Zionisme Itu Pengikut Dajjal, Bukan Pelanjut Keturunan Nabi Ya’kub

zionisme

Khilafah.id – Menyaksikan kekejaman bangsa Israel melakukan genosida di tanah Palestina, ada pertanyaan, benarkah mereka pemilik jalur nasab keturunan Nabi Ya’kub?

Pertanyaan ini dijawab oleh hasil riset Eran Elhaik yang dimuat dalam jurnal Genome Biology and Evolutions terbitan Oxford, berjudul “The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypotheses,” 5 (1): 61–74.

Bangsa Israel modern adalah keturunan bangsa Khazar. Bangsa yang terdiri dari kumpulan beberapa suku, yakni suku Slavia, Scythian, Hunnic-Bulgaria, Irans, Alans dan Turki. Mereka memeluk Yudaisme.

Zionisme adalah gerakan nasional Yahudi yang muncul pada akhir abad ke-19 dengan tujuan mendirikan dan mempertahankan sebuah negara Yahudi di Tanah Israel atau Palestina. Pendiri gerakan ini adalah Theodor Herzl, seorang wartawan dan penulis Austria-Hongaria kelahiran Hungaria. Ia menyampaikan gagasan bahwa solusi terbaik untuk mengatasi masalah antisemitisme adalah dengan mendirikan negara Yahudi yang bebas di Tanah yang dianggap menjadi tanah warisan masa lalu dari bani Israil.

Berdasarkan hasil riset

Berdasarkan hasil riset ini bisa dinyatakan, kelompok Zionis yang mendirikan negara Israel sekarang bukan keturunan Bani Israil yang disebutkan dalam al Qur’an. Mereka menjadi Yahudi karena menjadi pengikut Yudaisme.

Hasil riset di atas merupakan bantahan terhadap teori Rhineland yang mengatakan, Yahudi yang bermigrasi ke Eropa, terutama ke Polandia dan Jerman, adalah keturunan asli timur tengah. Nasab mereka bersambung kepada Kanaan.

Bani Israil yang disebutkan dalam al Qur’an adalah keturunan Nabi Ya’kub. Sedangkan Zionis yang sekarang mendirikan negara Israel sama sekali bukan keturunan dari Nabi Ya’kub sebagaimana klaim bangsa Israel modern sekarang.

Nabi Ya’kub, sebagaimana termaktub dalam Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, adalah putra Nabi Ishak bin Nabi Ibrahim. Israil sendiri adalah nama lain dari Ya’kub. Dalam al Qur’an Ya’kub dipanggil dengan nama Israil sebanyak dua kali.

Semula, keturunan Ya’kub tinggal di Palestina bagian tengah, kemudian bermigrasi ke suatu desa di gurun Naqab selatan Palestina berdekatan dengan Semenanjung Sinai.

Anak-anak Nabi Ya’kub berjanji dihadapan beliau akan menyembah Allah, serta tunduk dan patuh kepada-Nya. (Al Baqarah: 133).

Yang penting diketahui dari Nabi Ya’kub, beliau bukan pemeluk agama Yahudi melainkan pemeluk agama hanifiyah (agama yang lurus), penganut agama tauhid. Yakni, agama Nabi Ibrahim. Hal ini karena kitab Taurat yang menjadi kitab suci agama Yahudi turun setelah masa Nabi Ya’kub. (Ali Imran: 65-67).

Bani Israil mulai keras kepala sejak dibimbing oleh Nabi Musa. Mereka banyak orang kufur keluar dari agama Nabi Ibrahim. (As Shaffat: 112-113). Kemudian sebagian dari mereka taubat dan kembali kepada agama Nabi Ibrahim (Al A’raf: 156).

Kembali pada tema di atas, apa hubungan Bangsa Israel dengan Bani Israil? Tidak ada hubungan nasab. Yahudi sekarang secara genetik bukan keturunan Nabi Ya’kub yang telah diceritakan. Yahudi sekarang di Eropa biasa dipanggil Jew atau Jewish.

Kata Jew atau Jewish berasal dari Joshua atau dalam bahasa Arab Yoshuwa yang berasal dari kata Yosha. Yosha adalan nama seseorang, yaitu Yosha bin Nun, salah seorang murid Nabi Musa.

Kesimpulannya, Kaum Yahudi yang sekarang mendirikan negara Israel bukan keturunan Bani Israil yang disebutkan dalam al Qur’an. Sehingga klaim teologis terhadap tanah Palestina sebagai tanah yang dijanjikan adalah kebohongan besar. Klaim tersebut hanya alat politik untuk merampas tanah Palestina.

Afrizal Ahmad, Penulis lepas.

Redaksi Khilafah.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Paradigma Islam terhadap Eksistensi Manusia: Konsep Khalifah fi al-Ardh

Rab Nov 22 , 2023
Khilafah.id – Eksistensi bisa dikatakan sebagai salah satu aliran filsafat yang mengulas keberadaan manusia di dunia ini. Aliran tersebut menyatakan bahwa keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda-benda lain. Musababnya karena manusia menyadari keberadaannya, sementara benda-benda lain tidak. Manusia merupakan topik sentral dalam filsafat eksistensi. Banyak hal mendasar ditanyakan dalam filsafat ini. […]
khalifah

You May Like