Moderasi Beragama dan Penerapannya dalam Mengatasi Radikalisme di Indonesia

Moderasi beragama

Khilafah.id – Gerakan radikalisme dan terorisme berbasis agama merupakan penyebab keprihatinan umat manusia baik secara konteks Indonesia maupun di luar Indonesia. Lahirnya Islam merupakan sebagai agama yang menjunjung tinggi sikap moderasi yang tercantum dalam berbagai ajaran-ajarannya.

Di antaranya selalu ditujukan pada sikap tengah-tengah, moderat, tidak menghendaki sikap berlebihan, fanatik, dan lain sebagainya. Selain itu, konsep moderat pun berlaku dalam ibadah, akidah, etika, hubungan antar manusia, dan hukum. Dengan demikian, sikap fanatik, berlebihan dan hal-hal yang tidak menunjukan moderat, sangat ditentang oleh Islam.

Indonesia adalah negara demokrasi, berbagai perbedaan pendapat dan pemahaman kerap kali terjadi termasuk perihal keagamaan. Di sisi lain, pemeluk agama Islam terbilang mayoritas, maka dari itu para pemeluk agama Islam di Indonesia harus menjunjung nilai-nilai persaudaraan sehingga dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama.

Moderasi adalah inti dari Islam. Islam moderat merupakan paham keagamaan yang sangat relevan dalam konteks keberagaman dalam setiap aspek agama, adat, suku, dan bangsa itu sendiri. Oleh karena itu, pengertian moderasi agama harus dipahami dalam konteks, bukan secara harfiah.

Dalam hal ini, berarti moderasi agama yang dilakukan oleh bangsa indonesia bukan memaksakan agar Indonesia menjadi moderat. Karena masyarakat Indonesia sangat beragam baik budaya, adat istiadat, maupun agama.

Dengan demikian, moderasi beragama ini dapat Menjawab Segala macam masalah agama dan peradaban global, salah satunya kelompok radikal dan ekstrim yang melakukan segala bentuk kekerasan.

Moderasi beragama harus disadari penuh oleh semua golongan agar penerapannya tidak keliru. Moderasi beragama merupakan sikap yang dilakukan oleh individu maupun kelompok yang mengikuti petunjuk kitab suci al-Qur’an dan Hadis Nabi yang diajarkan oleh para ulama yang moderat.

Dalam Islam, konsep wasathiyyah merupakan sebuah konsep yang dijadikan acuan dalam semua gerakan umat Islam, namun banyak yang berusaha masuk ke dalam pusaran ajaran Islam dan mengonstruksi ajaran Islam salah satunya radikalisme (ghuluww).

Islam dengan tegas menolak radikalisme dengan cara apapun. Sikap ghuluww berdampak negatif bagi individu, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia. Sikap ekstrim dalam beragama juga berdampak negatif terhadap agama itu sendiri. Radikalisme (ghuluww) menghancurkan agama dan biasanya menyalahkan Islam.

Konsep Moderasi Beragama

Secara etimologi, istilah moderasi berakar dari bahasa Latin yakni moderatio yang artinya tidak lebih dan tidak kurang. Kata moderation juga dapat diartikan sebagai pengontrolan individu terhadap sikap kekurangan dan kelebihan.

Jika ditarik ke dalam bahasa Arab, istilah moderasi kerap kali disebut dengan wasath atau wasathiyyah yang artinya tengah-tengah. Maka dari itu, kata wasathiyyah diserap ke dalam bahasa Indonesia yang mengandung tiga makna. Di antaranya penengah, pemisah atau pendamai, dan pemimpin dalam suatu pertandingan.

Secara terminologi, moderasi merupakan suatu sikap yang mencirikan seseorang jauh dari sikap ekstrim. Dengan kata lain, sikap moderasi akan menjaga seseorang dari sikap yang berlebihan.  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa moderasi beragama adalah suatu sikap moderat yang dilakukan oleh umat Islam agar terhindar dari paham ekstrem.

Adapun berbagai makna yang terkandung dalam moderasi beragama adalah keadilan, keseimbagan, dan konsisten. Ibnu Manzur menjelaskan keadilan merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dengan lurus.

Ensiklopedia Hukum Islam mengartikan bahwa adil merupakan sikap yang tidak berat sebelah, tidak berpihak ke kiri maupun ke kanan, dan menyenangkan antara kedua belah pihak.

Kemudian, keseimbangan merupakan istilah yang menunjukan sudut pandang, perilaku yang menjunjung tinggi pada keadilan, persamaan, dan keadilan. Sikap seimbang tidak mengartikan sebagai sikap yang tidak memiliki pendapat, namun sikap seimbang merupakan sikap yang tegas dan berpihak kepada perilaku adil.

Keberpihakan sikap seimbang tidak merampas hak orang lain sehingga mereka merasa rugi. Selain itu, seimbang menjadikan seseorang untuk memiliki cara pandang secukupnya. Dengan kata lain, tidak berlebihan dan tidak kekurangan, tidak liberal dan tidak konservatif.

Terakhir konsisten. Menurut Syaid Qutb Konsisten atau istiqomah merupakan perintah yang lurus dan tidak menyimpang. Al-Maraghi menyatakan bahwa konsisten merupakan suatu kata yang memiliki arti luas yang meliputi ilmu, akhlak, dan amal.

Dengan demikian, moderasi beragama merupakan pemikiran dan perilaku konsisten berada di tengah-tengah serta tidak mudah untuk dipengaruhi oleh paham liberal dan ekstrim. Wasathiyyah merupakan perilaku konsisten yang berada pada jalan yang lurus.

Langkah-langkah

Umat Islam di Indonesia saat ini sedang menghadapi dua kecenderungan. Pertama, sebagian umat Islam cenderung bersikap ekstrem dan ketat dalam menafsirkan kitab suci serta berupaya untuk memasukan pahamnya tersebut di tengah-tengah umat Islam, bahkan ketika paham mereka ditolak, mereka tidak segan untuk melakukan kekerasan.

Kedua, sebagian umat Islam lainnya cenderung bersikap senggang dalam beragama, artinya mereka selalu bersikap pasrah kepada persoalan duniawi yang didasarkan pemahamannya terhadap kitab suci dan karya tulis ulama terdahulu. Namun, pemahamannya cenderung tekstual dan tidak melihat historisnya. Sehingga dapat disebutkan bahwa mereka ini lahir di era modern, namun hidupnya didominasi pemikiran kolot.

Islam moderat merupakan golongan yang tidak cenderung ke kiri maupun ke kanan, namun ia berada di tengah-tengah dan harus dipahami sesuai dengan konteks. Islam moderat yang hidup di Indonesia harus dipahami sesuai konteks. Selain itu, pada awal kemunculannya pun bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait Islam progresif dan aktual.

Islam moderat ini telah berhasil menghapuskan Islam dari label-label buruk yang disebabkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Oleh karena itu, sikap moderat dalam beragama harus diaplikasikan di Indonesia, karena Indonesia memiliki banyak budaya dan agama. Quraish Shihab menawarkan langkah-langkah yang cocok untuk menerapkan moderasi beragama di Indonesia.

Pertama, pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber ajaran Islam dengan memusatkan kepada tujuan hadirnya agama dan usaha untuk menyesuaikan antara ajaran-ajaran Islam dan perkembangan zaman.

Kedua, menjalin kerjasama dengan golongan-golongan yang terdapat dalam agama Islam dan menunjukan sikap menghargai kepada perbedaan serta menanamkan nilai perdamaian antar sesama muslim maupun non-muslim. Ketiga, inventarisasi dan menghubungkan antara keilmuan dan keimanan. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan kreativitas materi seperti ekonomi dan moral.

Keempat, Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti hak asasi, keadilan, kebebasan, dan bertanggung jawab. Kelima, menyerukan kepada pembaharuan sesuai dengan ajaran agama. Keenam, memperhatikan perilaku-perilaku yang menjunjung tinggi persatuan bukan perbedaan bahkan perselisihan antar umat.

Ketujuh, memanfaatkan ilmu-ilmu yang diwariskan oleh para pemikir Islam, spiritualitas yang di contohkan para sufi, dan ketelitian para fuqaha. Tujuh langkah tersebut merupakan syarat yang harus diperhatikan dalam menerapkan moderasi beragama di Indonesia sebagai upaya untuk melawan gerakan radikalisme di Indonesia.

Muhammad Adress Prawira Negara, Mahasiswa Magister Studi Agama-agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Politik Moderasi; Beragama Tanpa Menjadi Fanatik Seperti Khilafahers

Kam Nov 3 , 2022
Khilafah.id – Peter Ludwig Berger merupakan seorang profesor sosiologi dan teologi di Universitas Boston Amerika Serikat. Studi-studinya lebih fokus pada sosiologi agama dan sosiologi pengetahuan. Karyanya yang paling populer yakni The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, yang mengulas mengenai bagaimana suatu pengetahuan dapat hadir […]
Fanatik