Syahrul Munif; Terjebak Bujuk Rayu ISIS dan Khilafah Palsunya

Syahrul Munif

Khilafah.id – Saya Syahrul Munif, asal Indonesia. Saya punya cerita pahit terkait pengalaman saya selama bergabung dengan ISIS di Raqqah Suriah. Ceritanya, saya terjebak sampai saya sadar begitu sudah berhari-hari di Suriah.

Saya berangkat ke Suriah bersama sebuah rombongan yang gimmick-nya ingin menegakkan hak-hak kemanusiaan. Saya langsung percaya, karena membela kemanusiaan adalah sikap yang terpuji. Tak banyak pikir, saya langsung memutuskan berangkat. Saya membatin: Mungkin inilah perjalanan yang bernilai ibadah.

Sayang, begitu saya sudah berhari-hari di Suriah, saya belum menemukan perilaku kemanusiaan yang terpancar dari warga negara Suriah, lebih khususnya masyarakat yang tinggal di Raqqah, tempat ISIS berkuasa. Malahan, saya dihadapkan dengan tindakan-tindakan yang membuat saya terperangah, terkejut, bahkan sampai mengiris hati.

Saya melihat dengan mata kepala sendiri pemenggalan kepala yang dilakukan pemerintah ISIS terhadap beberapa orang yang, saya duga, membangkang terhadap ajaran-ajaran mereka. Kepala yang telah terpenggal dan bergelinding layaknya bola diletakkan di atas pagar. Saya menggelus dada: Sungguh kejam tindakan itu!

Saya mulai ragu dan sadar kalau saya terjebak berada di sana. Saya belum pernah mendapatkan ajaran-ajaran Islam yang melegalkan pembunuhan tanpa alasan yang jelas. Karena, Islam sangat melindungi jiwa manusia. Bahkan, Islam memberikan, jika menggunakan bahasa di pesantren, rukhshah, dispensasi terhadap orang yang terancam jiwa atau keselamatannya.

Tentang larangan pembunuhan, Islam dengan tegas menyatakan dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 93, bahwa siapa saja (termasuk para pembunuh berdarah ISIS) membuhuh orang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam (seburuk-buruknya neraka). Mereka bakal sengsara atau (dalam bahasa anak sekarang) ngenes di neraka. Mereka akan mendapat siksa dan azab yang amat menyedihkan.

Hati saya makin memberontak. Tapi, saya tidak berani memperlihatkan gejolak hati itu dalam bentuk tindakan nyata, semisal, mengkritik, apalagi mencegah langsung tindakan ISIS yang maha zalim dan aniaya itu. “Sok” berani atau bermodal nekad akan mengorbankan diri sendiri. Taruhannya nyawa. Saya hanya berdoa saja: Semoga ada Tangan Tuhan yang dapat mencegah perbuatan tidak manusiawi itu!

Saya belum merasakan harmonisasi hidup di Suriah. Negara ini sering konflik dengan negara lain. Tiada perdamaian yang bersemai di dalam tubuh negara ini. Saya yakin, negara yang dikehendaki Islam, apalagi negara yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw. pada masa dahulu, tidak seperti negara yang digagas oleh ISIS. Negara Nabi Saw. sangat memanusiakan manusia. Terbukti, saat Nabi Saw. menguasai Mekkah, sistem perbudakan yang dinilai tidak memanusiakan manusia akhirnya dihapus.

Selain itu, intimidasi terhadap perempuan yang dilakukan oleh masyarakat sebelum Islam datang akhirnya semakin diminimalisir sampai kemudian tiada tersisa. Semisal, masyarakat sebelum kehadiran Islam gemar mengambinghitamkan perempuan, lebih tepatnya Siti Hawa, karena telah menggoda Nabi Adam melakukan dosa, mencicip buah terlarang atau yang dikenal dengan Buah Khuldi. Islam menyangkal tuduhan sepihak dan tak berdasar itu melalui pesan surah al-Baqarah ayat 35, bahwa yang melakukan dosa bukan Hawa seorang, tapi mereka berdua: Adam dan Hawa. Sehingga, mereka bertobat, menyesali atas perbuatannya.

Saya melihat ketidakstabilan kepemerintahan ISIS terkesan lucu begitu ISIS mendeklarasikan sistem Khilafah. Setahu saya, Khilafah itu adalah sistem internasional yang mencakup atau mempersatukan semua negara. Bagaimana mimpi Khilafah bisa terwujud, wong ISIS sendiri masih sering komplik dengan negara lain, lebih-lebih dengan warganya sendiri. Mimpi menegakkan Khilafah, kalau menggunakan istilah di pesantren, tamanny, mengharapkan sesuatu yang tidak bakal terjadi.

Soal bullshit atau “omong kosong” mimpi Khilafah ISIS, sebenarnya telah disinggung dalam Al-Qur’an tepatnya surah al-Ma’idah ayat 48, seandainya Allah mau, niscaya Dia jadikan semua umat bersatu (alias menggunakan sistem Khilafah). Sayang, Allah melihat hal itu tidak mungkin.

Nah, saya hanya mau bilang begini kepada ISIS: Sudah tinggalkan mimpi dan omong kosongmu soal tegaknya sistem Khilafah. Daripada buang-buang waktu. Nanti kamu bakal menyesal. Satu lagi, saya hanya berdoa begini: Semoga kezaliman ISIS akan dibalas oleh Allah, entah langsung di dunia atau nanti di akhirat! Berkat uluran Tangan Tuhan, saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.

Khalilullah, Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Radikal dan Radikalisme, Khilafah dan Khilafahisme

Ming Apr 24 , 2022
Khilafah.id – Kata radikal, intoleran, ekstremis kembali menjadi salah satu kata yang paling banyak muncul dalam perbincangan atau tulisan di media paska pengeroyokan Ade Armando beberapa waktu lalu. Kata radikal dikonotasikan negatif, bahkan sering dihubungkan dengan ekstrimisme dan terorisme. Walaupun kata radikal sebenarnya bisa juga memiliki konotasi positif. Mengapa demikian? […]
radikalisme