektif, dan ia sadar betul bahwa konstitusi tidak akan menjerat kebebasan berpendapat. Felix menentang demokrasi dan menawarkan khilafah sembari ia menjilat apa yang bisa demokrasi berikan untuknya. Sangat tidak tahu terima kasih dan, meski geraknya halus, sejatinya ia biadab.

Negara tidak butuh manusia seperti Felix. Alih-alih menyumbang kemajuan, ia justru mendakwahkan kemunduran. Sementara itu, ia bertopeng “sistem Islam”—manipulasi sejarah paling brutal yang ia dan para dedengkot khilafah lakukan. Ia masuk Islam di tangan HTI, maka sampai mati pun ia akan tetap jadi orang HTI, tidak peduli organisasinya telah bubar. Otaknya adalah otak HTI, tetapi ia menyangka itulah Islam yang sebenarnya. HTI mencengkeram Felix sangat kuat. Tidak harapan untuk kembali.

Tidak ada cara menjadikannya kembali ke Aswaja, misalnya. Karenanya, membuang Felix adalah satu-satunya jalan keluar. Ini karena di Twitter, pengaruhnya sangat mencengkeram, sudah banyak yang tertipu oleh dakwah batilnya yang halus.

Twitter Ladang Indoktrinasi

Semua umat Muslim yang akalnya sehat dan melek sejarah pasti tahu, khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah itu sudah terpotong sejak Muawiyah melakukan kecurangan saat peristiwa atbitrase. Saat Yazid naik takhta, khilafah itu hanya masa lalu, dan yang tersisa adalah monarki. Monarki itu sistem yang tidak dipraktikkan oleh Nabi, maka Abdurrahman bin Abu Bakar dan Abdullah bin Umar menentangnya. Keduanya berargumen, tradisi mewariskan takhta untuk anak dan keluarga, itu tidak ada dalam Islam.

Itu fakta sejarahnya. As-Suyuthi membahasnya detail, dan sebelumnya al-Thabari sudah menguraikannya panjang lebar. Tetapi bagaimana kata Felix? Ia justru memanipulasi kebenaran sejarah dan memakai sejarah palsu dan disebarkan melalui Twitter. Minggu (30/5) lalu, ia bercuit bahwa Abdullah bin Umar tidak disuksesi oleh Umar, ayahnya, demi menghindari fitnah.

Artinya apa? Felix hendak mengatakan kepada publik, bahwa tradisi monarki itu—yang olehnya dianggap khilafah, anggapan yang sangat naif dan tolol—sebenarnya sudah ada sejak Umar bin Khattab, tapi dibatalkan bukan karena Islam tidak mengajarkan, melainkan demi menghindari fitnah semata. Dengan kata lain, menurut Felix, monarki Muawiyah hingga Turki Utsmani itu sesuai sistem pemerintahan Nabi. Jelas itu adalah fitnah terhadap Umar dan para khulafaurrasyidin.

Itu hanya salah satu contoh indoktrinasinya di Twitter. Cuitan lainnya banyak, dan seluruhnya adalah fitnah dan manipulasi sejarah. Ironisnya, banyak yang percaya, terutama mereka yang masih polos dan baru mengenal Islam serta tidak baca buku sejarah. Setiap ada polemik di negara ini, Felix hadir mengasongkan khilafahnya yang ia bungkus dengan label “sistem Islam”. Pemerintah tidak bisa bertindak, karena sekalipun itu fitnah, ia tidak melakukan kekerasan fisik.

Twitter adalah ladang indoktrinasi Felix. Ia adalah influencer yang andal, bahkan mungkin pengaruhnya mengalahkan tokoh-tokoh besar seperti Quraish Shihab, di kalangan pengguna Twitter. Di tengah ketidakmampuan penindakan terhadapnya, indoktrinasi di Twitter adalah masalah serius. Lalu bagaimana cara membuang Felix?

Membuang Felix Itu Ibadah

Jujur saja, kata ‘membuang Felix’ itu sekadar pernyataan retoris. Mau dibuang ke mana pun, karena ia beraksi melalui Twitter, indoktrinasi akan terus berlanjut. Lalu apa yang dimaksud membuang Felix? Tidak lain adalah menjeratnya ke penjara. Tetapi ini juga tidak mungkin, karena ia tidak terlibat tindak pidana. Satu-satunya cara adalah kesadaran kolektif masyarakat bahwa yang namanya Felix, meski dakwahnya halus, itu aslinya penipu, pemfitnah, dan manipulator sejarah.

Sebagai influencer, menyerang Felix akan juga memancing reaksi para pengikutnya. Dan itulah tantangan yang sebenarnya. Ia tidak hanya terkena penyakit, melainkan juga menjadi penyakit kepada yang lain. Rasanya, ini mendesak untuk segera membuangnya, mengamankan negara dari bisul berkopyah. Oleh karena membela tanah air merupakan ikhtiar untuk keamanan dan keberlangsungan dakwah Islam yang benar, membuang Felix menjadi ibadah mencegah kebatilan.

Menghadapi Felix Siauw memang memang membingungkan. Mencintai sesama Muslim itu harus, dan kita tidak boleh membenci Felix karena statusnya sebagai saudara seiman. Tetapi ia suka memprovokasi melalui Twitter, berdakwah ke jalan yang tidak semestinya, dan tidak taat terhadap pemimpin—menentangnya dengan cara yang sangat halus, memperdaya sistem pemerintahan: mengkritik dan menghinanya tetapi sambil mencari selamat dari jeratan hukumnya.

Oleh karena membunuh itu dosa, mungkin jalan terbaiknya adalah, buang saja ke Suriah. Di sana, ia akan bebas menarasikan khilafah dan tidak sendirian. Di sana ia bebas menolak demokrasi, dan bukan lagi urusan kita orang Indonesia. Di sana ia akan berjihad maksimal, bukan hanya menebar provokasi dan fitnah melalui Twitter. Dari lahan-lahan jihad yang sesuai dengan yang diperjuangkan Ustaz Felix Siauw, Suriah adalah solusi terbaik. Maka, ibadah membuang Felix mesti menjadi agenda yang niscaya.

Ahmad Khoiri, Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kebangsaan vs Khilafah Kadrun

Sen Okt 11 , 2021
Khilafah.id – Seringkali berpikir mengapa sebagian manusia kadrun sibuk ingin mengganti ideologi bangsa ini. Apakah dalam benak mereka terselip rasa tak puas dengan falsafah berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia atau malah hanya memuluskan agenda politik mereka dengan berkedok agama? Narasi kebangsaan selalu digerus oleh narasi khilafah. Padahal jika ditelisik lebih […]
Kadrun