Simbol Kebersamaan dalam tradisi Ancak Agung di Bulan Maulid

ancak agung

Khilafah.id – Di setiap daerah, pasti memiliki cara tersendiri di dalam mengekspresikan kegembiraan dalam menyambut hari kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana, ada tradisi unik yang ada di Situbondo Jawa Timur, yaitu tradisi Ancak Agung yang diselenggarakan setiap tahun guna menyambut Maulid Nabi.

Ancak Agung memiliki pengertian: Ancak berarti (nampan) yang terbuat dari anyaman bambu, atau terbuat dari pelepah Pisang. Sedangkan Agung berarti (kemuliaan yang paripurna) yang mengidentifikasi rasa syukur atas karunia-Nya dengan segala (keagungan Nabi). Ancak Agung berisikan hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran yang dihiasi berbagai macam hiasan, lalu disusun secara melingkar membentuk gunungan.

Tradisi Ancak Agung telah mengakar dan membudaya dalam kehidupan masyarakat Situbondo dan menjadi tradisi turun-temurun yang terus dipertahankan. Bahkan, tradisi tersebut sejatinya tidak hanya memiliki simbol (rasa syukur) atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Akan tetapi, juga menjadi simbol untuk mengikat (kebersamaan) secara harmonis di dalam kehidupan sosial-masyarakat.

Sebagaimana, Ancak Agung diarak bersama sambil melantunkan shalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Lalu, ada semacam tradisi “mengambil berkah” dari tradisi Ancak Agung tersebut dengan saling berebutan berbagai macam buah-buahan serta sayuran yang segar. Bahkan, ada yang menyelipkan uang di dalam susunan Ancak Agung tersebut lalu diperebutkan bersama-sama dengan riang-gembira.

3 Fungsi tradisi Ancak Agung dalam Membangun Kebersamaan yang Harmonis

Tradisi Ancak Agung di Situbondo ini sejatinya memiliki 3 fungsi di dalam membangun keharmonisan sosial. Pertama, sebagai wadah untuk menyatukan masyarakat. Kedua, melahirkan semacam kebersamaan yang mengikat. Ketiga, terbentuknya ikatan sosial yang mengikat.

Pertama, tradisi Ancak Agung ini sejatinya sebagai simbol yang bisa menyatukan masyarakat. Sebab, tradisi tersebut dilakukan dengan iring-iringan bersama membawa (Ancak Agung) yang sudah berisi berbagai macam hasil bumi yang dikumpulkan. Hal demikian menandakan semacam satu simbol kesatuan masyarakat yang mengikat dan tidak boleh ada semacam konflik dan perpecahan satu-sama lain. Sebab, tradisi tersebut memang menjadi satu tradisi leluhur yang berperan penting di dalam menyatukan masyarakat.

Jadi, di situlah letak fungsional dari tradusi Ancak Agung yang tidak hanya sekadar merepresentasikan (rasa syukur) masyarakat atas karunia-Nya. Tetapi, juga menjadi semacam wasilah yang bisa menyatukan masyarakat melalui tradisi tersebut. Karena, dengan tradisi tersebut masyarakat bisa bersatu dan saling menjalin hubungan yang solid satu-sama lain.

Kedua, tradisi Ancak Agung sejatinya akan membangun (kebersamaan yang mengikat). Sebab, tradisi ini tidak dibuat perorangan. Sebab, Ancak Agung dibuat atas dasar kekompakan masyarakat untuk saling menyumbangkan hasil bumi yang dimiliki. Lalu dikumpulkan menjadi satu dan di situlah dibentuk dengan susunan yang rapi seperti membentuk gunungan. Lalu, diarak bersama-sama dan riang-gembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan iringan shalawat Nabi.

Sebagaimana, tradisi Ancak Agung tidak sekadar menjadi hiasan. Tetapi, buah-buahan dan segala isi yang ada di dalam Ancak Agung tersebut akan diperebutkan. Sehingga, di situlah kebahagiaan serta kegembiraan diri menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW mampu berperan sebagai wadah untuk merefleksikan kebersamaan yang mengikat satu-sama lain.

Ketiga, tradisi Ancak Agung sejatinya memiliki peran penting di dalam membangun ikatan sosial. Artinya, tradisi ini akan menjadi satu simbol penting bahwa tidak ada perbedaan suku, kaya-miskin atau segala perbedaan yang mengakar. Sebab, tradisi Ancak Agung mengajarkan kita akan nilai (kesetaraan sosial) di mana, tradisi tersebut menumbuhkan semacam ikatan sosial yang mengikat tanpa memandang sebuah perbedaan latar-belakang tiap-tiap personal.

Saiful Bahri, Pegiat kajian keislaman dan kebudayaan.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Charles Darwin: Kultur Melindungi Negara yang Harus Diteladani

Sel Okt 11 , 2022
Khilafah.id – Charles Darwin (1809-1882) mengungkapkan teori menarik bernama Survival Of The Fittest. Teori tesebut awalnya digunakan dalam ilmu biologi. Namun seiring berkembangnya zaman, teori tersebut mulai diterapkan dalam aspek sosial masyarakat. Dalam teori tersebut, Darwin mengatakan “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan”. […]
Charles Darwin