Urgensi Mewaspadai Radikalisme-Terorisme di Media Sosial

Radikalisme

Khilafah.id – Media sosial sekarang seakan sudah menjadi dunia nyata bagi kebanyakan orang. Mereka menghabiskan banyak waktunya, hanya untuk bermedia sosial. Menurut Data Book, bahwa masyarakat Indonesia berselancar di media sosial menghabiskan waktu antara 60 menit hingga 180 menit lebih dalam sehari.

Dulu sebelum ada media sosial, untuk mengobrol dengan orang jauh, menggunakan telpon. Karena teknologi sudah semakin canggih, obrolan dengan orang yang jaraknya jauh, bisa menggunakan media sosial, yang hal tersebut tidak hanya suara saja, tapi juga dapat menampilkan video yang terlihat seperti bertemu di dunia nyata.

Karena banyaknya masyarakat yang bermedia sosial, dan menghabiskan banyak waktu di media sosial, maka hal tersebut dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, yang ingin menyebarkan ajaran terorisme, dan radikalisme. Mereka membuat konten yang berisi dakwah yang nantinya mengarah terhadap radikalisme, dan terorisme.

Penyebaran ajaran tersebut di media sosial, sangat mudah, tanpa harus mengeluarkan biaya banyak untuk membuat seminar, pengajian dan lainnya. Cukup dengan membuat konten yang dipoles seakan membawa kebenaran, dan kebaikan kepada banyak orang, padahal di dalamnya ada ajaran berbahaya yang bisa membuat orang menjadi radikal.

Konten-konten yang mengandung radikalisme dan terorisme, sangat susah untuk distop di media sosial, pasalnya konten seperti tersebut, sangat banyak, dan menyamar menjadi konten dakwah yang tentunya disukai banyak orang. Jadi tanpa kita sadari konten-konten radikal kemungkinan pernah lewat dalam fyp kita, atau pernah lewat dalam beranda instagram kita, dan lainnya.

Membuang media sosial dalam kehidupan, untuk menghindarkan diri kita dari radikalisme dan terorisme, sangat sukar dilakukan, karena tanpa media sosial, kita juga akan kehilangan beberapa manfaat positif dari media sosial, seperti update berita terbaru, hal yang viral-viral, terhubung dengan kerabat atau kawan yang tempatnya jauh. Maka kita harus punya cara lain, untuk membentengi diri dari penyebaran radikalisme, dan terorisme yang masif di media sosial.

Pertama, kita harus selektif dalam memilih konten di media sosial. Tidak bisa dielakkan, konten yang menyebarkan paham radikalisme, terkadang lewat di beranda media sosial kita. Kalau bertemu dengan konten seperti ini, segeralah untuk berpindah, atau croll up terhadap konten lain, yang sekirannya tidak menyebarkan kebencian, radikalisme dan terorisme.

Kedua, adalah tidak masalah dengan konten yang bermuatan ajaran kebencian di atas, akan tetapi kita harus menguatkan iman dalam diri, bahwa semua ajaran yang membawa kita terhadap kebencian, permusuhan, atau ketidakbaikan, adalah salah. Prinsip ini harus benar-benar dikokohkan dalam diri kita, agar tidak mudah tergoyah oleh ajaran yang membawa keburukan terhadap diri kita, dan bangsa Indonesia.

Seperti kita tahu, bahwa yang menjadi embel-embel dalam ajaran radikalisme dan terorisme, bahwa apabila kita mengikuti ajaran mereka, akan mendapatkan imbalan pahala yang sangat besar, dan dijanjikan surga.

Modus radikalisme dan terorisme seperti tersebut, bagi orang yang bermedia sosial, dan tidak teguh imannya, bahwa ajaran hanya mengajarkan kebaikan-kebaikan, akan mudah terpengaruh, bahkan akan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan sesuai konten media sosial mereka.

Maka sebagai warga Indonesia yang tidak bisa menghindari media sosial, karena memang sudah keadaan kehidupan yang dipenuhi dengan teknologi canggih, maka kita harus melakukan cara seperti di atas, untuk membentengi diri kita dari penyebaran radikalisme, dan terorisme di media sosial.

Bagis Syarof, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dua Hal Mengapa Bangsa Ini Wajib Melawan Dakwah Pengusung Khilafah

Kam Nov 10 , 2022
Khilafah.id – Indonesia adalah negara yang di dalamnya terdapat aneka ragam perbedaan, mulai perbedaan pemikiran maupun perbedaan agama. Menyikapi perbedaan ini, tentu harus dibarengi dengan pemikiran yang terbuka (inklusif). Sebagai warga negara tidak boleh mengganggu pemikiran dan keyakinan orang lain yang berbeda. Warga negara yang baik harus menghormatinya. Namun, dalam […]
Khilafah