The Reluctant Fundamentalist: Cerita tentang Kebencian terhadap Islam

The Reluctant Fundamentalist

Khilafah.id – Peristiwa 11 September 2001, yang terjadi di Amerika Serikat menyisakan luka mendalam bagi bangsa Amerika dan membuat citra buruk Islam semakin menjadi-jadi. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh para ekstremis Islam, dalam hal ini Osama bin Laden, dkk. Merupakan peristiwa kelam yang tidak bisa dilupakan oleh sejarah Amerika. Menurut Karen Amstrong, peristiwa pengeboman itu membuat Islam sangat dibenci. Islamofobia semakin meningkat. Trauma masyarakat Amerika atas kematian keluarganya, menjadi sebuah dendam yang besar terhadap umat Islam. Tidak heran, beberapa waktu lalu, ketika kematian Al-Zawahiri, pemimpin Al-Qaeda, menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri bagi keluarga korban pengeboman di Amerika Serikat. Sebab al-Zawahiri ikut terlibat dalam aksi September 2001 tersebut.

Mengacu pada kenyataan itu, banyak sekali stigma buruk yang muncul terhadap Islam. Dampak dari stigma tersebut, tidak terkecuali dirasakan oleh Cangez (Riz Ahmed), tokoh utama dalam film The Reluctant Fundamentalist. Cangez merupakan seorang muslim asal Lahore, Pakistan, yang hidup berasal dari keluarga seniman. Mimpinya sangat sederhana. Ia ingin memperbaiki ekonomi keluargannya, kemudian dengan segala usaha dan segenap kesempatan belajar, ia memperoleh beasiswa ke Princeton, kampus ternama di Amerika Serikat.

Setelah lulus dari kampus itu, satu persatu, berhasil mewujudkan mimpinya, ia menata karier dengan sempurna, dan memiliki lingkungan pertemanan kelas menengah atas di New York. Hingga akhirnya, ia juga menyukai seorang perempuan seniman, Erika. Hubungan keduanya terjalin seperti layaknya pergaulan barat pada umumnya. Mereka saling mencintai satu sama lain. Melalui kesan Cangez yang berasal dari Timur, ia adalah sosok yang menarik bagi Erika. Tidak hanya itu, perlakuan Cangez kepada Erika, dengan segala sikap romantic yang diberikan ala orang Timur, menjadi salah satu keunikan besar yang sangat disukai oleh Erika.

Namun, kisah keduanya berubah ketika, pasca terjadi 11 September 2001. Pada saat itu, Cangez sedang melakukan perjalanan bisnis ke Filipina yang diperintahkan oleh atasannya, Jim Cross (Kiefer Sutherland). Tepat pada kejadian itu, Cangez mengalami perlakuan yang cukup tidak mengenakkan, hidup sebagai muslim minoritas yang penuh dengan stigma buruk dan prasangka dari lingkungan sekitarnya.

Ketika kembali dari Filipina, ia memperoleh perlakuan yang tidak nyaman. Perjalanannya justru diduga ada hubungan kuat dengan organisasi teroris al-Qaeda, dibawah pimpinan Osama bin Laden. Sosok Changez dalam konflik ini, menjadi korban trauma dari masyarakat Amerika yang menjadi korban bom bunuh diri oleh kelompo ekstremisme Islam. Peristiwa ini juga berdampak kepada hubungannya dengan Erika. Melalui peristiwa itu, Erika mengalami trauma yang cukup dalam. Pertama, di masa lalu, ia pernah kehilangan kekasihnya akibat kecelakaan yang menimpanya, ketika mabuk. Kedua, ia kehilangan anggota keluarganya melalui peristiwa September 2001.

Cinta Changez dan Erika terbentur realita. Kemapanan yang selama ini menjadi impiannya, tidak berarti apa-apa, karena tidak ada rasa nyaman dan ruang aman bagi dirinya, sebagai seorang muslim yang berasal dari Pakistan. Peristiwa September 2001 ini juga mengakibatkan jarak yang jauh, antara hubungan Barat dengan Timur. Pada level yang lebih jauh, korban yang sebenarnya adalah masyarakat Timur itu sendiri. Mereka tidak tahu asal muasal kejadiannya, bahkan tidak terlibat langsung, akan tetapi mendapatkan stigma buruk dari Barat. Kemarahan, kekalahan, kekesalan, menyatu pada diri Changez. Sebab ia menjadi korban dari kejahatan para teroris yang mengatasnamakan Islam, dan menjadi korban oleh orang Barat yang benci terhadap Islam.

Kegelisahan itu kemudian berlanjut ketika Changez ditugaskan Istanbul, kota Timur yang juga senasib dengan yang lain, terjepit antara Barat dan Timur. Di tengah kegelisahan itu, ia merefleksikan identitasnya dirinya sebagai seorang muslim yang berasal dari Pakistan. Di tengah-tengah kegalauan atas identitas itu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tanah airnya, daripada terus menerus hidup dalam kebingungan dan kegalauan yang berasal dari stigma buruk.

Melalui film ini, penonton diperlihatkan relasi yang muncul pasca 9/11. Changez tampil sebagai muslim yang tidak religius seperti muslim pada umumnya. Namun, ia yang tidak berdosa dipaksa menjadi fundamentalis oleh keadaan. Posisi Islam yang damai semakin hilangn, dimakan oleh stigma buruk dari masyarakat Barat. Kita melihat bagaimana Islam dimata global, melalui sosok personal yang tampil antara Changez dan Amerika. Ia mencoba untuk merelakan semuanya bukan atas dasar dosa yang dilakukan. Kebencian Barat terhadap kelompok Islam tertentu, menjadi menyeluruh kepada setiap muslim. Padahal, peristiwa bejat itu dilakukan oleh segelintir kelompok Islam, dan bukan dari ajaran Islam yang damai itu.

Muallifah, Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hijrah; Antara Hidayah dengan Tren Indoktrinasi Milenial

Jum Agu 26 , 2022
Khilafah.id – Salah satu wacana fenomenal khususnya di kalangan remaja dewasa ini adalah apa yang kita kenal dengan ‘hijrah’. Dalam semua takaran pemaknaannya, baik secara konotatif maupun denotatif, hijrah merupakan yang paling gencar disuarakan. Utamanya di kalangan Muslimah, lumrahnya hijrah diidentikkan dengan perubahan gaya hidup; dari nakal ke sopan, dari […]
Hijrah