Home / Al-Khilafah / Tokoh / Syekh al-Tayyeb: Antara Chodkiewicz dan Ibnu Arabi

Syekh al-Tayyeb: Antara Chodkiewicz dan Ibnu Arabi

tayeb

Khilafah.id – Suatu hari, saya berbincang tentang tasawuf dengan Dr Yunus Masrukhin, alumni S-3 Universitas al-Azhar, Mesir. Setelah berbincang cukup lama, Yunus memberi saya beberapa referensi. Salah satunya adalah terjemahan karya Michel Chodkiewicz (1929-2020) ke bahasa Arab berjudul al-Walāyah wa al-Nubuwwah ‘inda al-Syekh al-Akbar Muhy al-Dīn Ibn al-‘Arabi.

Penerjemahnya tak tanggung-tanggung: Syekh Ahmed al-Tayyeb, yang sejak 2010 silam menjabat sebagai Grand Syekh al-Azhar.

Kedatangan Grand Syekh Ahmed al-Tayyeb minggu lalu ke Indonesia, yang ceramahnya saya ikuti di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 9 Juli 2024, mendorong saya membaca kembali terjemahan itu. Bagi para pengkaji tasawuf, karya Chodkiewicz tentang doktrin kewalian dan kenabian menurut Ibn Arabi itu memang luar biasa.

Semula ditulis dan terbit dalam bahasa Perancis pada 1986, lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Liadain Sherrard, dan terbit pada 1993. Ketika menerjemahkan ke bahasa Arab, Syekh al-Tayyeb menggunakan versi Perancis dan Inggris ini.

Dalam kata pembuka untuk versi terjemahan Arab tersebut, Michel Chodkiewicz menyatakan bahwa ia mempelajari teks-teks berat karya Ibnu Arabi di bawah bimbingan seorang Muslim kelahiran Eropa bernama Syekh Musthafa ‘Abd al-‘Azīz alias Michel Vālsan (1907-1974).

Chodkiewicz, yang menurut salah satu sumber adalah pengamal tarekat dan telah masuk Islam pada usia 17 tahun, mengaku mempelajari karya-karya Ibnu Arabi secara teratur dan rutin kurang lebih 50 tahun. Hasil kajiannya itu kemudian ditulisnya untuk para pembaca Barat, yang umumnya belum mengenal Ibnu Arabi.

Karena itu, ketika Syekh al-Tayyeb mengatakan ingin menerjemahkannya ke bahasa Arab, Chodkiewicz merasa ragu. Bukankah orang-orang Arab bisa membaca langsung karya-karya Ibnu Arabi? Apalagi, banyak pula tersedia komentar atas karya-karya Ibnu Arabi dalam bahasa Arab.

Namun, Chodkiewicz akhirnya menerima usul al-Tayyeb. Saat terjemahan itu selesai, dia sangat bahagia dan menilai Syekh al-Tayyeb telah berhasil menerjemahkan karyanya itu dengan penuh amanah, dan mampu memindahkan ungkapan Perancis yang paling halus sekalipun ke bahasa Arab.

Kapan dua tokoh ini mula-mula berkenalan? Entahlah. Yang jelas, Syekh Ahmed al-Tayyeb tamat S-3 di Universitas al-Azhar bidang kajian akidah dan filsafat pada 1977. Kemudian pada 1977-1978, dia pernah melakukan penelitian di Universitas Paris, Perancis. Sangat mungkin, pada masa itulah dua tokoh ini mulai berkenalan.

Chodkiewicz sendiri pada saat itu bekerja di sebuah penerbitan bernama Éditions du Seul, dan kelak menjadi direkturnya (1979-1989). Pada 1989-1994, dia mengajar di École des Hautes Études en Sciences Sociales, lalu pensiun, tetapi tetap aktif menulis dan meneliti.

Mungkin sekali, persahabatan dua tokoh ini terus berlanjut hingga Syekh al-Tayyeb menduduki berbagai jabatan penting di Mesir. Dalam kata pengantar untuk terjemahan tersebut bertanggal 6 Jumadil Akhir 1419 / 27 September 1998, tertulis bahwa al-Tayyeb sedang menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar. Ini menandakan bahwa pada saat terjemahan itu diluncurkan, sang penerjemah sudah menduduki posisi penting di dunia akademik dan keulamaan Mesir, dan dengan sendirinya memberikan pengakuan terhadap kualitas karya Chodkiewicz.

Dalam pengantarnya itu, Syekh al-Tayyeb antara lain mengatakan bahwa Ibnu Arabi menjadi tokoh kontroversial dalam Islam karena dua sebab. Pertama, karya-karyanya sangat ensiklopedis, dalam bentuk kitab berjilid-jilid hingga risalah-risalah pendek, baik yang sudah dicetak ataupun masih dalam bentuk manuskrip.

Kedua, sangat sulit bagi kita untuk memahami ungkapan-ungkapan samar dan simbolik yang dikemukakan Ibnu Arabi. Siapapun yang membaca karya Ibnu Arabi, kata al-Tayyeb, akan merasakan perpaduan unik antara nalar, rasa dan Alqur’an dan Hadis.

Dalam perjalanan sejarah, lanjut Syekh al-Tayyeb, tidak sedikit ulama yang akhirnya membid’ahkan, memfasikkan, sampai mengkafirkan Ibnu Arabi, dan yang paling menonjol adalah Ibnu Taimiyah. Di sisi lain, ada pula tokoh-tokoh yang menyanjungnya, seperti Ibnu Hajar al-Haitami dan al-Sayuthi.

Sebagian ulama lagi, yang menyadari akan komitmen Ibnu Arabi pada akidah Ahlussunnah, lebih memilih sikap ‘tawaqquf’, yakni tidak menghakimi benar-salah, melainkan menyerahkan semuanya kepada Allah sambil berbaik sangka kepada tokoh besar ini.

Menurut al-Tayyeb, sikap tawaqquf itu lebih dekat kepada metode ilmiah dan batin agama. Selain Al-Qur’an dan Hadis serta ilmu-ilmu rasional, Ibnu Arabi menyatakan bahwa ada ilmu-ilmu rahasia yang khusus dianugerahkan Allah kepada para Nabi dan wali. Hal-hal yang kontroversial dari Ibnu Arabi tergolong ilmu-ilmu rahasia ini.

Ibnu Arabi tidak mengharuskan orang untuk mempercayai informasi yang diklaim sebagai ilmu rahasia atau penyingkapan ruhani (kasyf), tetapi ia juga mengingatkan agar orang tidak mudah mendustakannya tanpa dalil yang kuat.

Syekh al-Tayyeb memuji karya Chodkiewicz sebagai hasil kajian lebih dari setengah abad sehingga dapat menghapus debu tebal yang menutupi karya-karya Ibnu Arabi dan menunjukkan pemahaman yang tepat. Bagi al-Tayyeb, orang Barat perlu mengenal puncak-puncak keruhanian Islam.

Sebaliknya, kaum Muslim juga perlu mempelajari karya orang Barat tentang Islam, yang tidak menerima atau menolak Ibnu Arabi secara buta. Orang boleh berburuk sangka atau berbaik sangka pada Ibnu Arabi setelah membaca buku ini, tetapi yang lebih utama adalah memahaminya terlebih dahulu.

Demikianlah sikap Syekh Ahmed al-Tayyeb, yang terbuka pada kebenaran, dari manapun asalnya, dan berhati-hati dalam menilai orang lain. Seperti dikatakannya saat kuliah umum di UIN Jakarta lalu bahwa kita tak boleh mengkafirkan ahli kiblat, yang salat seperti kita, dan memakan sembelihan kita.

 

Prof. DR. H. Mujiburrahman, MA, Rektor UIN Banjarmasin.

Tag: