Spirit Sumpah Pemuda di Tengah Politik Identitas dan Khilafahisme

sumpah pemuda

Khilafah.id – Momen peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tanggal 22 Oktober yang berdekatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober menyiratkan satu kesamaan. Yakni peran kaum muda dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Di tahun 1928, gerakan kepemudaan berhasil menghimpun berbagai organisasi lintas-suku, agama, dan etnis untuk mendeklarasikan sebuah komitmen ihwal tanah air, bangsa, dan bahasa.

Menurut sejarawan Keith Foulcher dalam bukunya Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia, kata kunci dari Kongres Pemuda 2 yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah “persatuan”. Adalah Moh. Yamin, tokoh pergerakan pemuda asal Sumatera yang mencetuskan istilah Sumpah Pemuda di Kongres Pemuda 2. Sebelumnya, Yamin juga berpidato di Kongres Pemuda 1, namun belum mendapat respons positif.

Jika ditarik ke belakang, pergerakan kepemudaan itu dimulai sejak berdirinya sejumlah organisasi. Mulai dari Boedi Oetomo, Perhimpunan Indonesia, Trikoro Dharmo (Jong Java), dan sebagainya. Organsiasi-organisasi itu kemudian bertransformasi menjadi gerakan revolusioner dan menginisiasi munculnya kesadaran terkait nasionalisme. Kongres Pemuda 1 dan 2 bisa dikatakan sebagai bagian dari politik integritas, yakni upaya menyatukan kekuatan untuk melawan musuh bersama yaitu penjajah.

Politik integritas sebagaimana dicontohkan para pemuda angkatan 1928 itu kini mulai memudar. Digantikan oleh fenomena politik identitas. Memang, politik identitas tidak selamanya buruk. Yudi Latif, menyebut bahwa politik identitas itu ada tiga macam, yakni good, bad, dan ugly. Politik identitas yang dikategorikan good adalah yang memperjuangkan kebebasan kelompok dari diskriminasi dan penindasan dengan sikap terbuka (inklusif) pada kelompok lain.

Misalnya, perjuangan kaum minoritas kulit hitam di Amerika Serikat yang mendapat perlakuan tidak adil dari sistem dan pemerintah. Politik identitas yang berkategori bad adalah politik yang memperjuangkan kepentingan golongan namun dengan jalan bersikap eksklusif alias menutup diri dari kelompok lain. Sedangkan politik identitas yang dikategorikan ugly adalah politik mengejar kekuasaan yang mengadu-domba kelompok-kelompok yang berbeda identitas agar tercipta sentimen kebencian dan perpecahan.

Ancaman Politik Identitas dan Fanatisme Keagamaan

Ironisnya, dalam konteks Indonesia, praktik politik identitas yang selama ini berkembang lebih mengarah pada kategori ugly. Alhasil, efek destruktif yang dihasilkan pun mengancam integritas kebangsaan kita. Permusuhan, kebencian, dan perpecahan kini telah menjadi fenomena sosial yang tidak terhindarkan. Inilah salah satu sisi wajah kebangsaan kita.

Di sisi yang lain, wajah kebangsaan kita juga dikotori oleh menguatnya fanatisme keagamaan. Di satu sisi, terjadi peningkatan kesalehan pribadi umat beragama (terutama di kalangan Islam). Namun di saat yang sama, menguatnya kesalehan pribadi itu dibarengi dengan meningkatnya praktik intoleransi dan kekerasan atas nama agama.

Fanatisme agama telah menjadi akar bagi segala tindak kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan agama. Fanatisme telah membuka ruang bagi munculnya radikalisme dan ekstremisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Lantas, bagaimana mengejawantahkan spirit sumpah pemuda di tengah menguatnya politik identitas dan fanatisme agama?

Langkah pertama adalah melepaskan seluruh egoisme pribadi dan golongan (suku, agama, ras, etnis, dan sejenisnya). Di dalam politik, egoisme adalah pangkal munculnya sikap serakah pada kekuasaan yang memunculkan praktik machiavellianisme alias menghalalkan segala cara. Sedangkan dalam konteks keagamaan, egoism ialah akar dari klaim kebenaran yang meyakini bahwa ajaran agamanya paling benar dan menganggap agama lain sesat.

Langkah kedua adalah memahami konsep identitas bukan sebagai unsur pembeda melainkan sebagai simbol budaya yang melekat pada diri individu dan golongan. Pemahaman identitas sebagai unsur pembeda akan menjerumuskan kita pada sikap eksklusif yang destruktif. Yakni sikap merasa identitas dirinya paling istimewa sehingga berhak mendeskreditkan identitas lain.

Sebaliknya, pemahaman bahwa identitas adalah simbol budaya akan melahirkan kesadaran bahwa keragaman identitas sebuah bangsa adalah kekayaan sekaligus modal untuk membangun peradaban.

Mengikis Individualisme, Fanatisme dan Pragmatisme

Langkah ketiga adalah mengedepankan kultur negosiasi dan kompromi untuk mencari titik  temu di antara berbagai kepentingan yang berseberangan. Saat ini, harus diakui bahwa bangsa ini telah diperebutkan oleh kelompok-kelompok yang memiliki beragam kepentingan. Entah itu kepentingan ekonomi, politik, maupun agama. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah lantaran merasa memperjuangkan aspirasi yang benar.

Kepentingan golongan tentu tidak selamanya berkonotasi buruk. Kehendak para pengusaha untuk menguasai sumber-sumber ekonomi adalah hal wajar. Agenda politisi untuk mengejar kekuasaan juga lumrah. Hasrat para agawaman untuk mencari sebanyak mungkin pengikut juga sah-sah saja. Tugas kita adalah bagaimana kepentingan-kepentingan itu tidak mengorbankan keutuhan dan persatuan bangsa.

Sebagaimana pemuda generasi 1928 kita harus meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Aktivitas ekonomi idealnya tidak diorientasikan untuk menumpuk modal di satu golongan, namun mewujudkan kesejahteraan anak bangsa. Kontestasi politik seharusnya tidak menjadi ajang berebut kekuasaan, melainkan sebagai sarana mentransformasikan kepemimpinan. Demikian pula, praktik keberagamaan idealnya tidak didesain untuk unjuk superioritas klaim kebenaran, melainkan untuk memupuk sikap welas asih dan kasih sayang.

Arkian, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini idealnya tidak hanya berakhir menjadi selebrasi tahunan belaka. Namun, bisa menjadi momen peneguhan spirit kolektivisme untuk mengikis sindrom individualisme (sosial) dan fanatisme (agama) serta pragmatisme (politik).

Nurrochman, Penulis keislaman.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bersinergi Melawan Teror Berkedok Agama

Kam Okt 27 , 2022
Khilafah.id – Sejak tahun 2020, terjadi perubahan besar-besaran dan hal-hal yang sifatnya baru mulai muncul di permukaan. Dari kejadian inilah yang melatarbelakangi banyak kalangan menyebutnya dengan era disrupsi. Secara makna, disrupsi diartikan sebagai sebuah masa di mana terjadi perubahan secara signifikan dan inovasi beragam, yang secara fundamental berdampak pada berubahnya […]
Teror Agama