Sterilisasi Ekstremisme Melalui Budaya Gojlokan

ekstremisme

Khilafah.id – Sikap ‘tidak setuju’ terhadap gerakan-gerakan Islam yang non-humanis perlu untuk selalu diupayakan dengan berbagai macam cara, sudut pandang, aksi, dan narasi. Bentuk upaya pencegahan yang semakin beraneka, akan menunjukkan sikap kontra kita terhadap kelompok-kelompok Islam yang non-Pancasilais, anti-demokrasi, dan menentang konstitusi negara.

Gojlokan sering kali kita dengar di berbagai tempat dan forum. Dari forum yang notabene formal atau juga tidak formal. Budaya gojlokan ini menunjukkan sikap humanis di tengah-tengah manusia. Selain itu juga meningkatkan kualitas hubungan interpersonal secara tidak langsung. Untuk mempreteli lebih dalam dan komprehensif terkait upaya tersebut, mari kita simak penjelasannya.

Lahirnya Budaya Gojlokan

Istilah atau budaya gojlokan sudah tidak terdengar asing lagi di telinga para santri. Gojlokan, atau ledekan ini, merupakan suatu lemparan canda yang diarahkan satu orang ke orang lain, dengan maksud bercanda—guyonan. Biasanya untuk sekedar hiburan bukan untuk menjatuhkan apalagi menghinakan derajat orang lain.

Gojlokan ini lahir di tengah-tengah regulasi pendidikan pondok pesantren, sebagai bentuk hiburan antar teman dalam merespons suatu kejadian yang ada. Tidak sembarang orang memiliki kemampuan untuk menerima dan melempar gojlokan. Melainkan, perlu adanya keahlian khusus, kedewasaan mental, untuk mampu mempraktikkan hal demikian. Seorang yang memiliki karakter ‘baperan’ tidak akan mampu berkecimpung dalam budaya gojlokan ini.

Gojlokan memang adakalanya menjadi sesuatu yang menyakitkan, akan tetapi tidak sampai memutus tali persaudaraan antar teman. Justru, ia mampu mengeratkan suatu hubungan persaudaraan. Fenomena ini pasti dan tidak bisa dipungkiri lagi benar adanya. Budaya gojlokan ini jika direlasikan dengan teori psikologi maka akan bertemu dengan teori yang dikemukakan oleh Thedor Adorno dam Max Horkheimer, yaitu tentang reverse psychology.

Bedanya Gojlokan dan Bullying

Gojlokan dan bullying merupakan dua praktik yang sama namun dengan suasana mental dan hati yang berbeda. Jika gojlokan mengarah kepada hiburan dengan niat menggelitik hati teman, bullying tidak demikian. Bullying lebih mengarah kepada tindakan intimidasi yang sifatnya merusak mental dan hati teman. Dua hal ini sama sekali tidak sama. Ekspresi rasa cinta dan kasih sayang antar teman, sering kali diungkapkan dengan gojlokan.

Karena gojlokan ini diperkenalkan dan dipraktikkan secara luas di pondok-pondok pesantren, maka tidak heran jika praktik menggojloki ini juga dipraktikkan oleh para kiainya. Sebut saja Gus Dur. Seorang tokoh nasionalis, pluralis, dan ulama Indonesia ini sangat erat dengan budaya tersebut. Sehingga, Gus Dur memiliki watak yang kuat, kebal akan serangan mental, dan lebih hebatnya tidak tergoyahkan oleh situasi.

Bapak-bapak sekalian, di antara kita ini, agama siapa yanpaling dekat dengan Tuhan? GuDur bertanya serius. Biksu dari Buddha menjawab khusyuk Ya tentu agama kami dong Gus

Lho kok bisa? tanya Gus Dur.

Lha iya to, agama saya menyebut Tuhan dan memanggilkan dengan sebutan Om….Om Shanti, Shanti-Shanti Om…. Mana ada hubungan yang lebih dekat dari om dan ponakan dalam berkeluarga? Biksu Buddha menjelaskan dengan sangat runtut.

Lha ya ndak bisa, wong agama Kami memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa Kok…Tuhan Bapa di surga, berkatilah kami… hubungan bapa dengan anak jauh lebih dekat dong dibandingkan om dengan ponakan…”

Pendeta dari agama Kristen terkekeh

Mendengar jawaban mereka berdua, Gus Dur tertawa terkekeh-kekeh. Seolah ada yang sedang ditertawakan secara serius.

Kanapa kok tertawa Gus?” tanya kedua pemuka agama.

Memangnya kalau agama Gus Dur sedekat apa dengan Tuhan?

Hehehehehe boro-boro dekat dengan Tuhan, wong para pemeluk agama Islam saja kalau mau memanggil Tuhan harus menggunakan toa,….itu kan berarti Tuhan berada di tempat kejauhan sana…hehehehe

Gojlokan tersebut merupakan suatu bentuk dari upaya pendewasaan mental dan batin yang perlu dimiliki oleh orang Muslim. Gus Dur telah memberikan contoh yang sangat bijak dalam hal toleransi beragama.

Kelompok Ekstremis Anti-Gojlokan

Sebagaimana kita ketahui secara luas, bahwa kelompok-kelompok ekstremis dalam agama Islam memiliki sifat yang kolot, fanatik, radikal, dan buta budaya. Maka dari itu, mereka tidak akan mampu mempraktikkan budaya gojlokan yang lahir di pesantren-pesantren Nusantara. Selain itu, mereka juga tidak pantas mendiami Indonesia yang notabene adalah negara plural.

Mereka selalu menyalahkan budaya yang dinilai tidak berada dalam koridor pikiran mereka. Guyonan yang berbau teologi, yang dipraktikkan oleh Gus Dur dengan pendeta dan biksu tersebut pasti tidak akan bisa diterima di benak mereka. Kelompok-kelompok tersebut tidak mencitrakan wajah gembira, hanya muram dan kekerasan yang ada di benak mereka. Karakter yang seperti itu, sungguh tidak pantas apabila dipraktikkan di negara kita tercinta ini.

Budaya gojlokan perlu adanya sikap kelapangan hati, pikiran kritis, dan kedewasaan mental dalam praktiknya. Sedangkan kelompok Islam ekstremis tidak mencerminkan hal tersebut. Mereka tidak mampu mengharmonisasi Islam dengan wajah budaya yang ada.

Gojlokan untuk Kedewasaan Mental

Muslim perlu memiliki kedewasaan hati. Selain untuk mampu menerima ujian dari Tuhan, juga menerima fitrah Tuhan dalam bentuk perbedaan. Salah satu usaha agar watak ekstremis dan radikal tersebut tidak tertanam di hati masyarakat Muslim, adalah dengan mempraktikkan budaya gojlokan yang dicerminkan oleh nilai kepesantrenan.

Tahap awal yang biasanya mempropagandai gerakan Islam ekstremis adalah penolakan terhadap sesuatu yang di luar jangkauan pikirannya. Jika dinilai menyimpang, maka kelompok ekstremis akan menyerang, mengintimidasi, dan memojokkan objek. Hal itu tidak sama sekali mencerminkan wajah Indonesia yang plural dan tolerir. Dengan demikian, kelompok ekstremis yang masih ada di lingkungan budaya Indonesia selalu menjadi virus dan wabah yang meresahkan.

Tidak bisa dikatakan bahwa gojlokan adalah sesuatu yang menyakitkan. Sebaliknya, gojlokan akan semakin mengeratkan hubungan antardua insan atau lebih, yaitu dengan melatih kedewasaan mental, khususnya melatih hati untuk memiliki sifat penerimaan agung terhadap perbedaan. Lebih spesifiknya, budaya gojlokan menjadi upaya yang besar agar masyarakat terhindar dari watak golongan ekstremis Islam.

 

Mahfudhin, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Abdullah Sungkar: Otak di Balik Pergerakan Jama’ah Islamiyah

Sen Jul 8 , 2024
Khilafah.id – Nama organisasi Jama’ah Islamiyah (JI) yang selama ini disebut-sebut menjadi musuh pemerintah karena merupakan organisasi teror di Asia Tenggara, terutama di Indonesia mengumumkan pembubaran diri dan meminta maaf kepada publik. Fakta mengejutkan ini membuat gempar masyarakat, sebab secara logika, publik terus mempertanyakan apa alasan di balik pembubaran tersebut. […]
sungkar

You May Like