Sayyid Quthb: Tokoh Organisasi Ikhwanul Muslimin (IM) yang Militan

sayyid Quthb

Khilafah.id – Pada acara diskusi Harakatuna dengan tajuk Focus Group Discussion (FGD) bertema ”Radicalism and the Threat of Khilafahism in Indonesia”, ada seseorang peserta yang hadir tidak kebagian untuk bertanya kepada tiga pembicara, yaitu Mustafa Zahran, Ph.D, Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag., dan Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, Lc., M.Hum. Memang pada waktu itu kesempatan bertanya terbatas disebabkan waktu yang sudah menunjuk jam 12 siang.

Pertanyaan seorang peserta tadi saya coba jawab di sini. Meskipun jawaban ini tidak sesempurna jawaban tiga pembicara tersebut. Pertanyaan pertama, apa dapat dibenarkan cara penukilan tokoh tafsir Indonesia Prof. Quraish Shihab yang mengutip karya tafsir pegiat organisasi Ikhwanul Muslimin Sayyid Quthb? Pertanyaan kedua, bagaimana menanggapi pandangan Ibnu Taimiyah tentang politik berbasis syariat yang berpandangan bahwa hukum negara harus tunduk kepada Al-Qur’an dan sunnah?

Quraish Shihab memang membenarkan bahwa dalam mengutip tidak membatasi ruang. Tapi, yang penting diperhatikan adalah cara Quraish Shihab mengutip. Quraish Shihab selalu berpegang pada nilai-nilai moderasi. Jika yang dikutip tidak bertentangan dengan nilai-nilai moderasi tersebut, pasti beliau kutip. Hal sesuai dengan adagium, ”Unzhur ma qala, wala tabzhur man qala. Lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan”.

Sejauh bacaan saya terhadap karya Quraish Shihab, terlebih buku Tafsir Al-Mishbah, pendapat Sayyid Quthb yang dikutip oleh Quraish Shihab hampir berkenaan dengan sisi sastra bahasa Al-Qur’an. Karena, Sayyid Quthb ini memang tergolong seorang penyair yang banyak bergelut dalam persoalan bahasa. Kalau soal pemikiran harakahnya sama sekali tidak dikutip oleh Quraish Shihab. Terkait perjuangan nilai-nilai moderasi Quraish Shihab banyak mengutip pendapat Fachruddin al-Razy, Thabathaba’iy, dan lain sebagainya.

Ada banyak bukti bahwa Quraish Shihab tidak berpihak kepada ideologi radikal, melainkan berpegang pada ideologi moderat. Quraish Shihab pernah menulis pentingnya mempelajari nilai-nilai moderasi dalam bukunya Wasathiyyah, Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama. Selain itu, Quraish Shihab mendirikan lembaga bernama Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi di tengah-tengah negara plural.

Jadi, tidak jadi ukuran orang yang mengutip karya pegiat Ikhwanul Muslimin dapat disebut berpihak kepada organisasi garis keras ini. Harus dilihat motivasi di balik penukilan tersebut. Quraish Shihab tidak bakal segegabah dalam menukil pendapat seseorang. Jika dipandang pendapat itu bertentangan dengan nilai-nilai moderasi, pasti dibiarkan. Sebaliknya, selagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam tersebut, pasti diterima. Quraish Shihab adalah tokoh tafsir yang sangat terbuka dan berhati-hati dalam menukil sebuah pendapat.

Kemudian, mengenai Ibnu Taimiyah sejauh yang saya pahami motivasinya persis seperti kelompok Islam yang ingin membumikan hukum Islam di tengah-tengah negara tanpa mengubah desain negara tersebut. Gagasan ini dapat diterima jika mengundang perpecahan antar pemeluk agama yang berbeda. Sebaliknya, jika gagasan itu mengundang terjadinya perpecahan, maka sebaiknya ditolak. Karena, persatuan di tengah perbedaan jauh lebih penting dibandingkan menghadirkan sistem berbasis syariat Islam itu.

Demikian jawaban saya terhadap dua pertanyaan peserta yang tidak sempat bertanya langsung kepada tiga pembicara pada acara FGD kemarin. Jawaban saya ini bukanlah jawaban yang sempurna. Masih butuh didiskusikan kembali. Saya menjawab sejauh yang saya tahu. Dan, tentunya jawaban saya masih banyak kekurangannya. Dua pertanyaan ini menarik untuk dijawab langsung nanti ketika acara diskusi semacam itu diadakan lagi. Semoga!

Khalilullah, Penulis dan pengarang buku-buku keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Nasib Moderasi Islam di Era Wahabisasi NKRI

Jum Nov 4 , 2022
Khilafah.id – Baru sepekan setelah Arab Saudi menggelar festival Halloween, masyarakat Islam di seluruh dunia riuh. Banyak yang menganggapnya fenomena akhir zaman, sebagai salah satu tanda kiamat, namun ada juga menyinggung dari sisi inkonsistensi pemerintah: melarang peringatan Maulid Nabi tapi menggelar karpet merah peringatan Halloween. Di Indonesia sendiri, ustaz-ustaz eskatolog […]
Liberalisasi