Sejarah Khalifah Al-Walid bin Yazid dan Jokowi yang Dituding Fir’aun

Walid

Khilafah.id – Al-Walid bin Yazid, masyhur dengan sebutan Al Walid II, adalah salah seorang khalifah Dinasti Umayyah. Naik tahta menggantikan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Al Walid II terkenal dengan perangainya yang tercela, keluar dari nilai-nilai ajaran Islam. Mayoritas khalifah Dinasti Umayyah memang terkenal penyimpangannya terhadap norma-norma agama, namun Al Walid II melebihi mereka semua.

Sebab itu, Al Walid II mendapat julukan “Fir’aunnya umat Islam”. Suatu sebutan yang identik dengan penguasa yang dzalim, jahat dan kejam sebagaimana Fir’aun. Dikatakan oleh Imam Suyuthi, Al Walid seorang yang fasik, pemabuk dan pembangkang syariat Islam. Tindakannya yang paling tercela, saat musim haji dirinya berangkat ke Mekkah tidak untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima tersebut, namun niatnya adalah untuk meminum khamar (minuman memabukkan) di depan Ka’bah.

Ia juga menikahi mantan istri-istri ayahnya, padahal hal itu dilarang dalam Islam. Tak berhenti disitu, mengutip Imam Dzahabi, Imam Suyuthi menyebut Al Walid II pelaku liwath. Demikianlah penuturan Imam Suyuthi dalam Tarikh al Khulafa (sejarah para khalifah).

Imam Thabari dalam kitabnya yang dikenal dengan Tarikh Imam Thabari menjelaskan, pada saat naik haji ia membawa anjing dalam kardus, membawa khamar dan membawa kanopi seukuran Ka’bah yang tujuannya akan menutupi Ka’bah dengan kanopi tersebut, kemudian dirinya akan duduk di atasnya. Prilaku penyimpangan dan kekejamannya yang sangat jauh keluar dari ajaran Islam sehingga umat Islam menjulukinya sebagai Fir’aun.

Bagaimana dengan Jokowi? Apakah prilakunya sama dengan Al Walid II sehingga layak pula dijuluki Fir’aun?

Tentu kita sepakat tidak ada seorang pemimpin selain Nabi yang sempurna, bebas dari kekurangan. Tudingan membabi-buta terhadap Jokowi, menyebutnya sama dengan Fir’aun harus disertai dengan bukti berupa tingkah laku negatif maupun data yang akurat. Harus pula diakui, dibalik keburukan Al Walid II pasti ada kebaikan yang ia lakukan hatta sebesar biji “Dzarrah”.

Tentang Jokowi, kalau dengan penilaian yang jujur, disamping kekurangan yang ia miliki, dengan kasat mata seluruh rakyat Indonesia bisa menilai prestasi kerja Jokowi yang membawa manfaat besar bagi rakyat Indonesia. Lagi pula, Jokowi tidak pernah terang-terangan melakukan pelanggaran fatal terhadap ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh Khalifah Al Walid II.

Menyematkan label Fir’aun terhadap seseorang, apabila berangkat dari sentimen dan faktor kepentingan, malah akan memposisikan dirinya pada martabat rendah melebihi Fir’aun. Syaikh Imam Nawawi Banten dalam Qami’u al Thughyan menceritakan pertemuan iblis dan Fir’aun. Iblis berkata: “Tuan Fir’aun, tuan adalah manusia yang sangat durjana dan durhaka. Tapi, masih ada seseorang yang lebih buruk dari tuan. Tahukah anda siapa orang tersebut”?

Fir’aun menggeleng bertanda tidak mengerti. Iblis melanjutkan: “Orang tersebut adalah pendengki. Ingatlah, sebab kedengkian anda bisa terperosok ke dalam bencana”. Syaikh Syihabuddin dalam kitabnya Al Nawadir juga menceritakan dialog antara Iblis dan Fir’aun. Di penghujung dialog mereka berdua, Fir’aun berkata kepada Iblis: “Tahukah kamu siapa orang yang lebih jelek dan lebih buruk dari kita berdua”? Iblis menjawab: “Adalah orang yang tidak memberi maaf kepada orang yang meminta maaf”.

Dua dialog antara Fir’aun dan Iblis di atas hendaklah menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa ternyata masih ada orang di muka bumi ini yang lebih buruk dan lebih jelek dari Fir’aun dan Iblis. Bisa saya, bisa kamu, bisa kita semua. Supaya terhindar maka harus senantiasa memperbaiki akhlak dan berdoa semoga selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.

Faizatul Ummah, Pemerhati kajian keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Cheng Ho: Islamisasi Nusantara dari Perpaduan Islam dan China

Rab Jan 25 , 2023
Khilafah.id – Di Indonesia, sentimentasi anti China merupakan salah satu konstruksi sejarah paling kejam. Letupan besar dari sentiment itu adalah peristiwa 1998 di mana etnis Thionghoa mengalami kekerasan fisik, verbal dan teror yang sangat luar biasa. Sentimen itu terus berlanjut di alam bawah sadar masyarakat. Kembali memuncak ketika dipolitisasi dalam […]
Cheng Ho