Pancasila, Khilafah dan Lahirnya Ideologi Teror

pancasila khilafah

Khilafah.id – Ketika mendengar kabar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) berceramah, beberapa waktu lalu, tentang kesesuaian Pancasila dengan tauhid rasanya sebuah kegembiraan. Kenapa tidak, ABB adalah sesepuh dan ideolog yang mempunyai sejarah Panjang tentang penolakan ideologi Pancasila dan sepak terjangnya dalam jaringan terorisme di Asia Tenggara. Persoalan yang selalu dijadikan sumber ideologisasi adalah Pancasila Syirik, Thagut, dan negara Indonesia kafir.

Apakah ada hubungannya antara Pancasila dengan munculnya ideologi teror? Tentu saja iya ! dan itulah awal mulanya. NII muncul sebagai gerakan separatis karena tidak sepakat tentang Pancasila dengan ingin mendirikan negara Islam. Ideologi NII tidak pudar dan menjelma dalam berbagai tokoh dan organisasi turunan dan metamorfosanya. ABB adalah bagian dari sejarah itu.

Apabila kita baca secara cermat sesungguhnya gerakan terorisme di Indonesia yang telah berafiliasi dengan jaringan global mempunyai mimpi utama menegakkan negara Islam, khilafah, dan daulah Islamiyah di masing-masing negara. Indonesia menjadi ladang subur persemaian ideologi ini karena secara historis Indonesia memiliki sejarah pergulatan dan pertentangan ideologi negara dan agama.

Aman Abdurrahman, seorang ideolog gerakan radikal yang didakwa terlibat dalam rangkaian aksi teror mengungkapn hal lugas di muka sidang. Apa penegasannya : Indonesia adalah negara kafir karena hukumnya Pancasila yang tidak berasal dari Allah. Ideologi Indonesia bukan Islam dan menggunakan sistem demokrasi. Hak menetapkan hukum hanya di tangan Allah bukan manusia. Karena itulah menetapkan hukum selain hukum Allah adalah kafir.

Aman mengelak jika dikaitkan dengan anjuran dan ajakan melakukan aksi teror. Namun dengan tegas dia katakana : “Kalau tuduhan bahwa saya mengajarkan mereka untuk bertauhid, bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan lainnya, dan untuk mendukung khilafah, silakan pidanakan sesuai keinginan Anda semua,” tegas Amandalam pembacaan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (30/5/2018).

Mimpi khilafah, Pancasila syirik, negara Indonesia kafir dan sistem demokrasi haram adalah rangkaian satu paket doktrinasi kelompok radikal di Indonesia. Pertanyaanya, apakah ini akan mendorong dan menjelma menjadi ajaran terorisme? Apakah itu hanya keyakinan seperti yang dikatakan Aman dan tidak menganjurkan tindakan terorisme seperti ia mengecam peristiwa bom sekeluarga Surabaya, misalnya ?

Mari kita narasi yang mempengaruhi seorang anak muda Bernama Zakiah Aini (26) yang nekat melakukan penyerangan di Mabes Polri dan menganggap itu bagian dari tindakan mulia. Dari mana anggapan tindakan mulia itu muncul? Dorongan seperti apa yang menyebabkan anak muda dengan percaya diri ingin menyerang aparat penegak hukum?

Dalam surat wasiatnya Zakiah berpamitan dan menitip pesan terhadap keluarganya untuk taat beribadah. Tidak lupa ia menyampaikan narasi ideologis yang ia yakini yang didapatkan dari individu dan kelompok yang sejatinya sama dengan pemikiran Aman Abdurrahman dan tokoh radikal lainnya.

Begini kira-kira petikannya :  “Demokrasi, Pancasila, UUD, pemilu, berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik. Zakiah nasehatkan kepada mama dan keluarga agar semuanya selamat dari fitnah dunia yaitu demokrasi, pemilu dan tidak murtad tanpa sadar. Pesan berikutnya “agar Mama berhenti bekerja menjadi Dawis yang membantu kepentingan pemerintah thogut”.

Jika Aman Abdurrahman atau ABB pada pemikiran awal dulu tidak menyadari dampak doktrin dan keyakinan ideologisasi agama terhadap generasi muda mereka tentu bisa saja lepas tangan. Namun, faktanya, ideologisasi agama dan doktrin tahkim itu telah memakan korban atas nama penolakan Pancasila dan mimpi menegakkan khilafah.

Korban itu bukan Anda sebagai ideolog yang menyebarkan doktrin itu. Mereka yang rindu orang tuanya, yang sayang orang tuanya, dan masih ingin menikmati masa mudanya yang diracuni tentang penolakan Pancasila, haramnya demokrasi, pemerintah thagut dan keinginan menegakkan khilafah. Doktrin itu merusak masa depan generasi muda yang masih ingin tersenyum dengan keluarganya.

Para ideolog radikal hanya tersenyum merasa bangga dengan doktrinnya. Tetapi keluarga anak-anak yang menjadi pengantin itu pedih! Korban bom dari doktrin sesat itu merana dan cacat fisik sepanjang hidupnya. Itukah yang anda sebut sebagai perjuangan menegakkan hukum Allah?

Syaifur Renaldi, Pengamat politik kebangsaan.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Agama Pancasila yang Dibenci Khilafahers

Sen Agu 22 , 2022
Khilafah.id – Pasca kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan, hal yang paling penting dalam menjaga keutuhan bangsa adalah sejauh mana kesetiaan anak-anak bangsa dan para elitnya terhadap budaya, keragaman, dan kesamaan yang telah menjadi warisan luhur. Jika ditelusuri secara mendalam, budaya dan tradisi sarat akan pesan-pesan luhur berbagai agama yang kemudian […]
Agama Pancasila